Internasional

China-Rusia Perluas Kerja Sama Militer Laut: Latihan 'Naval Interaction-2026' di Laut Kuning Tandai Eskalasi Interoperabilitas Strategis

Ringkasan

  • China dan Rusia memperluas skala latihan laut gabungan 'Naval Interaction-2026' di Laut Kuning, melibatkan armada canggih dan sistem C4ISR terintegrasi.
  • Kerjasama ini mencerminkan penguatan kemitraan strategis pasca-krisis Ukraina dan mengirim sinyal geopolitik ke Barat serta negara-negara Indo-Pasifik termasuk Indonesia.

Beijing — Kementerian Pertahanan Republik Rakyat China (PRC) secara resmi mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy) dan Angkatan Laut Federasi Rusia akan terus memperluas skala serta kompleksitas latihan gabungan mereka, menegaskan komitmen jangka panjang kedua kekuatan militer terbesar di Eurasia untuk mendalami interoperabilitas operasional. Pernyataan tersebut dirilis pada Minggu (12/7) pasca penutupan rangkaian latihan maritim tahunan bertajuk "Naval Interaction-2026" yang berlangsung di perairan Laut Kuning sejak 6 hingga 13 Juli 2026.

Menurut keterangan resmi Kementerian Pertahanan China, kedua belah pihak telah menuntaskan sesi latihan di wilayah perairan terbuka (open sea) pada Sabtu (11/7), melibatkan manuver taktis tingkat lanjut seperti formasi berlayar bersama, latihan pertahanan udara terpadu, operasi anti-perisai (ASW), serta penyerangan simulasi terhadap target permukaan dan udara. Latihan kali ini dikabarkan melibatkan armada canggih dari kedua sisi, termasuk destroyer tipe 052D dan fregat tipe 054A milik PLA Navy, serta fregat kelas Admiral Gorshkov dan korvet kelas Steregushchiy milik Angkatan Laut Rusia, didukung oleh helikopter anti-perisai Ka-27 dan Z-9 serta kapal pendukung logistik.

"Kedua belah pihak akan terus memperluas cakupan dan ruang lingkup latihan gabungan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan rasa saling percaya," ujar pernyataan resmi Kementerian Pertahanan China, sebagaimana dikutip oleh Sputnik dan RIA Novosti. Frasa "keterbukaan dan transparansi" tersebut sengaja ditekankan untuk menjawab kekhawatiran Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya di NATO serta Indo-Pasifik, yang menganggap kerjasama militer Beijing-Moskow sebagai tantangan terhadap tatanan keamanan berbasis aturan (rules-based order).

Latihan "Naval Interaction" sendiri telah menjadi agenda rutin tahunan sejak 2012, namun skala dan cakupannya mengalami peningkatan signifikan pasca invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Krisis tersebut mendorong China dan Rusia mempererat "kemitraan strategis komprehensif" mereka, mencakup domain militer, teknologi pertahanan, intelijen, hingga koordinasi diplomatik di forum multilateral seperti PBB, SCO, dan BRICS. Analis militer memperkirakan edisi 2026 ini menjadi yang paling kompleks secara teknis, dengan integrasi sistem C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang memungkinkan pertukaran data taktis real-time antara platform-platform heterogen kedua negara.

Dari perspektif geopolitik, pemilihan Laut Kuning sebagai lokasi latihan bukan tanpa alasan. Laut semi-terbuka ini berbatasan langsung dengan China, Korsel, dan Korea Utara, serta menjadi jalur vital perdagangan maritim menuju Pelabuhan Tianjin dan Incheon. Kehadiran armada Rusia di sini — jauh dari basis utamanya di Vladivostok dan Petropavlovsk-Kamchatsky — mendemonstrasikan kemampuan proyeksi kekuatan jarak jauh (power projection) Moskow di Asia Tenggara, sekaligus menguji logistik operasional lintas wilayah. Bagi China, latihan ini berfungsi sebagai force multiplier dalam menegaskan klaim maritim dan menciptakan lingkungan keamanan yang lebih menguntungkan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

Kementerian Pertahanan China menegaskan bahwa latihan gabungan bertujuan "meningkatkan kontribusi kedua negara dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global." Namun, pakar keamanan internasional seperti Dr. Collin Koh dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura menilai narasi tersebut bersifat selektif. "Kedua negara mendefinisikan 'stabilitas' sebagai tatanan yang mengakomodasi kepentingan sentral mereka — bagi China soal Taiwan dan Laut China Selatan, bagi Rusia soak Ukraina dan keamanan Eropa Timur. Latihan ini adalah sinyal keras kepada Washington dan sekutunya bahwa alternatif strategis sudah siap," ujarnya.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan pengendali selat-strategis seperti Malaka, Sunda, dan Lombok, dinamika ini menuntut respons kebijakan yang cermat. Meskipun Jakarta menganut politik bebas aktif dan non-blok, eskalasi militrisasi di perairan tetangga utara secara langsung mempengaruhi kalkulasi keamanan maritim nasional. TNI AL saat ini tengah dalam program modernisasi armada (Minimum Essential Force) yang mencakup akuisisi fregat tipe Arrowhead 140, korvet tipe Bung Tomo, serta kapal selam tipe Nagapasa — semua dirancang untuk operasi di lingkungan maritim yang semakin kompleks dan berkontestasi.

Ke depan, observator memprediksi kerjasama China-Rusia akan meluas ke domain baru: pengembangan senjata hipersonik bersama, satelit rekognisi militer, serta doktrin perang hibrid yang menggabungkan operasi siber, kognitif, dan konvensional. Latihan "Naval Interaction-2027" diperkirakan akan mencakup skenario multi-domain operations (MDO) dengan melibatkan aset ruang angkasa dan siber secara terintegrasi. Bagi Indonesia, tantangan ganda ini menegaskan urgensi memperkuat kemampuan situational awareness maritim (MDA), kerjasama intelijen regional melalui forum seperti ASEAN Defence Ministers' Meeting (ADMM) dan Indian Ocean Naval Symposium (IONS), serta diplomasi pertahanan yang seimbang untuk menghindari terjebak dalam polarisasi kekuatan besar.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi interoperabilitas militer China-Rusia secara langsung mengubah lanskap keamanan maritim di Indo-Pasifik, memaksa Indonesia mempercepat modernisasi TNI AL dan memperkuat awareness domain maritim (MDA) untuk melindungi kepentingan nasional di selat-strategis. Polarini kekuatan besar ini juga menciptakan risiko terjadinya kesalahan kalkulasi (miscalculation) di perairan berkontestasi yang berdampak pada keamanan jalur perdagangan vital bagi ekonomi Indonesia. Di sisi teknologi, integrasi sistem C4ISR heterogen dalam latihan ini menjadi studi kasus nyata bagi pengembangan sistem pertahanan berbasis jaringan (network-centric warfare) yang relevan untuk doktrin militer Indonesia ke depan.

Sumber Asli
Antara News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit