Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan urgensi Indonesia untuk segera memperkuat daya saing nasional di tengah dinamika perang ekonomi global yang semakin intensif. Menurutnya, pergeseran peta kekuatan dunia saat ini tidak lagi sekadar urusan geopolitik, melainkan telah bermetamorfosis menjadi konfrontasi geoekonomi yang memanfaatkan instrumen perdagangan dan teknologi sebagai alat tekanan.
AHY menekankan bahwa Indonesia harus mampu mentransformasi berbagai tekanan eksternal menjadi peluang strategis. Strategi utama yang diusung pemerintah mencakup akselerasi hilirisasi industri, peningkatan penguasaan teknologi, hingga diversifikasi kemitraan global. Langkah-langkah ini dipandang krusial agar posisi tawar Indonesia di panggung internasional tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain kunci yang memiliki daya tawar tinggi.
Latar belakang dari seruan ini merujuk pada Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum. Laporan tersebut menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai risiko global jangka pendek yang paling dominan, melampaui konflik bersenjata antarnegara. Sebanyak 18 persen responden menganggap ketegangan ekonomi menjadi ancaman nyata yang dapat mengganggu stabilitas perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia secara luas.
Ketegangan antara dua raksasa ekonomi, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok, menjadi pemicu utama ketidakpastian ini. Penggunaan tarif perdagangan yang proteksionis, sanksi ekonomi, hingga restriksi akses teknologi canggih menjadi instrumen yang sering digunakan negara-negara besar untuk mempertahankan dominasi. Fenomena ini menciptakan fragmentasi rantai pasok yang menuntut negara berkembang seperti Indonesia untuk lebih adaptif.
Bagi Indonesia, kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. AHY menyebut bahwa perdagangan, energi, dan rantai pasok kini telah menjadi alat geopolitik. Jika Indonesia hanya bertahan pada pola lama sebagai eksportir bahan mentah, risiko ketergantungan pada pasar global akan semakin besar. Oleh karena itu, peralihan menuju pusat produksi dan inovasi bernilai tambah menjadi harga mati yang harus diperjuangkan.
Analisis mengenai kesiapan domestik menjadi sorotan utama dalam agenda pemerintah. AHY menekankan bahwa efisiensi logistik, penguatan infrastruktur, ketahanan energi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah pilar penyangga daya saing bangsa. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, sulit bagi Indonesia untuk menarik investasi berkualitas yang mampu menggerakkan ekonomi domestik secara berkelanjutan.
Di sektor SDM, tantangan Indonesia masih cukup besar. Data menunjukkan proporsi tenaga kerja berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) masih berada di angka 20 persen. Angka ini perlu ditingkatkan secara signifikan melalui kebijakan pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri masa depan agar Indonesia tidak tertinggal dalam perlombaan inovasi teknologi global.
Keterlibatan akademisi juga dianggap penting dalam merumuskan langkah taktis. AHY mengajak Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) untuk menghasilkan kajian geoekonomi yang tajam. Kajian tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko sekaligus mengidentifikasi peluang investasi strategis yang sesuai dengan kepentingan nasional.
Optimisme tetap dijaga dengan keyakinan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup. AHY menegaskan bahwa produktivitas dan inovasi adalah kunci utama untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas. Pemerintah berkomitmen memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun, termasuk pusat data (data center) dan infrastruktur sumber daya air, mampu mendukung ekosistem ekonomi digital yang tangguh dan ramah lingkungan.
Ke depan, Indonesia diproyeksikan harus lebih gesit dalam melakukan diversifikasi kemitraan. Ketergantungan pada satu atau dua pasar utama harus dikurangi dengan menjajaki peluang di kawasan lain yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Hal ini akan meminimalisir dampak negatif jika terjadi guncangan ekonomi di pusat-pusat kekuatan dunia.
Langkah nyata yang akan diambil pemerintah adalah memastikan pembangunan infrastruktur tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga terintegrasi dalam rantai pasok global. Pembangunan data center, misalnya, bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan langkah strategis untuk menjaga kedaulatan digital sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang menjadi tulang punggung masa depan Indonesia.
Sebagai penutup, AHY mengingatkan bahwa daya saing bangsa adalah akumulasi dari kemampuan kolektif dalam beradaptasi. Indonesia tidak boleh terjebak dalam pola konsumsi semata. Dengan fokus pada industrialisasi dan penguasaan teknologi, diharapkan Indonesia mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan menjadi kekuatan ekonomi baru yang disegani di kawasan Asia maupun dunia.