Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya fenomena anomali cuaca yang menyebabkan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terus mengguyur wilayah Indonesia bagian utara dan sekitar garis ekuator. Padahal, secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia saat ini telah memasuki periode musim kemarau yang semakin meluas.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa kondisi basah di tengah musim kering ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer global dan tingginya labilitas udara lokal. Fenomena ini menciptakan kontradiksi iklim di mana beberapa wilayah mengalami hujan ekstrem, sementara wilayah lainnya justru terancam kekeringan.
Berdasarkan data pemantauan hidrometeorologi periode akhir Juni hingga awal Juli 2026, curah hujan tertinggi tercatat di Kepulauan Riau dengan intensitas mencapai 81 mm per hari. Wilayah lain yang terdampak signifikan meliputi Kalimantan Barat dengan 76 mm per hari, Papua Tengah dengan 57 mm per hari, serta Sumatera Utara dengan 54 mm per hari.
Analisis BNPB menunjukkan bahwa eksistensi hujan ini didorong oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergerak aktif di Papua. Selain itu, pergerakan Gelombang Kelvin di Sumatera dan Kalimantan, serta Gelombang Rossby Ekuatorial di Papua, turut menyuplai uap air yang memicu pertumbuhan awan hujan secara subur di wilayah-wilayah tersebut.
Di sisi lain, wilayah Indonesia lainnya justru menghadapi dampak nyata dari fenomena El Nino di Samudra Pasifik. Kondisi ini menyebabkan dominasi cuaca panas dengan suhu maksimum melampaui 35 derajat Celsius di beberapa daerah seperti Lampung, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. BNPB mencatat sebanyak 493 titik pengamatan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang.
Menanggapi disparitas cuaca ini, BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat diminta bijak menggunakan air bersih serta mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan yang dapat dipicu oleh fenomena El Nino di wilayah yang tidak terdampak hujan.