Internasional

Argentina yakin meski jadi tuan rumah Piala Dunia, Scaloni optimistis di semifinal

Ringkasan

  • Lionel Scaloni menyatakan Argentina dalam kondisi prima dan tidak khawatir tentang kelelahan saat menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia, meskipun telah melalui babak knockout yang berat.

Lionel Scaloni tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan saat Argentina bersiap menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia. Pelatih berusia 44 tahun itu menegaskan anak asuhnya dalam kondisi prima, meskipun harus melalui babak 16 besar yang melelahkan, termasuk kemenangan adu penalti atas Kaledonia Baru dan comeback dramatis melawan Mesir serta pertandingan panjang selama setengah jam ekstra waktu melawan Swiss yang diperkuat 10 pemain.

"Kami dalam kondisi bagus dan tidak sabar menunggu pertandingan ini. Ini adalah semifinal Piala Dunia, dan harapan kami masih ada. Kami bersyukur kepada para pemain yang telah membawa kami ke tahap ini lagi," kata Scaloni dalam konferensi pers menjelang pertandingan di Atlanta. Pernyataan ini mencerminkan perubahan sikap dari kekhawatiran akan kelelahan menjadi rasa syukur atas perjalanan tim hingga ke tahap ini.

Argentina, yang diperkuat oleh kapten berusia 39 tahun Lionel Messi, harus berjuang keras untuk mencapai babak ini. Mereka dua kali tertinggal sebelum mengalahkan Kaledonia Baru 3‑2 di perpanjangan waktu, lalu bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Mesir 3‑2 di Atlanta, dan kemudian mengalahkan Swiss 3‑1 setelah perpanjangan waktu melawan tim yang bermain dengan 10 orang pada Sabtu lalu.

"Sebulan setengah lalu, saya akan senang jika berhasil mencapai semifinal. Jadi saya tidak peduli bagaimana kami sampai di sini," lanjut Scaloni, yang membawa Albiceleste meraih gelar pada tahun 2022. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak lagi membebani skuad, melainkan menjadi sumber motivasi.

Pertandingan ini juga membawa beban sejarah. Argentina dan Inggris telah bertemu lima kali di Piala Dunia, yang paling terkenal adalah perempat final 1986, di mana Diego Maradona mencetak gol dengan tangan (Hand of God) sebelum mencetak gol spektakuler yang masih diingat hingga kini. "Semua orang masih ingat pertandingan itu, dan penampilan Diego, terutama gol kedua, yang tetap hidup di hati kami karena keindahannya," kata Scaloni.

Ketegangan politik dari konflik Kepulauan Falkland pada tahun 1982 masih membayangi, tetapi Scaloni bersikeras agar hal itu tidak mengganggu pertandingan. "Ini adalah pertandingan sepak bola. Saya tidak akan mencampuradukkan segala sesuatu, terutama hal-hal yang terjadi lama sekali," ujarnya. "Itu adalah masa yang sangat sedih dalam sejarah kami, dan kami tidak bisa berbuat banyak. Ini adalah pertandingan sepak bola; itu saja."

Sementara itu, mantan bek West Ham United itu mengakui bahwa menghentikan bintang Inggris Jude Bellingham dan Harry Kane akan menjadi tantangan besar. Kedua pemain tersebut telah menyumbang 12 dari 13 gol Inggris di turnamen ini. "Kami selalu mencari cara untuk meningkatkan performa dan menetralisir pemain hebat ini dengan cara terbaik. Mungkin kami akan melakukan perubahan, tetapi juga mungkin kami akan bermain dengan tim yang sama," kata Scaloni. "Mereka adalah dua pemain hebat, yang terbaik di dunia. Setiap pelatih akan senang memiliki mereka."

Dari sudut pandang Indonesia, euforia Piala Dunia Argentina ini mengingatkan pada gairah masyarakat terhadap sepak bola di tanah air. Meskipun Indonesia belum pernah mencapai babak semifinal Piala Dunia, pertandingan antara Argentina dan Inggris memicu minat besar terhadap strategi dan dinamika pemain di tingkat tertinggi. Penyiaran langsung pertandingan ini di stasiun televisi lokal dan platform streaming meningkatkan diskusi tentang taktik, kebugaran, dan kedalaman skuad, yang dapat menginspirasi pelatih muda Indonesia untuk merancang program pelatihan yang lebih komprehensif.

Selain itu, pertandingan ini menyoroti pentingnya mengelola kelelahan pemain, sebuah tantangan yang juga dihadapi oleh kompetisi domestik Indonesia seperti Liga 1. Pendekatan Scaloni dalam mengelola skuad yang menua, dengan mempertimbangkan pengalaman Messi dan pemain senior lainnya, dapat menjadi pelajaran bagi tim nasional Indonesia yang juga memiliki banyak pemain di atas 30 tahun.

Teknologi juga memainkan peran penting. VAR (Video Assistant Referee) telah menjadi bagian integral dari keputusan wasit, mirip dengan sistem yang diadopsi oleh PSSI dalam beberapa tahun terakhir. Transparansi teknologi ini meningkatkan kepercayaan penggemar, sebuah pelajaran yang dapat dipetik oleh otoritas sepak bola Indonesia saat mereka mempertimbangkan penerapan teknologi untuk wasit dan analisis data pemain.

Di luar lapangan, pertandingan ini memperkuat posisi Argentina sebagai salah satu tim terkuat di dunia, yang dapat meningkatkan daya saing mereka dalam kualifikasi Piala Dunia 2026. Bagi Indonesia, keberhasilan Argentina dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan performa di kawasan AFF dan kualifikasi Piala Asia, dengan menunjukkan bahwa disiplin, kedalaman skuad, dan pengalaman bertarung di tingkat tertinggi dapat menghasilkan hasil yang konsisten.

Scaloni mengakhiri konferensi persnya dengan pernyataan yang sederhana namun meyakinkan: "Ini adalah semifinal Piala Dunia. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya fokus pada pertandingan ini." Sikap positif ini tidak hanya mempersiapkan tim secara mental, tetapi juga memberikan pesan inspiratif kepada penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bahwa keyakinan dan kerja keras dapat membawa tim ke tahap tertinggi kompetisi global.

Langkah selanjutnya bagi Argentina adalah pertandingan semifinal melawan Inggris pada hari Rabu, dengan harapan untuk mencapai final dan mempertahankan gelar mereka. Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertandingan besar, ada dedikasi, strategi, dan narasi yang dapat menginspirasi generasi berikutnya dari penggemar dan praktisi sepak bola.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan Argentina di semifinal dapat memperkuat posisi mereka menjelang Piala Dunia 2026, sementara di Indonesia, pertandingan ini memicu minat terhadap pengelolaan kelelahan pemain dan penerapan teknologi VAR yang dapat menginspirasi perbaikan di Liga 1 dan tim nasional. Selain itu, cerita tentang skuad yang menua namun berpengalaman memberikan pelajaran berharga bagi negara dengan populasi pesepakbola berusia matang seperti Indonesia.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit