Bisnis & Startup

BI-Rate Diproyeksikan Tetap 5,75% di RDG Agustus, Inflasi Turun dan Arus Modal Masuk Jadi Penyangga

Ringkasan

  • Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026, didorong inflasi yang merosot ke 2,88 persen dan arus modal asing yang kembali masuk ke instrumen negara.

Permata Institute for Economic Research (PIER) dan LPEM FEB UI secara terpisah memproyeksikan Bank Indonesia akan menahan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang hasilnya diumumkan Rabu siang ini. Kedua lembaga riset itu melihat kombinasi faktor domestik dan eksternal menciptakan ruang bagi bank sentral untuk menjaga status quo kebijakan moneter.

Faktor pendorong utama datang dari sisi inflasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi Juli 2026 melambat signifikan ke 2,88 persen year-on-year, turun dari 3,34 persen bulan sebelumnya. Angka ini telah kembali ke dalam sasaran inflasi BI pada rentang 3 persen ± 1 persen, memberi keleluasaan bagi bank sentral untuk tidak tergesa-gesa mengangkat suku bunga.

Di sisi eksternal, Federal Reserve (The Fed) pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) akhir Juli lalu memutuskan menahan suku bunga acuan di rentang 3,50 hingga 3,75 persen. Keputusan ini diambil di tengah data pasar tenaga kerja AS yang melemah — penyerapan tenaga kerja turun di Juli 2026 meski tingkat pengangguran sedikit merosot ke 4,1 persen akibat kontraksi angkatan kerja. Pelemahan ekonomi AS ini menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed lebih cepat.

Ketenangan geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa minggu terakhir juga turut meredakan tekanan eksternal. Meski ketidakpastian global tetap ada, meredanya tegangan tersebut memberikan jeda bagi aliran modal ke pasar emergensi termasuk Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan narasi bulan-bulan sebelumnya di mana ketidakpastian geopolitik sering jadi pemicu capital outflow.

Secara domestik, sektor keuangan sempat diguncang pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI. Namun, reaksi pasar relatif terkendali. Transisi kepemimpinan ke Pejabat Sementara Gubernur Destry Damayanti berlangsung mulus dengan jaminan keberlanjutan kebijakan. Hal ini justru memicu kepercayaan investor asing yang terlihat dari arus modal masuk.

LPEM FEB UI mencatat sejak akhir Juli hingga 13 Agustus 2026, Indonesia menikmati net capital inflow sebesar 0,28 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, 0,24 miliar dolar masuk ke surat berharga pemerintah (SBN) dan 0,04 miliar dolar ke pasar modal. Masuknya dana asing ke SBN mendorong turunnya imbal hasil — tenor 10 tahun turun 11 basis poin ke 7,21 persen dan tenor 1 tahun turun 25 basis poin ke 6,65 persen.

Pelebaran kurva imbal hasil (yield curve steepening) dengan penurunan yield tenor pendek yang lebih dalam dari tenor panjang mengindikasikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia jangka pendek. Hal ini juga tercermin dalam penguatan rupiah sebesar 1,11 persen dalam dua minggu terakhir, dari Rp18.078 per dolar AS ke Rp17.876 per dolar AS.

Meski menguat, LPEM FEB UI menyoroti rupiah masih menunjukkan performa lebih lemah dibanding mata uang negara tetangga dan negara berkembang lainnya sepanjang 2026. Faktur struktural seperti neraca dagang yang terkena tekanan pelemahan ekonomi global masih jadi beban bagi mata uang domestik.

Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Permata Bank, Faisal Rachman, menilai BI cenderung mempertahankan suku bunga di sisa 2026. "Kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan," ujarnya. Artinya, opsi pengangkatan suku bunga tetap ada di meja jika skenario risiko ekstrem terealisasi.

Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menambahkan BI sebaiknya menahan suku bunga untuk menjaga ruang gerak (policy space) ke depan. BI sebelumnya sudah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir. Menaikkan lagi saat ini hanya akan menambah beban biaya pendanaan bagi sektor riil yang sedang berupaya pemulihan.

Ancaman inflasi di depan tetap perlu diwaspadai. LPEM FEB UI mengingatkan tekanan inflasi diperkirakan naik beberapa bulan mendatang seiring fenomena El Nino dan puncak musim kemarau pada Agustus-September 2026. Faktor cuaca ini berpotensi mengganggu pasokan pangan dan mendorong harga naik, yang bisa memaksa BI meninjau kembali kebijakannya di RDG bulan depan.

Kesimpulannya, keputusan RDG Agustus ini akan menjadi uji nyata seberapa jauh BI mampu menyeimbangkan stabilitas nilai tukar, kendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Status quo 5,75 persen tampak paling rasional mengingat inflasi sudah di bawah sasaran, arus modal masuk, dan Fed menahan suku bunga — tapi BI harus siap bergerak cepat jika El Nino mengubah lanskap inflasi domestik.

Mengapa Ini Penting

Keputusan BI menahan suku bunga berdampak langsung pada cicilan KPR, kredit usaha, dan imbal hasil deposan masyarakat. Bagi pengusaha UMKM, biaya modal yang stabil berarti perencanaan ekspansi lebih terjangkau. Bagi investor, yield obligasi yang turun sinyal kepercayaan tapi juga mengurangi daya tarik instrumen renta tetap. Jika El Nino benar-benar menggenjot harga pangan bulan depan, BI mungkin terpaksa naikkan suku bunga tiba-tiba — yang akan mengejutkan pasar dan naikkan biaya pinjaman secara drastis. Masyarakat perlu memantau data inflasi Agustus-September sebagai indikator awal.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
19 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit