Agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menewaskan seorang pria Kolombia berusia 26 tahun di Biddeford, Maine, pada hari Senin. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyatakan insiden terjadi saat agen melakukan penyergapan terhadap kendaraan yang mencoba melarikan diri dari alamat terkait perintah deportasi.
Senator Maine Angus King mengungkapkan bahwa Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin menginformasikan penembakan terjadi setelah pengemudi menggunakan kendaraan sebagai senjata terhadap agen. King menambahkan bahwa agen yang terlibat tidak mengenakan kamera tubuh dan awalnya datang untuk menangkap orang lain, bukan korban yang tewas.
Jaksa Agung Maine membuka penyelidikan terpisah dan menyatakan bukti awal menunjukkan pengemudi mencoba melarikan diri menuju arah agen ketika tembakan dilepaskan. Officer yang bertugas kini diberikan cuti administratif. Kantor Inspektur Jenderal DHS dan FBI turut melakukan investigasi independen terhadap peristiwa tersebut.
ICE berada di bawah naungan DHS dan merupakan lembaga penegak hukum federal terbesar yang bertugas menjalankan deportasi. Sejak Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih, administrasinya mengambil peran jauh lebih agresif dalam menangani warga asing. Kelompok hak sipil mengecam operasi yang melibatkan agen bercadar, kendaraan tanpa plat identitas, serta razia besar-besaran di tempat kerja.
Ketegangan memuncak di Minneapolis pada awal tahun ini ketika warga menyebut kota mereka "dikepung" operasi federal yang dimulai sejak Desember lalu. Kekerasan tersebut merenggut nyawa dua warga negara AS, Alex Pretti dan Renee Good, pada Januari dalam penggerebekan imigrasi terpisah. Gregory Bovino, pejabat senior Patroli Perbatasan yang memimpin operasi di Minneapolis, memicu kontroversi setelah membagikan video dirinya berjalan membelah demonstrasi menggunakan mantel gaya militer. Sejumlah pengamat menilai visual tersebut mengingatkan pada estetika fasis.
Operasi penangkapan imigran terus meningkat drastis. Data Deportation Data Project mencatat penangkapan harian ICE sempat turun ke angka 1.057 pada Februari. Penurunan itu tidak bertahan lama karena ICE meringkus sekitar 10.000 orang selama periode lima hari di akhir Juni, atau rata-rata 2.000 per hari. Jumlah penghuni fasilitas tahanan ICE juga meroket mencapai 39.000 orang pada Juni.
Ratusan demonstran berkumpul di Biddeford pada Senin malam membawa spanduk anti-ICE dan menuntut pembubaran lembaga tersebut. Aksi serupa merebak setelah penembakan fatal lain pada 7 Juli, ketika agen ICE menewaskan Lorenzo Salgado Araujo (52) di Houston. Araujo tidak memiliki izin tinggal sah namun sedang mengajukan residensi dan tidak punya catatan kriminal.
Bagi masyarakat Indonesia, eskalasi kekerasan aparat imigrasi di AS menyoroti pentingnya perlindungan warga negara di luar negeri. Kementerian Luar Negeri RI kerap menghadapi kasus warganya yang terjerat persoalan imigrasi, sehingga transparansi dan proses hukum yang adil menjadi krusial. Penggunaan kendaraan tak bertanda serta agen tanpa identitas jelas di AS sejalan dengan peringatan terhadap akuntabilitas kepolisian yang juga relevan di Tanah Air.
Di Indonesia, isu pengawasan berbasis data dan razia ketat kerap memicu perdebatan terkait hak sipil dan privasi. Meski konteks penegakan hukumnya berbeda, tren peningkatan penahanan tanpa prosedur yang memadai berisiko melanggar hak asasi. Masyarakat Indonesia yang mengonsumsi berita global perlu memahami bahwa kebijakan imigrasi ekstrem berdampak langsung pada diaspora dan pelajar yang menetap secara legal di luar negeri.
Maine Immigrants’ Rights Coalition dan kelompok advokasi Presente! menegaskan bahwa pria yang tewas di Biddeford memiliki otorisasi resmi untuk bekerja di AS. Sementara itu, Kedutaan Besar Kolombia menyatakan telah berkomunikasi dengan otoritas Amerika dan memberikan bantuan konsuler kepada keluarga korban.
DHS merilis pernyataan singkat bahwa agen mencoba menghentikan kendaraan yang keluar dari alamat tersebut, lalu melepaskan tembakan karena "khawatir akan keselamatan publik". Pernyataan itu tidak merinci soal senjata atau memastikan apakah korban adalah target operasi semula.
Kematian di Maine merupakan setidaknya kematian kesembilan yang terkait dengan penegakan imigrasi federal sejak Trump mengintensifkan operasi deportasi. Beberapa insiden melibatkan lembaga lain, seperti agen Customs and Border Protection (CBP) yang menembak mati pria menyerang fasilitas Patroli Perbatasan di Texas, serta officer ICE off-duty yang menewaskan pria di California.
Tren penangkapan massal diproyeksikan berlanjut seiring perintah eksekutif yang menargetkan warga asing tanpa dokumen. Tekanan publik terhadap DHS akan meningkat seiring investigasi FBI yang menguak detail penembakan. Demonstrasi akar rumput kemungkinan besar akan terus menghantui operasi ICE di berbagai negara bagian, menguji batas kebijakan imigrasi administrasi Trump.