Internasional

Seorang Beautician Hong Kong Mengaku Bersalah Terlibat Perdagangan Manusia ke Myanmar

Seorang Beautician Hong Kong Mengaku Bersalah Terlibat Perdagangan Manusia ke Myanmar

Ringkasan

  • Seorang ahli kecantikan asal Hong Kong mengaku bersalah atas keterlibatannya dalam perdagangan manusia, di mana ia menipu dua wanita untuk bekerja paksa di sindikat penipuan Myanmar.

Seorang beautician atau ahli kecantikan asal Hong Kong, Poon Sum-yi (33), secara resmi telah mengaku bersalah di Pengadilan Distrik Hong Kong pada hari Jumat atas dakwaan penipuan. Ia terbukti terlibat dalam skema perdagangan manusia yang menjebak dua orang wanita ke dalam kerja paksa di pusat penipuan yang dikelola sindikat Tiongkok di Myanmar.

Modus operandi yang dijalankan oleh pelaku tergolong sangat rapi dan manipulatif. Poon membujuk dua korbannya dengan iming-iming tiket pesawat gratis, akomodasi mewah, serta janji imbalan uang dalam jumlah besar. Korban dijanjikan bayaran setelah berhasil mengantarkan uang tunai sebesar 48 juta baht atau setara dengan 1,4 juta dolar AS.

Dalam persidangan terungkap bahwa kedua korban, yakni seorang wanita pengangguran bernama Peng Xinying dan seorang model paruh waktu Liu Bingbing, awalnya ditawari perjalanan liburan ke Jepang atau Kanada. Karena seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh pelaku, kedua korban pun setuju untuk berangkat, namun kenyataannya mereka diarahkan menuju Thailand.

Setibanya di Thailand pada Desember 2024, kedua wanita tersebut justru diculik dan dijual kepada sindikat pusat penipuan di Myanmar dengan harga 54.000 dolar AS. Di sana, mereka dipaksa bekerja di bawah pengawasan ketat dan mengalami penyekapan yang tidak manusiawi oleh sindikat tersebut.

Keluarga korban akhirnya terpaksa membayar uang tebusan dengan total lebih dari 585.000 dolar Hong Kong atau sekitar 74.610 dolar AS agar kedua wanita tersebut dapat dibebaskan dari kamp kerja paksa tersebut pada bulan berikutnya. Kasus ini menyoroti betapa berbahayanya tawaran pekerjaan atau perjalanan gratis yang tampak terlalu menggiurkan di media sosial.

Jaksa penuntut dalam persidangan menekankan bahwa tindakan terdakwa telah menyebabkan penderitaan fisik dan mental yang mendalam bagi para korban. Kasus ini kini menjadi peringatan keras bagi masyarakat internasional mengenai maraknya praktik perdagangan manusia yang berkedok tawaran kerja atau perjalanan luar negeri di wilayah Asia Tenggara.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menjadi peringatan bagi warga Indonesia agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan luar negeri yang mencurigakan dengan imbalan tidak masuk akal. Fenomena sindikat penipuan online di Myanmar sering kali menargetkan warga Asia Tenggara, sehingga literasi keamanan digital dan kewaspadaan terhadap penawaran kerja lintas negara menjadi sangat krusial untuk mencegah korban serupa.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit