Internasional

Colo-Colo Usulkan Pengecualian agar Vozinha Pakai Julukan di Jersey

Ringkasan

  • Klub Chile Colo-Colo mengajukan permohonan ke asosiasi sepak bola nasional agar kiper veteran Cape Verde, Vozinha, boleh mencetak julukannya di punggung jersey saat debut musim ini.

Colo-Colo, raksasa sepak bola Chile, sedang berusaha keras agar kiper baru mereka, Vozinha, dapat memakai julukan yang sudahkenal dunia di punggung jersey saat laga resmi. Klub tersebut telah mengirim surat resmi ke Asosiasi Sepak Bola Profesional Chile (ANFP) meminta pengecualian dari aturan yang melarang penggunaan nama panggung pada jersey pemain.

Vozinha, nama aslinya Josimar José Évora Dias, berusia 40 tahun dan baru saja menarik perhatian global usai penampilan gemilang di Piala Dunia 2022 bersama timnas Cape Verde. Popularitasnya melonjak di media sosial, terutama Instagram, di mana penggemar dari berbagai negara mengikuti kisah perjuangannya dari lapangan tanah hingga panggung dunia.

Peraturan liga Chile sangat ketat soal identitas pemain. Menurut pasal yang berlaku, hanya nama keluarga ayah atau ibu yang boleh dicetak di bagian atas punggung jersey, dengan tinggi huruf 5 hingga 5,5 sentimeter. Inisial nama depan boleh ditambahkan, namun julukan, gelar, atau nama panggung dilarang keras. Jika ada dua pemain dengan nama keluarga sama, inisial nama depan atau nama keluarga kedua digunakan sebagai pembeda.

Meski demikian, ANFP pernah memberikan pengecualian pada kasus-kasus tertentu sebelumnya. Presiden Colo-Colo, Aníbal Mosa, mengungkapkan bahwa ia sudah berbicara dengan pihak asosiasi dan menemukan sikap terbuka. "Kami punya masalah ini. Saya bicara dengan ANFP dan mereka menunjukkan disposisi baik. Sudah ada Dewan Presiden yang dijadwalkan hari Jumat. Saya juga sudah berbicara dengan beberapa presiden klub lain dan mereka mendukung kemungkinan Vozinha bermain dengan nama Vozinha, mengingat dia memakainya di acara paling besar di dunia," ujar Mosa kepada wartawan.

Julukan Vozinha sendiri bermakna "nenek kecil" dalam bahasa Portugal. Nama itu melekat sejak masa kanak-kanak saat ia sering menangis pulang ke rumah kakek nenek setelah kalah bermain bola di jalanan. Kisah unik itu justru menambah daya tarik naratif di balik sosok kiper yang debut profesionalnya relatif terlambat.

Kontrak yang disepakati berjangka enam bulan dengan opsi perpanjangan 12 bulan lagi. Sebelum bergabung ke Santiago, Vozinha terakhir membela klub divisi dua Portugal, Chaves, dan pernah bermain di Angola, Siprus, Moldova, serta Slovakia. Pengalaman lintas benua itu dinilai akan memperkualitas lini belakang Colo-Colo di Liga Chile dan Copa Libertadores.

Di sisi lain, kebijakan nama di jersey di Indonesia jauh lebih longgar. Liga 1 bahkan mengizinkan pemain memakai nama panggung atau julukan yang sudah dikenal publik, seperti "Bambang" bagi Bambang Pamungkas atau "Egy" untuk Egy Maulana Vikri. Hal ini menciptakan identitas branding yang kuat bagi pemain dan klub, sekaligus memudahkan penggemar mengenali idola mereka di tribun.

Perbedaan regulasi ini menimbulkan diskusi menarik soal komersialisasi nama pemain. Julukan yang sudah jadi brand global — seperti Vozinha — memiliki nilai pasar tersendiri, baik untuk penjualan jersey maupun aktivasi sponsor. Jika pengecualian diberikan, Colo-Colo bisa memanfaatkan momentum popularitas dunia untuk meningkatkan pendapatan komersial di tengah kompetisi yang ketat.

Keputusan Dewan Presiden ANFP hari Jumat akan menjadi titik tolak. Jika disetujui, Vozinha akan menjadi pemain asing pertama dalam sejarah liga Chile yang resmi memakai julukan di jersey resmi. Jika ditolak, klub harus mencetak nama keluarga "Dias" atau "Évora" sesuai aturan, yang berarti kehilangan momentum pemasaran yang sudah dibangun sejak Piala Dunia.

Sementara itu, penggemar Colo-Colo sudah memenuhi media sosial dengan tagar #VozinhaEnLaCamiseta, menunjukkan dukungan masif. Tekanan opini publik ini bisa memengaruhi keputusan para presiden klub yang turut hadir dalam rapat. Apapun hasilnya, kasus ini menegaskan betapa pentingnya fleksibilitas regulasi untuk mengakomodasi nilai budaya dan komersial di era digital.

Langkah selanjutnya bagi Vozinha adalah tiba di Santiago hari Kamis, menjalani pemeriksaan medis, lalu bergabung latihan tim. Jika debutnya berjalan lancar, kisah "nenek kecil" dari Cape Verde akan menambah babak baru dalam sejarah sepak bola Amerika Selatan — dan mungkin menginspirasi liga lain untuk meninjau kembali aturan nama di jersey.

Mengapa Ini Penting

Kasus Vozinha menunjukkan bagaimana regulasi liga bisa membatasi atau mendorong potensi komersial seorang pemain yang sudah memiliki brand global. Jika pengecualian disetujui, ini menciptakan preseden bagi liga lain — termasuk Liga 1 — untuk lebih fleksibel dalam mengakomodasi identitas pemain demi nilai sponsorship dan daya tarik penjualan merchandise. Di Indonesia, di mana julukan sudah menjadi budaya, keputusan Chile bisa jadi referensi saat federasi meninjau aturan seragam di masa depan.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit