Beijing — Musim panas 2026 di China tidak dihuni oleh kesedihan atas ketidakhadiran tim nasional di Piala Dunia FIFA, melainkan oleh kehangatan ribuan liga kota amatir yang memadati stadion dari pesisir hingga pedalaman. Fenomena ini menandai pergeseran paradigma: masyarakat China tidak lagi menunggu keberhasilan timnas untuk menikmati sepak bola, melainkan menciptakan 'Piala Dunia' mereka sendiri di tingkat akar rumput.
Data dari Liga Sepak Bola Kota Jiangsu (Su Super League) memperkuat narasi ini. Musim lalu, 85 pertandingan menarik 2,43 juta penonton ke stadion dan mencatat lebih dari 2,2 miliar tayangan daring. Angka tahun ini menunjukkan tren naik yang konsisten. Liga ini bahkan telah mengadopsi teknologi VAR dan meluncurkan bola resmi Trionda sebelum Piala Dunia bergulir, menandakan standar profesional yang serius dibangun dari bawah.
Di balik ledakan ini, ada kebijakan sistematis. Pemerintah kota-kota besar menyesuaikan program pengembangan pemuda dengan kondisi lokal, memperluas pusat pelatihan bertingkat, menambah jumlah lapangan, serta mengirim pemain remaja ke luar negeri untuk pertukaran teknis. Pendekatan jangka panjang ini berbeda jauh dengan era sebelumnya yang terlalu fokus pada hasil instan tim senior.
Kemenangan timnas U-23 China yang menembus final Piala Asia U-23 AFC di Januari lalu menjadi katalis emosional. Prestasi itu bukan sekadar medali, tetapi bukti nyata bahwa jalur regenerasi mulai berfungsi. Bagi ribuan pendukung yang menonton di stadion dan miliaran di layar, pesannya jelas: ini mungkin awal baru yang dibangun dengan sabar, bukan keberuntungan sesaat.
Sisi budaya juga ikut berkobar. Film "Kungfu Soccer" karya Stephen Chow yang rilis musim panas ini mencetak rekor penjualan tiket, membawakan sepak bola ke ruang tamu keluarga dan menanamkan minat pada generasi muda yang mungkin tidak pernah menonton timnas mereka di panggung dunia. Sepak bola kini meresap ke konsumsi hiburan, percakapan media sosial, hingga perencanaan perkotaan.
Konteks ini relevan bagi Indonesia yang sedang berusaha membangun ekosistem serupa melalui Liga 1, Liga 2, hingga Liga 3 dan kompetisi usia muda. China membuktikan bahwa basis penonton masif dan industri lokal bisa tumbuh tanpa kehadiran di Piala Dunia — asalkan ada komitmen jangka panjang dari pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta. VAR di liga kota Jiangsu, misalnya, menunjukkan adoptif teknologi tidak harus menunggu tingkat elit.
Namun, tantangan tetap besar. Kualitas pelatih, infrastruktur lapangan yang merata, dan alur karir pemain dari akademi ke profesional masih memerlukan perbaikan berkelanjutan. China sendiri mengakui perjalanan ke depan "panjang, penuh tantangan, dan tidak lepas dari kemunduran". Referensi mereka ke perjalanan Tanjung Verde (Cape Verde) di Piala Dunia — negara kecil yang berani bermimpi besar — jadi pengingat bahwa tekad sering mengalahkan ukuran pasar.
Dari perspektif industri, ledakan penonton dan tayangan daring menciptakan peluang komersial: sponsorship lokal, hak siar digital, merchendise klub kota, hingga pariwisata olahraga. Model ini bisa ditiru klub-klub Indonesia di daerah untuk mengurangi ketergantungan pada sponsor utama dan membangun basis pendukung yang loyal secara organik.
Secara teknis, adopsi VAR di tingkat amatir semi-profesional menarik perhatian. Biaya implementasi yang turun dan standarisasi protokol memungkinkan liga-liga di Indonesia mempertimbangkan teknologi serupa untuk meningkatkan keadilan dan daya tarik produk. Bukan mustahal dalam 2-3 tahun ke depan, VAR hadir di Liga 2 atau kompetisi Piala Presiden.
Pada akhirnya, kisah China mengajarkan satu hal fundamental: sepak bola tidak milik timnas semata, melainkan milik komunitas yang memainkannya, menontonnya, dan menghidupkannya setiap hari. Ketika fondasi akar rumput kokoh, kehadiran di Piala Dunia hanyalah konsekuensi alami — bukan prasyarat untuk bersepak bola.