Bisnis & Startup

Aplikasi Kencan Bumble Dikabarkan Tengah Menjajaki Opsi Penjualan

Aplikasi Kencan Bumble Dikabarkan Tengah Menjajaki Opsi Penjualan

Ringkasan

  • Aplikasi kencan Bumble dikabarkan tengah menjajaki opsi penjualan setelah menghadapi penurunan pengguna dan nilai saham yang signifikan sepanjang tahun lalu.

Aplikasi kencan populer, Bumble, dikabarkan tengah mengeksplorasi opsi untuk melakukan penjualan perusahaan di tengah melambatnya pertumbuhan sektor kencan daring global. Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui masalah ini, perusahaan yang dikenal dengan konsep 'women-first' ini telah menunjuk bank investasi Morgan Stanley untuk memandu proses potensi akuisisi tersebut. Namun, pihak-pihak terkait menegaskan bahwa diskusi ini masih bersifat rahasia dan belum ada kesepakatan final yang tercapai, sehingga Bumble masih memiliki opsi untuk tetap beroperasi secara independen.

Langkah strategis ini muncul di tengah tantangan berat yang dihadapi perusahaan. Saham Bumble yang berbasis di Austin, Texas, tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 48 persen dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Saat ini, kapitalisasi pasar perusahaan merosot hingga menyentuh angka 388 juta dolar AS. Situasi ini kontras dengan masa keemasannya saat pertama kali melantai di bursa pada tahun 2021 dengan valuasi yang sempat melampaui 7 miliar dolar AS.

Kinerja keuangan perusahaan menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Sepanjang tahun 2025, jumlah pengguna berbayar Bumble tercatat turun lebih dari 11 persen menjadi sekitar 3,7 juta pengguna. Pendapatan tahunan perusahaan juga tergerus hampir 10 persen menjadi sekitar 966 juta dolar AS. Memasuki kuartal pertama tahun 2026, kondisi semakin menantang dengan penurunan jumlah pengguna berbayar sebesar 20 persen secara tahunan, yang dipicu oleh kebijakan perusahaan untuk memangkas akun-akun dengan tingkat keterlibatan rendah.

Bumble, yang didirikan oleh Whitney Wolfe Herd pada 2014, sempat merevolusi industri kencan daring dengan memberikan kendali kepada perempuan untuk memulai percakapan. Wolfe Herd, yang sempat mundur dari posisi CEO pada 2023, kembali memimpin perusahaan pada Maret 2025 untuk mencoba membalikkan keadaan. Meski mencoba melakukan monetisasi melalui kenaikan harga layanan, perusahaan tetap menghadapi persaingan ketat, pergeseran preferensi pengguna, dan fenomena kelelahan aplikasi kencan di kalangan generasi muda.

Blackstone, sebagai pemegang saham utama dengan kepemilikan sekitar 22 persen, turut memantau perkembangan ini. Meskipun afiliasi Blackstone telah melakukan penjualan sebagian saham Bumble bulan ini, belum ada pernyataan resmi mengenai keterlibatan mereka dalam proses penjualan ini. Morgan Stanley pun hingga saat ini menolak memberikan komentar terkait keterlibatan mereka dalam potensi transaksi tersebut.

Upaya diversifikasi yang dilakukan Bumble, seperti melalui fitur Bumble For Friends untuk jejaring sosial dan Bumble Bizz untuk koneksi profesional, sejauh ini belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan total perusahaan. Dengan semakin memudarnya keunikan nilai jual 'women-first' di tengah perubahan perilaku pengguna, masa depan Bumble kini berada di persimpangan jalan antara upaya restrukturisasi internal atau penggabungan dengan entitas bisnis yang lebih besar demi keberlangsungan jangka panjang.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menjadi indikator penting mengenai kejenuhan pasar aplikasi kencan global yang juga mulai dirasakan oleh pengguna di Indonesia. Bagi industri startup lokal, langkah Bumble menunjukkan bahwa model bisnis berbasis monetisasi aplikasi perlu beradaptasi secara radikal terhadap perubahan perilaku konsumen agar tetap relevan di tengah persaingan ketat.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit