Ada keanehan fundamental dalam cara kita mengukur keadilan hari ini: oleh volume, bukan oleh bobot. DPR memetik 16 undang-undang dalam satu periode sidang seperti panen buah-buahan musiman, dan media mencatatnya sebagai prestasi legislatif. Polisi dengan bangga mengumumkan 49 tersangka ricuh Senayan, lengkap dengan klasifikasi enam klaster peran — seolah keadilan sudah terwujud begitu nama-nama itu tertulis di kertas. Di sisi lain, KPK menyita satu rumah mewah anggota DPRD Bengkulu dan dunia hukum bergeming sejenak. Semuanya terasa seperti ritual: gerakan-gerakan yang benar secara prosedur, tapi kosong secara substansi.
Akuntabilitas Performatif: Hukum Sebagai Rekvisiti, Manusia Sebagai Statistik
Ringkasan
- Kita sibuk merayakan jumlah undang-undang yang disahkan dan tersangka yang ditetapkan, sementara di ujung lain generik mengakui pembersihan etnis, koruptor tinggal sita satu rumah, dan korban gempa tidur di kandang babi.
Mengapa Ini Penting
Kolom ini mengungkap bagaimana institusi-institusi negara telah mengubah akuntabilitas menjadi pertunjukan — banyak aktivitas, sedikit konsekuensi nyata. Perspektif ini krusial karena pembaca perlu sadar bahwa volume output legislatif atau jumlah tersangka bukan indikator keadilan, melainkan seringkali masker untuk menutupi ketidakmampuan sistem menyentuh akar masalah: impunitas struktural, korupsi sistemik, dan pengabaian martabat manusia yang tidak punya suara.
Pertanyaan Umum
Apa isi utama artikel "Akuntabilitas Performatif: Hukum Sebagai Rekvisiti, Manusia Sebagai Statistik"?
Kita sibuk merayakan jumlah undang-undang yang disahkan dan tersangka yang ditetapkan, sementara di ujung lain generik mengakui pembersihan etnis, koruptor tinggal sita satu rumah, dan korban gempa tidur di kandang babi.
Mengapa Kolom Umum ini penting?
Kolom ini mengungkap bagaimana institusi-institusi negara telah mengubah akuntabilitas menjadi pertunjukan — banyak aktivitas, sedikit konsekuensi nyata. Perspektif ini krusial karena pembaca perlu sadar bahwa volume output legislatif atau jumlah tersangka bukan indikator keadilan, melainkan seringkali masker untuk menutupi ketidakmampuan sistem menyentuh akar masalah: impunitas struktural, korups
- Sumber Asli
- Redaksi
- Tanggal
- 1 September 2026
- Waktu Baca
- 1 menit