Nasional

Antisipasi Stunting, Tangsel Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Sejak Awal

Ringkasan

  • Pemkot Tangsel perkuat layanan kesehatan ibu dan anak cegah stunting sejak kehamilan.
  • Wali Kota Benyamin Davnie tekankan intervensi 1.000 HPK sebagai fondasi generasi unggul.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan pemenuhan gizi dan layanan kesehatan bagi calon ibu, ibu hamil, hingga balita. Upaya ini dirancang sebagai benteng pertahanan dini terhadap ancaman stunting yang kerap menghambat pertumbuhan generasi penerus di wilayah tersebut.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa lagi menunggu hingga anak lahir dalam kondisi terlambat. Pencegahan harus digerakkan dari hulu, yakni sejak masa persiapan kehamilan, demi menyiapkan fondasi fisik dan kognitif yang kokoh.

Stunting menjadi persoalan krusial di berbagai wilayah Indonesia karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Anak yang mengalami gagal tumbuh akibat kekurangan gizi pada periode kritis akan menghadapi risiko keterlambatan perkembangan yang sulit dipulihkan.

Di Tangsel, pemerintah daerah menyadari bahwa membangun kota yang kompetitif harus didasari oleh ketahanan kesehatan masyarakat yang prima. Oleh karena itu, pendekatan promotif dan preventif digencarkan agar potensi stunting dapat dipetakan dan ditangani sebelum menimbulkan kerugian permanen bagi keluarga.

Intervensi difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni rentang waktu paling menentukan bagi perkembangan otak dan fisik anak. Rentang kritis ini berlangsung sejak janin berada dalam kandungan hingga anak memasuki usia dua tahun, di mana kebutuhan nutrisi harus terpenuhi secara presisi.

Langkah yang diambil Pemkot Tangsel mencerminkan pergeseran paradigma penanganan stunting di tingkat lokal, dari sekadar penanganan kuratif menjadi pencegahan terpadu sejak dini. Di tingkat nasional, stunting masih menjadi tantangan berat meski angkanya berangsur turun dalam beberapa tahun terakhir.

Kolaborasi lintas sektor yang diterapkan di Tangsel melibatkan tenaga kesehatan, kader Posyandu, TP PKK, hingga perangkat kecamatan dan kelurahan. Model operasional ini relevan untuk direplikasi karena masyarakat terdampak secara langsung melalui peningkatan akses pemeriksaan rutin dan edukasi gizi berkelanjutan.

Keberhasilan program ini kelak akan menentukan produktivitas ekonomi daerah, karena generasi bebas stunting diproyeksikan memiliki kapasitas belajar dan bekerja yang lebih optimal. Kendati demikian, pemerintah daerah mengakui bahwa fasilitas kesehatan saja tidak cukup tanpa kesadaran kolektif warga untuk hidup bersih dan sehat.

"Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, bahkan sejak masa persiapan kehamilan. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan, pemenuhan gizi, serta akses layanan kesehatan yang optimal," ujar Benyamin Davnie.

Ia menambahkan, investasi terbaik untuk masa depan kota adalah menjamin anak tumbuh sehat sejak dalam kandungan hingga memasuki usia emas pertumbuhan. Benyamin mengajak seluruh elemen masyarakat memanfaatkan layanan Posyandu dan fasilitas kesehatan yang tersedia sebagai wujud tanggung jawab bersama.

Ke depan, Pemkot Tangsel akan terus mengintensifkan edukasi kepada calon pengantin mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemberian ASI eksklusif. Pemantauan pertumbuhan anak secara berkala di fasilitas Posyandu juga akan diperluas jangkauannya agar tidak ada balita yang terlewat dari pantauan.

Sinergi antarperangkat daerah diproyeksikan semakin erat guna memastikan intervensi menjangkau keluarga berisiko secara tepat sasaran. Tren penanganan stunting di Indonesia dipastikan akan bergeser makin mengandalkan peran aktif masyarakat dan ketersediaan data mikro yang akurat di level kelurahan.

Mengapa Ini Penting

Penanganan stunting di level kota seperti Tangsel menunjukkan bahwa pencegahan sejak hulu melalui edukasi calon pengantin dan pemantauan 1.000 HPK adalah kunci menekan angka gagal tumbuh nasional. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kader Posyandu hingga kelurahan membuktikan bahwa intervensi mikro lebih efektif daripada kebijakan makro yang terpisah. Keberhasilan program ini akan berkorelasi langsung dengan penurunan beban biaya kesehatan jangka panjang dan peningkatan daya saing SDM lokal di masa depan. Masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan ancaman terhadap produktivitas ekonomi bangsa.

Sumber Asli
Tempo Nasional
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit