PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyambut positif langkah strategis Pemerintah melalui Kementerian Keuangan yang kembali mengalokasikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) kepada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini dinilai sebagai langkah krusial untuk menjaga stabilitas likuiditas perbankan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah dalam menempatkan dana SAL. Menurutnya, sinergi yang terbangun antara otoritas fiskal dan perbankan merupakan fondasi penting guna memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Dalam implementasinya, BRI berkomitmen untuk memanfaatkan likuiditas tambahan tersebut secara bijak dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent banking). Fokus utama penyaluran dana akan diarahkan kepada sektor-sektor produktif, terutama segmen UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, guna memastikan dampak ekonomi yang nyata.
Hingga Maret 2026, BRI telah mencatatkan total pembiayaan bank only sebesar Rp1.358 triliun. Angka ini menegaskan posisi BRI sebagai motor penggerak sektor riil yang memiliki multiplier effect tinggi, baik dalam menciptakan lapangan kerja maupun meningkatkan produktivitas masyarakat secara luas.
Selain mengandalkan dana SAL, BRI juga terus memperkuat fundamental pendanaan melalui peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya pada pos dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Penguatan ini dilakukan melalui akselerasi ekosistem digital perbankan yang lebih efisien dan inklusif bagi nasabah di seluruh pelosok negeri.
Adapun rencana penempatan dana SAL sebesar Rp400 triliun oleh Kementerian Keuangan dijadwalkan pada Juni 2026. Dana tersebut akan didistribusikan kepada bank-bank Himbara termasuk BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, dan BSI, sebagai langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sistem keuangan nasional agar tetap stabil dan berdaya saing.