Petenis peringkat satu dunia, Aryna Sabalenka, memberikan pembelaan terhadap aksi protes yang dilakukan oleh sejumlah atlet papan atas terkait besaran hadiah uang di ajang Grand Slam Wimbledon. Meskipun pihak penyelenggara telah menaikkan total hadiah secara signifikan sebesar 20 persen tahun ini, para atlet merasa porsi yang diberikan masih belum mencerminkan proporsi pendapatan turnamen yang adil.
Sabalenka, yang saat ini didampingi oleh mantan kepala eksekutif WTA, Larry Scott, menegaskan bahwa perjuangan ini bukan demi kepentingan pribadi para atlet elit. Fokus utama dari tuntutan ini adalah meningkatkan kesejahteraan pemain secara keseluruhan, terutama bagi mereka yang berada di peringkat bawah dan kesulitan membiayai operasional dasar seperti menyewa pelatih profesional.
Total hadiah Wimbledon tahun ini mencapai 64,2 juta poundsterling, yang setara dengan sekitar 15 persen dari total pendapatan turnamen. Angka ini masih berada di bawah tuntutan para pemain yang menginginkan porsi sebesar 16 persen atau sekitar 70 juta poundsterling. Sebagai bentuk protes, Sabalenka dan rekan-rekannya melakukan aksi pembatasan tugas media sebelum turnamen dimulai, sebuah langkah yang serupa dengan yang mereka lakukan di French Open sebelumnya.
Menanggapi kritik bahwa atlet kaya tidak seharusnya mengeluhkan masalah uang di tengah kenaikan harga tiket dan biaya hidup masyarakat, Sabalenka menegaskan bahwa tindakan ini dilakukan demi masa depan tur tenis. Ia menekankan bahwa kehidupan sebagai petenis dengan peringkat rendah sangatlah sulit, dan mereka memerlukan dukungan finansial yang lebih memadai agar dapat terus berkompetisi secara kompetitif di level profesional.
Di sisi lain, pihak All England Club menyatakan kekecewaan mereka terhadap aksi protes tersebut. Penyelenggara mengklaim telah mengalokasikan kenaikan hadiah terbesar dalam sejarah turnamen, di samping investasi ratusan juta poundsterling untuk peningkatan fasilitas pemain sebagai bagian dari transformasi tiga tahun untuk menciptakan lingkungan performa kelas dunia.
Pihak penyelenggara juga menyebutkan bahwa tawaran mereka untuk membentuk dewan pemain guna menyelesaikan permasalahan ini telah ditolak oleh kelompok atlet tersebut. Hingga saat ini, Sabalenka berharap agar kedua belah pihak dapat segera duduk bersama dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan sehingga aksi protes serupa tidak perlu dilakukan kembali di masa depan.