Amerika Serikat bersama sekutunya baru-baru ini meningkatkan kehadiran militer di kawasan Indo-Pasifik melalui serangkaian latihan perang yang digelar secara simultan. Salah satu langkah strategis yang mencuri perhatian adalah pengerahan pasukan elite terjun payung Jepang di provinsi paling utara Filipina, Batanes, yang berhadapan langsung dengan Taiwan. Meskipun latihan ini dilakukan dengan profil rendah, para pengamat menilai langkah tersebut sebagai bagian dari fase baru kebijakan pertahanan rantai pulau pertama Amerika Serikat.
Latihan yang dikenal sebagai Kamandag ini melibatkan sekitar 2.000 personel dari korps marinir Amerika Serikat dan Filipina. Fokus utama dari operasi ini adalah meningkatkan kesiapan tempur, interoperabilitas antar-negara, serta efektivitas pertukaran intelijen di wilayah yang secara geografis sangat krusial bagi keamanan regional. Kehadiran pasukan Jepang dalam latihan ini menjadi sinyal kuat mengenai semakin eratnya koordinasi keamanan antara Tokyo, Manila, dan Washington.
Secara bersamaan, Tokyo dan Washington juga tengah melangsungkan latihan Resolute Dragon 2026 yang berpusat di Kyushu dan Okinawa. Dengan melibatkan sekitar 9.000 personel, latihan ini secara spesifik dirancang untuk menguji kemampuan pertahanan di pulau-pulau barat daya Jepang. Hal ini menunjukkan komitmen serius AS dalam memperkuat pertahanan sekutunya di tengah ketegangan yang terus meningkat di Laut Tiongkok Timur.
Di wilayah yang lebih jauh ke timur, latihan skala besar bertajuk Valiant Shield 2026 sedang berlangsung di Guam dan Kepulauan Mariana Utara. Latihan ini melibatkan 10.000 personel dan menjadi catatan sejarah karena untuk pertama kalinya sistem rudal jarak menengah Typhon milik militer Amerika Serikat dikerahkan dalam simulasi pertempuran nyata. Pengerahan teknologi ini dianggap sebagai pesan deterensi yang signifikan terhadap kekuatan militer lawan di kawasan tersebut.
Sementara itu, di Hawaii, latihan dua tahunan Rim of the Pacific (RIMPAC) terus berlanjut dengan skala yang jauh lebih masif. Melibatkan lebih dari 25.000 personel dari 31 negara, latihan ini bertujuan memperkuat kerja sama maritim internasional. Fokus utama RIMPAC adalah menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, sekaligus memastikan jalur perdagangan laut tetap aman dari segala bentuk ancaman militer.
Secara keseluruhan, rangkaian latihan militer ini mencerminkan strategi pertahanan kolektif Amerika Serikat yang semakin agresif dalam merespons dinamika geopolitik di Asia. Dengan menggelar operasi di berbagai titik secara bersamaan, AS ingin menunjukkan kepada Tiongkok bahwa mereka memiliki kapasitas logistik dan taktis untuk merespons krisis di berbagai front secara cepat, terkoordinasi, dan terintegrasi.