PT Bio Farma (Persero) secara resmi memperkenalkan Bio-TCV pada Grand Launching yang digelar di Medical Expo FKUI 2026, menandai kelahiran vaksin tifoid konjugat pertama yang dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri. Peluncuran ini mengusung tema sinergi akademisi dan industri untuk kedaulatan vaksin nasional.
Vaksin ini ditujukan untuk pencegahan demam tifoid yang disebabkan bakteri Salmonella typhi dan telah mendapat izin edar dari BPOM untuk penggunaan mulai usia enam bulan hingga dewasa. Kehadiran Bio-TCV diharapkan memperluas akses imunisasi bagi masyarakat luas.
Indonesia tetap termasuk negara endemis tifoid. Data WHO 2024 mencatat sekitar 9 juta kasus dan 110 ribu kematian setiap tahun di dunia, sedangkan prevalensi domestik diperkirakan 1,6 persen dengan angka kejadian 148,7 per 100.000 penduduk. Situasi ini mendesak kebutuhan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan.
Pengembangan Bio-TCV bermula dari kerjasama jangka panjang dengan International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010, diperkuat transfer teknologi pada 2013, dan dilanjutkan uji klinis fase I hingga III bersama FKUI-RSCM. Seluruh tahap mengikuti standar ilmiah, etika, dan regulasi yang ketat.
BPOM mendampingi proses mulai uji klinis, standardisasi, produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat. Evaluasi regulatori dilakukan secara dipercepat tanpa mengorbankan standar ilmiah, sehingga vaksin ini lulus persetujuan dengan cepat.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan bahwa vaksin ini merupakan kontribusi nyata dalam mendukung pencegahan tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Ia menyoroti pentingnya perbaikan sanitasi, keamanan pangan, dan perilaku hidup bersih seiring program imunisasi.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan penguatan kedaulatan kesehatan menjadi strategi utama menghadapi tantangan masa depan. Kolaborasi multi-stakeholder dianggap kunci mempercepat lahirnya inovasi berdampak bagi masyarakat.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengaitkan pengalaman pandemi COVID-19 sebagai pelajaran bahwa kemampuan produksi vaksin domestik vital agar tidak bergantung pada pasokan global saat krisis. Kehadiran Bio-TCV membuktikan Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin riset anak bangsa.
Sebagai bagian ekosistem Danantara, Bio Farma terus memperluas kapasitas fasilitas produksi berbasis teknologi konjugasi. Upaya ini tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor melalui proses WHO Prequalification dan registrasi di berbagai negara.
Vaksin ini diproyeksikan menjadi kontribusi Indonesia dalam pencegahan tifoid di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang memiliki beban penyakit tinggi. Ketersediaan vaksin konjugat berbiaya lebih terjangkau diharapkan mempercepat cakupan imunisasi global.
Peluncuran Bio-TCV menegaskan bahwa kedaulatan vaksin nasional diukur tidak hanya dari produksi, melainkan dari kemampuan menguasai riset, teknologi, regulasi, hingga distribusi yang adil. Sinergi berkelanjutan antara industri, akademisi, pemerintah, regulator, dan mitra global menjadi fondasi utama.
Ke depan, Bio Farma berencana meningkatkan volume produksi, memperluas jangkauan imunisasi di daerah tertinggal, serta mengembangkan platform vaksin konjugat untuk penyakit lain. Langkah ini diharapkan memperkuat posis Indonesia sebagai pemain vaksin regional yang mandiri dan berkualitas.