Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, melakukan pertemuan strategis dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, di Jakarta pada Jumat lalu. Pertemuan ini menjadi langkah konkret dalam mempererat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang lebar bagi ekspansi investasi UEA di berbagai sektor strategis di wilayah Kepulauan Riau (Kepri).
Diskusi tersebut tidak hanya menyinggung hubungan diplomatik yang telah terjalin selama lima dekade, tetapi juga menyoroti keberhasilan operasional perusahaan pangan asal UEA, IFFCO Group, yang telah menanamkan modalnya di Batam. Kehadiran fasilitas pemurnian minyak makan milik PT Synergy Oil Nusantara di kawasan Kabil, Nongsa, menjadi bukti nyata kontribusi investasi UEA terhadap dinamika industri di Kepri.
Bagi Pemerintah Provinsi Kepri, posisi geografis Batam dan sekitarnya adalah aset ekonomi yang tak ternilai. Sebagai pintu gerbang perdagangan internasional, kawasan ini memiliki keunggulan komparatif berupa fasilitas kepabeanan dan perpajakan khusus yang melekat pada status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Keunggulan tersebut terus dioptimalkan untuk menarik minat investor global, termasuk dari Timur Tengah.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat performa impresif Kepri sepanjang semester I-2026. Wilayah ini masuk dalam jajaran tiga besar destinasi investasi asing di luar Pulau Jawa. Realisasi investasi di Batam sendiri tercatat menembus angka Rp40 triliun, yang berkorelasi positif dengan laju pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 7,28 persen.
Angka-angka ini menjadi sinyal kuat bahwa iklim investasi di Batam semakin kondusif. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menyederhanakan birokrasi dan meningkatkan kualitas pelayanan perizinan terpadu, guna memastikan setiap investor asing merasa nyaman dalam menanamkan modalnya di wilayah tersebut.
Namun, fokus pengembangan ekonomi Kepri tidak sekadar mengejar nilai investasi yang masif. Pemerintah menekankan pentingnya multiplier effect yang dihasilkan dari setiap proyek yang masuk. Investasi yang diharapkan adalah yang mampu menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan daya saing industri daerah, serta melibatkan pelaku usaha kecil menengah dalam rantai pasok global.
Sektor pangan dan industri pengolahan menjadi fokus utama dalam pembicaraan tersebut. Mengingat UEA memiliki kapasitas besar dalam teknologi pangan dan logistik, kolaborasi ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan pangan di wilayah Indonesia bagian barat, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai hub industri bernilai tambah tinggi.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa ketergantungan pada investasi asing memang menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan masuknya modal dari negara-negara seperti UEA, transfer teknologi dan standar operasional internasional diharapkan dapat terserap oleh industri lokal. Hal ini penting untuk menjaga daya saing Kepri di tengah kompetisi kawasan regional yang semakin ketat.
Nyanyang Haris Pratamura menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memastikan bahwa kemudahan berinvestasi tetap dibarengi dengan kepatuhan terhadap regulasi lokal. Pendekatan ini bertujuan agar pertumbuhan ekonomi yang dicapai bersifat inklusif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat Kepri secara menyeluruh.
Di masa depan, diversifikasi investasi menjadi kunci. Tidak hanya terbatas pada sektor industri pangan, peluang kerja sama di sektor energi terbarukan dan logistik digital kini mulai dijajaki. Langkah ini sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi hijau di Asia Tenggara, di mana Kepri memiliki potensi sumber daya yang sangat memadai.
Keberlanjutan hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan UEA ini diprediksi akan terus menguat, terutama dengan adanya momentum peringatan 50 tahun hubungan bilateral. Kepercayaan investor UEA terhadap Batam menjadi barometer penting bagi investor global lainnya untuk melihat potensi nyata di Indonesia.
Sebagai penutup, tantangan terbesar bagi pemerintah daerah adalah mempertahankan momentum pertumbuhan ini dengan menjaga stabilitas regulasi. Jika konsistensi dalam memberikan pelayanan publik yang efisien terus dijaga, Kepri dipastikan akan tetap menjadi primadona bagi arus modal asing yang mencari basis produksi yang stabil dan strategis.