Nasional

Cek Kesehatan Gratis: Strategi Pemerintah Menekan Kematian Dini Akibat Penyakit Tidak Menular

Ringkasan

  • Pemerintah memperkuat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular.
  • Program ini telah menjangkau 70 juta masyarakat di 38 provinsi untuk menekan angka kematian dini.

Pemerintah menggencarkan transformasi layanan kesehatan dengan mengedepankan upaya pencegahan dan deteksi dini. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Februari 2025 menjadi ujung tombak perubahan orientasi dari kuratif menuju promotif dan preventif.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut program ini telah menjangkau 38 provinsi melalui 10.588 fasilitas kesehatan hingga akhir 2025. Dari 73 juta masyarakat yang mendaftar, sebanyak 70 juta telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Angka tersebut menjadi modal penting untuk mencapai target peningkatan usia harapan hidup dari sekitar 72 tahun menjadi 76 tahun.

"Pak Presiden Prabowo menugaskan saya untuk bisa meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari sebelumnya 72 tahun menjadi 76 tahun. Untuk bisa menaikkan usia harapan hidup tersebut, kita harus melihat kenapa banyak orang Indonesia wafat lebih dini," kata Budi dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Mewujudkan Kesehatan Merata untuk Rakyat Indonesia", Selasa (21/07).

Langkah ini lahir dari keprihatinan terhadap data Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan 20 Februari 2025. Hampir 75 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM). Penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan strok, bahkan merenggut hampir 800.000 jiwa setiap tahun.

Budi menjelaskan bahwa strok, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan apabila faktor risikonya diketahui lebih awal. Tiga indikator dasar yang perlu dipantau adalah tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Ketiganya menjadi parameter untuk mendeteksi risiko hipertensi, diabetes, dan penyakit kronis lainnya.

"Tiga penyakit itu sebenarnya bisa dicegah. Salah satu caranya adalah rajin cek kesehatan supaya kita tahu kondisi tubuh kita. Indikator yang paling mudah dilihat adalah tekanan darah, gula darah, dan kolesterol," ujar Budi.

Pemeriksaan rutin menjadi penting karena tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat, tetapi sebenarnya telah memiliki faktor risiko yang dapat berkembang menjadi penyakit berat. Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengubah gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, dan menghindari rokok.

Pemerintah memastikan pelaksanaan CKG tidak berhenti pada tahap skrining. Masyarakat yang diketahui memiliki faktor risiko atau terdiagnosis penyakit tertentu akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi kesehatannya. Tindak lanjut tersebut meliputi edukasi perubahan gaya hidup, pemberian obat secara gratis, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap.

"Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan gratis dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu," kata Budi.

Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Ariani Dewi Widodo menilai perubahan pola pikir menjadi tantangan penting dalam pelaksanaan CKG. Sebagian masyarakat masih enggan menjalani pemeriksaan karena takut mengetahui penyakit yang mungkin diderita. Padahal, deteksi dini justru membuka peluang lebih besar untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.

"Persepsinya harus dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan karena takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, bahkan bisa kembali menjadi hijau," ujarnya.

Ia menambahkan, pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan. Pengobatan perlu disertai perubahan gaya hidup, mulai dari menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, beristirahat cukup, hingga disiplin mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Selain penyakit tidak menular, pemerintah juga memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) yang masih menjadi tantangan besar. Mengacu pada Global TB Report 2025, Indonesia menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan sekitar 1.080.000 kasus baru dan 126.000 kematian akibat TB setiap tahun. Percepatan deteksi dan pengobatan menjadi prioritas untuk memastikan setiap pasien memperoleh pengobatan hingga tuntas.

Ke depan, pemerintah berencana memperluas jangkauan CKG dan memastikan layanan tindak lanjut berjalan optimal. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang diperiksa, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan. Jika target usia harapan hidup 76 tahun tercapai, Indonesia akan mencatatkan lompatan besar dalam kualitas sumber daya manusianya.

Mengapa Ini Penting

Program CKG bukan sekadar agenda politik, melainkan respons atas fakta bahwa 75 persen kematian di Indonesia disebabkan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Keberhasilan program ini akan menentukan masa depan sistem kesehatan nasional, terutama dalam mengurangi beban pembiayaan kesehatan jangka panjang. Jika kesadaran deteksi dini meningkat, beban rumah sakit dan BPJS Kesehatan dapat ditekan secara signifikan. Ini juga menjadi momentum perubahan paradigma: dari sekadar mengobati orang sakit menjadi menjaga orang tetap sehat. Bagi masyarakat, program ini adalah akses emas untuk mengetahui kondisi tubuh tanpa biaya, yang selama ini menjadi penghalang utama pemeriksaan rutin.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
10 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit