Internasional

Grandfather hurled eight feet into the air by charging bison in Yellowstone

Ringkasan

  • Seorang kakek terluka parah setelah dilempar bison di Yellowstone saat musim kawin.
  • Kejadian mengerikan ini terjadi di Bridge Bay Campground dan memicu perdebatan tentang keselamatan pengunjung dan pengelolaan satwa liar di taman nasional.

Insiden mengerikan ini terjadi pada Jumat malam di Bridge Bay Campground, bagian dari Taman Nasional Yellowstone, ketika seekor bison yang marah melemparkan seorang kakek berusia 73 tahun setinggi delapan kaki ke udara, menyebabkan cedera serius. Korban, yang tidak disebutkan namanya, sedang berjalan-jalan dengan cucunya ketika hewan tersebut tiba‑tiba menyerang dari balik pepohonan.

Menurut Mike MacLeod, seorang fotografer dari Montana yang tengah mengabadikan momen tersebut, bison tersebut menggunakan tanduk kirinya untuk mencengkeram pinggul pria tersebut dan melemparkannya terbalik. Kakek itu jatuh ke tanah di sisi tubuhnya, dengan bison yang berdiri setinggi sekitar enam kaki di atasnya. Korban mengeluhkan nyeri hebat di bagian pinggul dan kaki, meskipun tidak ada luka luar yang terlihat, sehingga memicu kekhawatiran dari para pengunjung yang berada di dekatnya.

Para saksi mata dengan cepat membentuk barikade manusia untuk mengusir bison tersebut, sementara seorang pramuka menghubungi layanan darurat 911. MacLeod, seorang mantan fotografer tempur Angkatan Darat, sementara itu menghentikan rekamannya dan berlari menuju bison tersebut, berteriak keras dan berusaha terlihat besar dan mengintimidasi. Upaya bersama ini akhirnya menakut‑neni bison tersebut dan membuatnya menjauh dari area tersebut, sehingga memungkinkan tim medis Yellowstone untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban.

Kejadian ini terjadi selama musim kawin bison tahunan Yellowstone, yang berlangsung dari Juni hingga September. Selama periode ini, bison jantan mengalami peningkatan energi dan agresi karena bersaing untuk mendapatkan dominasi dan akses ke betina. Para ahli satwa liar menunjukkan bahwa serangan seperti ini jarang terjadi, tetapi dapat dipicu oleh ancaman yang dirasakan, termasuk kendaraan atau manusia yang terlalu dekat.

Layanan Taman Nasional menyarankan pengunjung untuk menjaga jarak minimal 100 yard (sekitar panjang lapangan sepak bola) dari bison dan mamalia besar lainnya. Rambu‑rambu di Bridge Bay Campground menekankan bahwa memberi makan, mendekati, atau mencoba memotret hewan dari jarak yang terlalu dekat dapat memicu reaksi berbahaya, dan pelanggaran dapat dikenakan sanksi yang ketat.

Kejadian ini memunculkan kembali perdebatan tentang cara terbaik untuk menyeimbangkan keselamatan pengunjung dengan konservasi bison. Beberapa pihak mengusulkan untuk memindahkan individu yang agresif dari area wisata yang populer, sementara yang lain berpendapat bahwa tindakan tersebut dapat mengganggu pola migrasi alami dan keanekaragaman genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasan terhadap keberadaan manusia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik yang bermusuhan.

Bagi Indonesia, di mana pariwisata taman nasional sedang berkembang pesat, insiden Yellowstone ini menekankan perlunya pendidikan keselamatan yang kuat dan mungkin solusi pemantauan berbiaya rendah. Drone pengintai, analisis perilaku berbasis AI, dan sistem peringatan waktu nyata dapat membantu penjaga taman mendeteksi hewan yang agresif sebelum mereka mencapai area pengunjung, sehingga mengurangi risiko cedera. Selain itu, hal ini menjadi pengingat pentingnya pendidikan publik tentang perilaku hewan dan kepatuhan terhadap aturan jarak aman, yang dapat mengurangi risiko konflik di masa depan.

Meskipun kondisi kakek tersebut masih kritis dan dia "belum keluar dari bahaya", respons cepat dari komunitas yang berada di sana kemungkinan besar mencegah terjadinya korban jiwa. Kejadian ini menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa bahkan momen yang tampaknya tenang di alam dapat dengan cepat berubah menjadi berbahaya, terutama selama musim kawin. Penelitian berkelanjutan tentang perilaku bison dan pendidikan yang lebih baik bagi pengunjung sangat penting untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya interaksi manusia dengan satwa liar dapat berujung pada cedera serius, terutama di tempat wisata alam yang semakin populer. Bagi industri teknologi di Indonesia, insiden seperti ini mendorong pengembangan solusi pemantauan satwa liar berbasis AI dan drone untuk meningkatkan keselamatan pengunjung di taman nasional. Selain itu, hal ini menjadi pengingat pentingnya pendidikan publik tentang perilaku hewan dan kepatuhan terhadap aturan jarak aman, yang dapat mengurangi risiko konflik di masa depan.

Sumber Asli
Daily Mail
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit