Internasional

AS Serang Iran Malam Keenam, Teheran Balas ke Enam Negara Teluk

Ringkasan

  • AS melancarkan gelombang serangan keenam beruntun ke Iran selatan, mematikan delapan orang; Iran membalas dengan rudal dan drone ke Bahrain, Qatar, Oman, Yordania, Suriah, dan Kuwait.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi penyerangan besar-besaran ke Iran pada pukul 01:40 GMT Jumat, menandai malam keenam berturut-turut Washington menembak posisi Teheran. Media Iran melaporkan enam jembatan di Provinsi Hormozgan, sebuah stasiun kereta api, dan jaringan listrik di Bandar Abbas jadi sasaran, menewaskan minimal delapan warga dan melumpuhkan aliran listrik di wilayah selatan.

Balasan Teheran datang cepat. Korpas Revolusioner Islam (IRGC) mengklaim gelombang ke-13 serangan balas dendam sejak hostilitas meledak kembali, menembak basis AS dan aset strategis di enam negara Teluk sekaligus. Qatar mengonfirmasi proyektil Iran ditembak jatuh, meski satu anak terluka amblas di Doha. Yordania menembak jatuh tiga rudal tanpa korban jiwa. Oman melaporkan radar kontrol udara AS di Ghanim dan radar maritim di Selat Hormuz dihancurkan, sementara tanker terkena proyektil tak dikenal di perairan dekat Khasab.

Eskalasi ini pecah hanya berbulan-bulan setelah kedua pihak duduk di Swiss pada 22 Juni untuk negosiasi 60 hari. Sejak itu, AFP mencatat 38 orang tewas dan lebih 400 luka di sisi Iran akibat serangan AS. Jembatan-jembatan vital di Hormozgan — termasuk Gariveh yang menghubungkan Bandar Abbas ke Khmeir dan Lara — rusak parah, mengancam aliran logistik dan ekspor minyak melalui selat strategis itu.

Selat Hormuz, saluran 20 persen pasokan minyak dunia, kini jadi medan tarung. Pembicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan selat "tak akan kembali seperti sebelum perang 40 hari", menuding AS mengacaukan keamanan jalur laut. Kerusakan radar di sisi Oman dan Iran memperparah ketidakpastian navigasi, memaksa armada tanker mempertimbangkan rute alternatif yang lebih mahal dan lambat.

Dampak ke Indonesia nyata. Sebagai importir minyak mentah dan produk petrokimia berskala besar, Jakarta rentan terhadap kejanggalan harga dan pasokan. Kenaikan premi asuransi laut di Selat Hormuz akan naikkan biaya impor BBM dan pupuk, tekanan tambahan bagi anggaran subsidi energi. Ribuan TKI di Qatar, Oman, Kuwait, dan Bahrain juga terancam keselamatan — Kementerian Pekerja Migran sudah mengeluarkan imbauan waspada.

Di sisi diplomasi, komentar Wakil Presiden AS JD Vance di podcast Joe Rogan menambah lapisan kompleksitas. Vance mengaku yakin ada pejabat Israel yang mencoba menggeser kebijakan AS agar kampanye militer berlanjut, bukan diplomasi. Pernyataan itu langka dari pejabat tinggi Washington dan sinyal retak di sumbu AS-Israel soal strategi Iran.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab — yang belum jadi sasaran langsung — memantau ketat. Riad khawatir escalation merambat ke fasilitas Aramco, ingat serangan drone 2019. Sementara itu, Irak dan Libya menutup ruang udara sementara, gangguan penerbangan komersial ke Timur Tengah meluas.

Analis keamanan menilai AS menargetkan infrastruktur transportasi dan energi untuk melumpuhkan kapasitas Iran menopang proksi di wilayah, tapi risiko miscalculation tinggi. Serangan ke radar di Oman — negara netral yang sering jadi mediator — bisa menarik Muskat ke dalam konflik. Iran memanfaatkan narasi "pertahanan diri" untuk memobilisasi dukungan domestik di tengah tekanan ekonomi.

Langkah depan: CENTCOM belum detailkan sasaran malam ini, tapi pola menunjukkan kampanye "degradasi sistematis" — jembatan, radar, listrik, lalu basis udara. Iran kemungkinan akan lanjutkan doktrin "satuan medan": rudal presisi ke basis AS, drone ke infrastruktur Teluk, dan ancaman tutup Selat Hormuz. Kunci deeskalasi ada di meja Swiss: apakah kedua pihak mau kembali sebelum 22 Agustus?

Bagi Indonesia, diplomasi multilateral lewat OKI dan Gerakan Non-Blok jadi saluran untuk mendesak jeda senjata. Secara domestik, Pertamina dan BUMN energi harus siapkan skenario darurat: diversifikasi sumber impor, stok pengaman BBM 30 hari, dan koordinasi dengan Asosiasi Pelaut Indonesia untuk rute aman. Kestabilan Selat Hormuz bukan urusan Timur Tengah semata — itu tagihan BBM di pom bensin Jakarta.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi ini mengancam 20% pasokan minyak dunia yang lewat Selat Hormuz, berdampak langsung ke harga BBM dan pupuk di Indonesia. Ribuan TKI di enam negara Teluk berada di zona tembak. Komentar JD Vance tentang tekanan Israel membuka kemungkinan pergeseran kebijakan AS yang bisa memanjangkan perang. Indonesia harus siapkan diplomasi multilateral dan diversifikasi impor energi sebelum krisis meluas.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit