Nasional

BPOM dan KPK Gelar Bintalnas Demi Integritas Layanan Publik Obat Pangan

Ringkasan

  • Badan POM dan KPK menggelar pembinaan mental di Jakarta, Rabu, guna menanamkan integritas pada 1.294 aparatur baru demi mencegah korupsi serta memperkuat layanan publik obat dan pangan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebuah langkah strategis untuk membenahi karakter aparatur negara. Kegiatan Pembinaan Mental Nasional (Bintalnas) yang digelar di Jakarta pada hari Rabu tersebut difokuskan pada penguatan integritas sumber daya manusia, terutama menjelang masuknya ribuan wajah baru ke dalam instansi tersebut.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa fondasi integritas menjadi syarat mutlak bagi lembaganya yang berada di garda terdepan pengawasan produk konsumsi masyarakat. Dengan tanggung jawab yang mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari tahap pra-pasar hingga pasca-pasar, BPOM dituntut untuk menjaga standar keamanan dan kualitas obat serta makanan yang beredar di Tanah Air.

Posisi BPOM sangat krusial karena berhadapan langsung dengan berbagai pemangku kepentingan, baik itu masyarakat luas, pelaku industri, maupun investor. Setiap kebijakan yang diambil, mulai dari pendampingan regulasi, pengawasan rutin, hingga tindakan hukum terhadap pelanggar, memiliki dampak sistemik terhadap stabilitas kesehatan dan ekonomi nasional. Oleh karena itu, kerentanan terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) selalu mengintai jika aparatur tidak memiliki filter moral yang kuat.

Pada tahun 2025, BPOM akan kedatangan tambahan tenaga yang signifikan. Tercatat ada 783 orang yang diterima dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta sekitar 400 orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Total 1.294 pegawai baru ini akan mengisi berbagai lini pelayanan dan pengawasan, menjadikan momentum Bintalnas sebagai investasi awal yang krusial sebelum mereka tersebar ke satuan kerja.

Kebutuhan akan reformasi birokrasi dan pencegahan korupsi di instansi teknis seperti BPOM memang tidak bisa ditawar. Pengawasan obat dan makanan kerap beririsan dengan kepentingan bisnis besar yang memiliki modal besar. Tanpa sistem dan mental yang teruji, celah penyuapan dalam proses perizinan atau pelonggaran standar pengawasan bisa saja terjadi.

Langkah BPOM ini memberikan sinyal positif bagi iklim industri farmasi dan pangan lokal. Pelaku usaha, terutama pelaku UMKM dan startup kesehatan, membutuhkan kepastian regulasi yang bersih dari pungli dan diskriminasi. Integritas aparatur akan mempercepat proses hilirisasi riset dan mempermudah akses ekspor produk lokal, seperti kosmetik, ke pasar global yang menuntut standar kepatuhan tinggi.

Di sisi lain, masyarakat luas sebagai konsumen akhir adalah pihak yang paling diuntungkan. Jaminan keamanan pangan dan obat bukan sekadar label di kemasan, melainkan hasil dari pengawasan yang jujur dan transparan. Ketika aparatur BPOM bekerja tanpa tekanan kepentingan tertentu, produk berbahaya atau ilegal akan lebih cepat tersisir dari peredaran.

Upaya pencegahan korupsi melalui pendekatan budaya kerja juga selaras dengan tren transformasi digital pemerintahan. Meskipun teknologi dapat memangkas tatap muka yang berpotensi memicu KKN, faktor manusia tetap menjadi variabel penentu keberhasilan sistem tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Cris Kuntadi yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik inisiatif BPOM. Ia membagikan pengalaman kementeriannya dalam menerapkan SMART dan SIKENCUR, yakni Sistem Manajemen Anti Penyuapan yang telah meraih sertifikasi ISO 37001, serta Sistem Kendali Kecurangan. "Kami sudah mengimplementasikan SMART dan SIKENCUR... Alhamdulillah sudah dapat ISO 37001. Dan kita juga mengimplementasikan Sistem Kendali Kecurangan," ujar Cris, menekankan pentingnya berbagi praktik baik antarlembaga.

Sementara itu, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief menuturkan bahwa semangat pelayanan publik yang profesional tidak cukup diwujudkan melalui hukuman semata. Menurutnya, pemberantasan korupsi membutuhkan perbaikan tata kelola dan reformasi birokrasi yang diimbangi dengan penguatan individu. "Sistem bagaimana pun, penegakan disiplin bagaimana pun, penindakan seperti apa pun, tidak akan bisa berjalan kalau kuncinya manusianya, individu pegawainya tidak dijaga," kata Amir.

Ke depan, kolaborasi antara BPOM dan KPK akan berlanjut tidak hanya pada kegiatan seremonial, tetapi menyentuh audit sistemik di lapangan. Penguatan integritas 1.294 pegawai baru harus dibuktikan dengan kinerja nyata saat mereka menghadapi tekanan industri.

Reformasi birokrasi di sektor pengawasan produk konsumsi ini diharapkan menjadi cetak biru bagi kementerian lain. Dengan memadukan teknologi, sertifikasi anti-penyuapan, dan mental aparatur yang tangguh, Indonesia bisa membangun ekosistem pelayanan publik yang berdaya saing tinggi dan bebas dari korupsi.

Mengapa Ini Penting

Penguatan integritas di BPOM memiliki dampak langsung pada kepercayaan konsumen terhadap keamanan obat dan makanan di tengah maraknya produk impor ilegal. Bagi pelaku usaha lokal, birokrasi yang bersih dari KKN akan menekan biaya operasional dan mempercepat proses sertifikasi ekspor. Langkah ini juga menjadi proteksi strategis saat Indonesia menghadapi tantangan rantai pasok global, seperti potensi penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada industri farmasi. Tanpa aparatur yang berintegritas, kebijakan mitigasi krisis dapat mudah dimanipulasi untuk kepentingan segelintir pihak.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit