Pasar saham Asia melemah pada perdagangan Kamis (8/10) menyusul tekanan di pasar obligasi pemerintah yang kian memburuk. Kondisi ini dipicu oleh gelombang aksi korporasi besar di sektor teknologi yang berlomba-lomba mencari pendanaan jumbo untuk kebutuhan chip kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan-perusahaan raksasa seperti SpaceX, Broadcom, dan Oracle dilaporkan sedang mencari pendanaan miliaran dolar untuk membiayai infrastruktur AI mereka. Broadcom secara spesifik membidik pendanaan sebesar US$50 miliar, sementara SpaceX merencanakan penerbitan utang investasi sebesar US$30 miliar dan pinjaman US$10 miliar. Dana tersebut dialokasikan secara masif untuk membeli chip dari Nvidia.
Lonjakan permintaan utang korporasi ini menciptakan kompetisi ketat di pasar modal, yang secara langsung menekan harga obligasi pemerintah. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah menambah beban pada instrumen Treasury, meskipun lelang surat utang AS bertenor 10 tahun sempat memberikan sedikit napas lega bagi investor.
Sentimen negatif ini merembet ke bursa regional. Indeks Nikkei Jepang terkoreksi 0,9 persen, sementara bursa Korea Selatan turun 0,6 persen. Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang juga mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,1 persen. Investor kini tengah berada dalam posisi defensif di tengah ketidakpastian biaya pinjaman yang terus mendaki.
Nigel Green, CEO deVere Group, memberikan peringatan keras mengenai siklus utang yang terbentuk di sektor teknologi saat ini. Ia menilai terdapat risiko sistemik ketika sebuah perusahaan, dalam hal ini Nvidia, mendanai pelanggan yang membeli produknya sendiri melalui skema kredit. Jika keuntungan yang diharapkan dari implementasi AI tidak terealisasi sesuai proyeksi, beban utang ini akan menjadi bumerang bagi investor global.
Kekhawatiran Green merujuk pada fakta bahwa utang tersebut kini banyak terserap dalam dana obligasi dan dana pensiun masyarakat di seluruh dunia. Artinya, risiko kegagalan bisnis teknologi tidak lagi terbatas pada pemegang saham perusahaan tersebut, tetapi meluas ke portofolio investasi publik yang lebih luas.
Di sisi lain, sektor semikonduktor tetap menunjukkan optimisme fundamental. Samsung Electronics baru saja memproyeksikan lonjakan laba operasional sebesar 783 persen menjadi 107,4 triliun won. Hal ini menunjukkan bahwa belanja modal yang masif untuk AI memang memiliki dampak nyata terhadap pendapatan perusahaan di rantai pasok semikonduktor.
Namun, realita pasar obligasi tetap menjadi momok. Notulensi rapat Federal Reserve menunjukkan mayoritas anggota dewan masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun. Ekspektasi pasar saat ini menempatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember sebesar 80 persen, yang terus menjaga imbal hasil obligasi AS tetap tinggi.
Bagi pasar keuangan Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal penting untuk mencermati pergerakan arus modal asing. Ketika imbal hasil obligasi AS bertahan di level tinggi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar surat berharga negara (SBN) cenderung meningkat karena daya tarik aset berisiko di pasar berkembang menjadi berkurang.
Selain itu, ketergantungan industri global terhadap chip AI yang didanai melalui utang dapat memicu volatilitas pada harga saham teknologi di Bursa Efek Indonesia. Investor domestik perlu mempertimbangkan profil risiko emiten teknologi atau perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap rantai pasok semikonduktor global.
Ke depannya, pasar akan terus mengamati apakah narasi 'AI-driven growth' mampu menutupi beban bunga yang semakin mahal. Jika suku bunga tetap tinggi lebih lama dari perkiraan, perusahaan-perusahaan dengan rasio utang tinggi kemungkinan akan menghadapi tantangan likuiditas yang signifikan.
Strategi investasi yang berfokus pada fundamental perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat akan menjadi kunci di tengah ketidakpastian ini. Investor disarankan untuk tidak hanya tergiur pada narasi inovasi AI, tetapi juga meneliti keberlanjutan model bisnis dan struktur permodalan perusahaan yang berada di garis depan revolusi teknologi tersebut.