Asap kebakaran hutan dari Kanada menyelimuti wilayah timur Amerika Serikat sehari jelang final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di New Jersey, Minggu (19/7). Kondisi udara memburuk memicu pembatalan belasan acara publik, namun prakiraan cuaca memperlihatkan langit cerah saat pertandingan puncak berlangsung.
Badai yang melintasi New York City pada Sabtu sore dan malam membawa hujan deras serta risiko banjir bandang singkat di kawasan perkotaan. Hujan tersebut mendorong kepulan asap tebal ke arah utara sehingga kualitas udara di New Jersey dan sekitarnya membaik menjelang Minggu pagi. Suhu pada saat laga diperkirakan berada di kisaran 27–29 derajat Celsius dengan langit cerah, meski sisa asap tipis masih mungkin tampak di ketinggian.
Kepulan asap pekat itu berasal dari ratusan titik kebakaran hutan di Kanada yang sejak pekan lalu mengirimkan partikel halus melintasi perbatasan. Angin dominan dari utara membawa polusi udara ke wilayah Midwest, Northeast, hingga mid-Atlantic. Lebih dari 100 juta penduduk di lebih dari selusin negara bagian terpapar udara tidak sehat pada Jumat (17/7).
Milwaukee, Chicago, dan Detroit mencatat kualitas udara terburuk di AS pada Jumat pagi. Chicago bahkan mencatat rekor kualitas udara terburuk dalam sejarah pencatatan kota tersebut. Peringatan kesehatan dikeluarkan pemerintah kota, termasuk imbauan menggunakan masker N95 atau KN95 bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Dampaknya meluas ke sektor hiburan dan olahraga lokal. Pawai bayi di Flint, konser rock di Herndon, dan maraton America's Mile di Pittsburgh dibatalkan pada Jumat. Taman hiburan Kennywood dan Sandcastle Water Park di Pennsylvania tutup sementara. Laga baseball Cleveland Guardians melawan Pittsburgh Pirates serta RowFest National Championships di Michigan juga ditunda.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya gelaran olahraga berskala global terhadap krisis iklim. Piala Dunia 2026 digelar bersama AS, Kanada, dan Meksiko, sehingga cuaca lintas negara langsung berpengaruh pada kelancaran turnamen. Indonesia yang kerap dilanda kabut asap akibat kebakaran lahan memiliki pengalaman serupa, meski sumber dan pola anginnya berbeda.
Komunitas rentan menanggung beban paling berat. Dinas Kesehatan Detroit membagikan masker gratis, sedangkan Philadelphia memperingatkan seluruh warga akan risiko paparan asap. Di Washington DC, kolam renang dan taman air luar ruangan ditutup, sementara aktivitas pemerintah di luar ruangan dibatalkan. Tunawisma menjadi kelompok paling rawan dehidrasi dan gangguan pernapasan.
Jerrel Gilliam, direktur eksekutif lembaga nirlaba Light of Life Rescue Mission di Pittsburgh, menyatakan timnya lebih sering memeriksa tunawisma dan membagikan masker dalam paket kebersihan. "Menjadi tunawisma makin berbahaya di cuaca seperti ini karena dehidrasi," ujarnya. Dokter paru di Ohio, Megan Conroy, memprediksi lonjakan pasien asma sepanjang akhir pekan hingga pekan depan.
Warga DC, Abigail Nguyen, batal menonton siaran publik Piala Dunia di National Mall bersama ribuan penggemar. Ia memilih menonton di rumah bersama teman serumah demi menghindari paparan asap. "Kita seharusnya merayakan acara musim panas ini, bukan terkurung di dalam rumah," keluhnya.
Erin Cotton, ibu dua anak di Washington DC, baru menyadari bahaya asap saat matanya perih dan anak-anaknya mengeluh gatal. Ia membandingkannya dengan pengalaman hidupnya saat Kebakaran Palisades di California tahun lalu. Cerita itu mencerminkan kecemasan warga yang terbiasa dengan udara bersih namun tiba-tiba terancam bencana lintas batas.
Persiapan final Piala Dunia tetap berjalan meski asap tipis diperkirakan masih menyisakan kabut di ketinggian. Federasi sepak bola setempat memastikan protokol kesehatan penonton disiapkan jika kualitas udara memburuk kembali. Sistem ventilasi di stadion dan area fan zone menjadi perhatian utama panitia.
Tren kebakaran hutan ekstrem di Amerika Utara diproyeksikan berlanjut tiap musim panas seiring pemanasan global. Gelaran olahraga internasional ke depan perlu menyertakan mitigasi bencana iklim dalam perencanaan logistik dan keselamatan penonton. Final Piala Dunia 2026 menjadi ujian pertama bagi sistem manajemen krisis cuaca di era turnamen berskala kontinental.