Berita

Barantin dan FAO Perkuat Biosekuriti Nasional Hadapi Ancaman Penyakit Hewan Lintas Batas

Barantin dan FAO Perkuat Biosekuriti Nasional Hadapi Ancaman Penyakit Hewan Lintas Batas

Ringkasan

  • Barantin dan FAO berkolaborasi memperkuat biosekuriti nasional melalui digitalisasi sistem karantina dan manajemen risiko untuk hadapi ancaman penyakit hewan lintas batas.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk memperkuat sistem biosekuriti nasional. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ancaman penyakit hewan lintas batas yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan pangan di Indonesia.

Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa kerja sama ini difokuskan pada pengembangan sistem karantina berbasis manajemen risiko yang modern dan terintegrasi. Hal ini mencakup pembangunan peta hama penyakit yang komprehensif, yang nantinya akan dihubungkan langsung dengan sistem peringatan dini atau early warning system untuk deteksi lebih cepat.

Program kolaborasi ini dijalankan melalui Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) dengan tajuk "Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats". Proyek ini resmi dimulai dengan kegiatan Inception Workshop di Jakarta yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, akademisi, hingga pakar kesehatan hewan.

Karding menekankan bahwa penguatan biosekuriti sangat krusial mengingat ancaman penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonosis) serta spesies invasif dapat memberikan dampak sistemik bagi kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan kelancaran arus perdagangan internasional. Modernisasi sistem karantina menjadi prioritas agar tetap selaras dengan standar global.

Proyek kerja sama ini dijadwalkan berlangsung selama dua tahun, terhitung mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028. FAO memberikan dukungan berupa hibah dana sebesar 200.000 dolar AS atau setara dengan Rp3,59 miliar untuk memastikan operasional dan pengembangan kapasitas selama periode tersebut berjalan optimal.

Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menambahkan bahwa proyek ini memiliki tiga target keluaran utama. Fokus utamanya meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen risiko, digitalisasi sistem karantina untuk analisis data yang lebih akurat, serta penguatan komunikasi risiko kepada masyarakat guna memitigasi penyebaran penyakit sejak dini.

Mengapa Ini Penting

Penguatan biosekuriti melalui digitalisasi dan manajemen risiko sangat krusial bagi ketahanan pangan nasional di tengah ancaman penyakit zoonosis yang terus berkembang. Inisiatif ini tidak hanya melindungi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjaga kredibilitas ekspor produk hewani Indonesia di pasar global dengan standar internasional.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit