Seorang pakar pendidikan dwibahasa dari Northern Illinois University (NIU), Profesor James Cohen, menyatakan bahwa cara guru memandang peserta didik merupakan faktor krusial yang menentukan keberhasilan akademik mereka. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah realitas keberagaman budaya, bahasa, dan latar belakang sosial di Indonesia yang sangat kompleks.
Lokakarya bertajuk "Bridging the Gap: Cultivating Intercultural Leadership" di SMA Soteria Mahardika, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Rabu menjadi ruang bertukar pikiran bagi para pendidik. Profesor Teresa A Wasonga, pakar kepemimpinan pendidikan dari NIU, turut hadir sebagai pembicara dalam acara yang diikuti sekitar 30 kepala SMP dari wilayah Banyumas Raya tersebut.
Cohen membagikan pengalaman mengajarnya bersama calon guru di Amerika Serikat, khususnya dalam program pendidikan dwibahasa dan pendampingan komunitas imigran. Tantangan terbesar dalam pendidikan, menurutnya, tidak hanya terletak pada strategi pembelajaran di kelas. Lebih dari itu, perspektif guru terhadap murid menjadi penentu utama.
Indonesia sendiri merupakan contoh nyata masyarakat multikultural dengan lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 700 bahasa hidup. Keberagaman tersebut mengharuskan tenaga pendidik memiliki kemampuan membangun interaksi inklusif dengan siswa dari berbagai latar belakang. Tanpa pemahaman ini, proses belajar dapat terjadi miskomunikasi.
Pakar tersebut mengingatkan agar guru meninggalkan pola pikir deficit model yang melihat siswa dari sisi kekurangan, seperti anggapan negatif terhadap pengguna bahasa daerah atau anak dari keluarga kurang mampu. Sebaliknya, pendekatan strengths atau asset model harus diterapkan karena setiap peserta didik sesungguhnya menyimpan potensi untuk berkembang.
Pergeseran paradigma ini membawa implikasi besar bagi sistem pendidikan nasional. Di banyak daerah di Tanah Air, ketidaksadaran akan bias deficit model kerap membuat siswa dari kelompok marginal tertinggal. Padahal, pengakuan atas aset budaya yang mereka bawa dapat meningkatkan motivasi belajar.
Kendati demikian, tantangan serupa juga dihadapi negara lain seperti AS dalam menangani imigran. Perbedaannya, Indonesia memiliki keragaman internal yang sudah ada sejak lama, sehingga kepekaan lintas budaya harus menjadi bagian dari kurikulum pelatihan guru sejak dini.
Sementara itu, Profesor Teresa A Wasonga menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kepemimpinan sekolah yang inklusif. Ia berdiskusi dengan para siswa mengenai pengembangan karakter baik serta berbagi pandangan dengan kepala sekolah tentang memimpin di lingkungan multikultural. Nilai ini krusial agar peserta didik kelak mampu hidup di masyarakat majemuk.
Salah seorang peserta, Aris Budiasono yang merupakan Kepala SMP Negeri 1 Patikraja, Banyumas, menilai lokakarya tersebut membuka wawasan tentang perbedaan etika komunikasi. Contohnya, menatap mata lawan bicara di AS dianggap bentuk perhatian, namun dalam budaya tertentu di Indonesia hal itu bisa dianggap kurang sopan kepada orang lebih tua. Pemahaman semacam ini vital bagi guru.
Kepala SMA Soteria Mahardika, Tabita Christina, menyebutkan bahwa inti yang dibawa kedua profesor adalah prinsip listening before leading atau mendengarkan sebelum memimpin. Perbedaan bukan sekadar ditoleransi, melainkan dihargai melalui upaya mendengar pengalaman siswa terlebih dahulu.
Lokakarya yang melibatkan kepala sekolah dari Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara itu diharapkan memperluas penerapan kepemimpinan lintas budaya. Dengan begitu, peserta didik tumbuh menjadi pribadi berkarakter, inklusif, dan siap menghadapi masyarakat yang beragam.
Ke depan, kolaborasi antara institusi pendidikan lokal dan pakar internasional seperti NIU perlu ditingkatkan untuk memperkuat kompetensi guru. Pelatihan berkelanjutan tentang perspektif asset model dapat menjadi langkah konkret mewujudkan pendidikan yang adil dan berkualitas di seluruh nusantara.