Ketua MPR RI Ahmad Muzani melakukan kunjungan ziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, pada Jumat (22/5). Dalam kesempatan tersebut, Muzani menyoroti peran sentral Presiden Pertama RI, Soekarno, yang menjadi tokoh Indonesia pertama yang melakukan ziarah ke makam ulama besar tersebut pada tahun 1956.
Muzani menegaskan bahwa hubungan diplomatik dan spiritual antara Indonesia dan Uzbekistan telah mengakar kuat jauh sebelum hubungan resmi kedua negara terbentuk. Kunjungan Bung Karno pada masa lampau menjadi tonggak sejarah penting yang membuka akses bagi umat Islam dari seluruh dunia untuk meneladani dan menziarahi makam Imam Bukhari hingga saat ini.
Selain aspek diplomatik, Muzani juga menggarisbawahi kedekatan historis antara kedua bangsa melalui penyebaran syiar Islam di Nusantara. Ia mencatat bahwa pada abad ke-15, sejumlah ulama dari wilayah Uzbekistan memiliki andil besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa, yang hingga kini jejaknya masih dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Dalam kunjungannya tersebut, Ketua MPR didampingi oleh sejumlah ulama Indonesia dengan tujuan mempererat tali silaturahmi serta memperkuat ikatan sejarah dan keagamaan. Muzani mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat melihat secara langsung naskah monumental Sahih Bukhari yang menjadi kitab rujukan utama bagi umat Islam di Indonesia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kitab Sahih Bukhari merupakan kurikulum utama yang dipelajari di berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi di Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi menggelar tasyakuran atau selamatan setiap kali khatam dalam mempelajari kitab hadis tersebut di setiap tahunnya.
Di akhir pernyataannya, Muzani berharap kunjungan ini dapat menjadi katalisator bagi hubungan persaudaraan yang lebih erat antara umat Islam Indonesia dan Uzbekistan. Ia optimis bahwa ikatan persahabatan ini akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi kerja sama bilateral kedua negara di masa depan.