CEO Temasek Holdings, Dilhan Pillay Sandrasegaran, menyoroti fenomena arus modal yang sangat besar ke sektor kecerdasan buatan (AI). Dalam pandangannya, besarnya dana yang mengalir saat ini cenderung terkonsentrasi pada lapisan infrastruktur dasar, seperti pengembangan chip dan pusat data, sehingga mengabaikan potensi besar dari sisi adopsi teknologi itu sendiri.
Berbicara dalam panel di ajang Forbes Global CEO Conference, Sandrasegaran menekankan perlunya pemerataan distribusi modal agar inovasi AI tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik. Ia merujuk pada lima lapisan ekosistem AI yang dipetakan oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, yakni energi, chip, infrastruktur, model, dan aplikasi. Saat ini, mayoritas profitabilitas justru dinikmati oleh sektor produsen chip dan memori yang mencatatkan rekor keuntungan historis.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah potensi kenaikan biaya modal akibat tekanan inflasi yang dipicu oleh masifnya investasi di sektor infrastruktur AI. Sandrasegaran mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan di bawah naungan Temasek membutuhkan akses pembiayaan yang efisien untuk transformasi digital dan adopsi AI di masa depan. Jika modal terus terserap habis di sisi infrastruktur, ruang untuk pendanaan aplikasi dan operasional bisnis akan semakin sempit.
Langkah Temasek melepas 82 persen saham di ST Telemedia Global Data Centres kepada KKR dan Singtel senilai S$6,6 miliar menjadi cerminan dari strategi investasi mereka. Keputusan ini diambil bukan karena kurangnya minat pada AI, melainkan karena pertimbangan efisiensi biaya operasional dan manajemen risiko. Sebagai pemilik bisnis, Temasek menyadari bahwa kebutuhan pendanaan untuk ekspansi kapasitas energi dan teknologi data center akan terus meningkat, yang berisiko menekan neraca keuangan jika tidak dikelola dengan rotasi modal yang tepat.
Sementara itu, CEO DBS Group, Tan Su Shan, memberikan perspektif berbeda mengenai pentingnya menciptakan ekosistem adopsi AI yang aman bagi korporasi. Menurutnya, perusahaan harus memberikan ruang bagi karyawan untuk bereksperimen dengan AI di bawah payung tata kelola dan kebijakan yang ketat. DBS sendiri telah menginisiasi lingkungan terkendali bagi stafnya untuk membangun agen AI yang relevan dengan kebutuhan operasional perbankan.
Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, analisis ini memberikan pelajaran berharga. Indonesia saat ini sedang gencar membangun infrastruktur pusat data untuk mengantisipasi lonjakan permintaan komputasi awan. Namun, ketergantungan pada infrastruktur keras sering kali membuat perusahaan lokal melupakan kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi AI secara praktis. Banyak perusahaan di Indonesia terjebak dalam euforia membeli teknologi tanpa memiliki strategi adopsi yang terukur.
Fenomena ketimpangan investasi ini juga relevan dengan kondisi startup di Indonesia. Investor lokal maupun asing yang beroperasi di tanah air kini cenderung lebih selektif. Mereka tidak lagi hanya melihat startup yang membangun infrastruktur, tetapi lebih melirik solusi aplikasi yang mampu memberikan efisiensi nyata. Perusahaan yang hanya mengandalkan bakar uang untuk infrastruktur AI tanpa model bisnis yang berkelanjutan berisiko kesulitan mendapatkan pendanaan di tengah tekanan inflasi global.
Ke depannya, tren investasi AI diprediksi akan bergeser dari sekadar pembangunan perangkat keras menuju solusi berbasis aplikasi yang lebih spesifik. Pemerintah dan korporasi di Indonesia perlu mulai memikirkan bagaimana modal dapat dialokasikan untuk edukasi talenta digital, bukan hanya sekadar belanja server atau chip. Kemampuan untuk mengadopsi teknologi secara cerdas akan menjadi pembeda utama dalam daya saing ekonomi nasional di masa depan.
Sandrasegaran menegaskan bahwa pemikiran strategis mengenai 'hari esok' setelah hiruk-pikuk investasi AI adalah kunci bagi investor institusional. Toleransi risiko yang berbeda antara investor modal ventura dan pemilik bisnis jangka panjang menuntut kehati-hatian dalam merotasi aset. Fokus pada nilai tambah dari adopsi teknologi akan menentukan siapa yang akan bertahan dan berkembang saat fase hype infrastruktur AI mulai mereda.
Secara makro, perubahan pola investasi ini menjadi sinyal bagi para pemain industri di Indonesia untuk mulai melakukan efisiensi. Fokus pada integrasi AI ke dalam alur kerja yang sudah ada, dengan tetap mengutamakan tata kelola data yang ketat, akan menjadi langkah krusial. Tanpa strategi yang matang, perusahaan hanya akan menjadi penonton dalam perlombaan teknologi yang saat ini didominasi oleh raksasa global.