Bisnis & Startup

Bappenas: Sinergi Dunia Usaha Kunci Percepatan Capaian SDGs Indonesia

Bappenas: Sinergi Dunia Usaha Kunci Percepatan Capaian SDGs Indonesia

Ringkasan

  • Bappenas mendorong kolaborasi dunia usaha untuk mempercepat target SDGs Indonesia yang kini telah mencapai 62 persen, melampaui rata-rata kawasan Asia Pasifik.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menegaskan bahwa sektor swasta memegang peranan krusial dalam mengakselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi instrumen utama untuk mengubah paradigma pembangunan nasional menjadi lebih berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.

Deputi Bidang Pembangunan Berkelanjutan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menyatakan bahwa keberhasilan SDGs tidak hanya diukur dari banyaknya inisiatif yang dijalankan, melainkan seberapa efektif perubahan model pembangunan yang diimplementasikan. SDGs kini telah terintegrasi dalam dokumen strategis nasional, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan visi Indonesia Emas 2045.

Implementasi SDGs di Indonesia berpijak pada empat pilar utama: universalitas, integrasi, prinsip inklusivitas 'no one left behind', serta kolaborasi multipihak. Pungkas menekankan bahwa setiap tujuan SDGs harus saling mendukung dan tidak boleh ada tujuan yang menghambat kemajuan tujuan lainnya, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam forum Site Visit Asia B Corp Summit 2026, Pungkas mengajak pemerintah, dunia usaha, filantropi, akademisi, dan media untuk bersinergi dalam menciptakan nilai ekonomi yang beriringan dengan perbaikan kualitas hidup, pelestarian lingkungan, serta tata kelola yang baik. Sinergi ini dianggap krusial untuk menjadikan bisnis sebagai kekuatan positif dalam membangun bangsa.

Data Bappenas menunjukkan capaian indikator SDGs Indonesia saat ini telah menyentuh angka 62 persen, melampaui rata-rata capaian global dan kawasan Asia Pasifik yang berada di kisaran 18 persen. Indonesia juga mencatatkan kenaikan signifikan dengan menempati peringkat ke-77 dari 167 negara, sebuah peningkatan tajam sebanyak 25 peringkat dibandingkan data tahun 2019.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, turut menambahkan bahwa praktik bisnis berkelanjutan telah bertransformasi menjadi elemen vital dalam daya saing perusahaan. Keberlanjutan kini bukan sekadar komitmen etis, melainkan strategi bisnis fundamental yang menentukan posisi perusahaan dalam persaingan pasar global yang semakin menuntut standar ESG (Environmental, Social, and Governance) yang ketat.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menunjukkan pergeseran paradigma bisnis di Indonesia di mana keberlanjutan menjadi standar daya saing global. Bagi industri, hal ini menandakan bahwa adopsi praktik ESG bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menarik investasi dan mencapai pertumbuhan jangka panjang yang inklusif.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
30 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit