Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi peluncuran serangan tambahan ke Iran pada Selasa (14/7), menargetkan pos-pos pasukan penjaga perbatasan di Hormozgan dan Sirik. Serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang digunakan untuk menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuding serangan itu sebagai "kejahatan perang baru" dan menyebut korban tiga orang dari keluarga Javad Hasanzadeh, seorang penjaga hutan. Baghaei menegaskan daftar pelanggaran AS terhadap rakyat Iran semakin panjang setiap harinya.
Latar belakang terbaru adalah nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran dari semua front, menghormati kedaulatan, dan tidak mencampuri urusan internal. Namun, catatan menunjukkan AS telah beberapa kali melanggar MoU, termasuk menargetkan infrastruktur sipil yang dikategorikan kejahatan perang.
Menurut pernyataan CENTCOM, IRGC telah menyerang tujuh kapal komersial selama pekan lalu, menyebabkan hampir selusin anggota kru sipil tewas, hilang, atau terluka. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menegaskan Iran juga meluncurkan puluhan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.
Ketegangan regional semakin memanas. China mendesak AS dan Iran segera membuka kembali Selat Hormuz, sementara Saudi Arabia dan Houthi Yemen saling menyerang di tengah eskalasi ini. Dinamika ini memperrumit upaya diplomasi multilateral di Timur Tengah.
Selat Hormuz mengatur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan aliran tanker akibat konflik langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Indonesia, sebagai negara importir neto minyak, merasakan dampak melalui tekanan anggaran subsidi bahan bakar dan melemahnya rupiah.
Pertamina dan importir swasta sudah memantau perkembangan harga spot serta mencari rute alternatif. Kenaikan biaya flete akibat pengalihan armada tanker juga menambah bebas logistik ekspor sawit, batubara, dan produk manufaktur Indonesia ke pasar Timur Tengah dan Eropa.
Baghaei menyatakan, "Setiap harinya, Amerika menampakkan lapisan baru permusuhannya terhadap Iran." Di sisi lain, Laksamana Cooper menegaskan serangan AS bertujuan "melindungi kebebaran navigasi dan keamanan kru sipil" di selat strategis tersebut.
Ahli geopolitik menilai siklus balas dendam ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, mengingat keterlibatan kekuatan regional dan global. Saluran diplomasi, termasuk peran PBB dan negara-negara Teluk, tetap rapuh dan belum menghasilkan titik temu yang konkrit.
Proyeksi minggu depan menunjukkan kemungkinan serangan lanjutan dari AS jika Iran terus menembakkan rudal ke kapal dagang. Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, diharapkan mendorong pernyataan ASEAN yang menuntut penurunan eskalasi dan penghormatan hukum laut internasional.
Kesimpulannya, meskipun terjauh ribuan kilometer, ledakan di Hormozgan berimplikasi nyata pada keamanan energi dan perdagangan Indonesia. Pemantauan ketat terhadap harga minyak, nilai tukar, dan kebijakan pertahanan regional menjadi prioritas bagi pembuat kebijakan di Jakarta.