Pasukan militer Israel melakukan pembongkaran massal di desa Khirbet al-Tabban, wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat, pada Rabu (4/9/2026). Sebanyak 12 rumah beserta fasilitas pendukung kehidupan milik warga lokal dihancurkan tanpa peringatan sebelumnya, menyebabkan sekitar 70 penduduk kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.
Kondisi di lokasi kejadian kini memprihatinkan. Puing-puing bangunan berserakan di mana-mana, sementara fasilitas air bersih dan sanitasi yang menjadi kebutuhan vital warga telah lenyap. Para penduduk, termasuk anak-anak dan lansia, kini terpaksa berlindung di bawah terik matahari tanpa dinding atau atap yang memadai untuk melindungi mereka dari cuaca ekstrem.
Nidal Younis, kepala Dewan Masafer Yatta, menggambarkan aksi ini sebagai upaya sistematis untuk menghapus desa tersebut dari peta. Meskipun ditekan dengan pembongkaran yang memporak-porandakan kehidupan mereka, Younis menegaskan bahwa warga menolak untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Bagi penduduk setempat, bertahan di tanah ini bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya jalan hidup yang mereka miliki.
Konflik di wilayah Masafer Yatta memiliki akar sejarah yang panjang. Israel telah menetapkan kawasan ini sebagai zona latihan militer sejak beberapa dekade lalu. Keputusan pengadilan pada 2022 yang memberikan lampu hijau bagi pengusiran warga dari area tersebut semakin memperburuk posisi hukum penduduk Palestina. Pihak berwenang Israel berdalih bahwa bangunan-bangunan yang dihancurkan tidak memiliki izin resmi, sebuah klaim yang bagi warga setempat mustahil dipenuhi karena sulitnya akses pengurusan izin di Area C.
Bagi penduduk seperti Nasser Mahmoud Obeid, yang lahir di desa tersebut pada 1977, pembongkaran ini bukanlah pengalaman pertama. Ia telah menyaksikan berbagai upaya pengusiran sejak 1999 dan serangan berulang dari pihak militer maupun pemukim. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk membangun kembali rumahnya dari nol, menegaskan bahwa tanah ini adalah warisan leluhur yang harus dipertahankan.
Suad Mohammed Obeid, warga yang telah mendiami desa tersebut selama 32 tahun, kini kehilangan mesin jahit yang menjadi sumber penunjang ekonomi keluarganya. Kehidupan yang dulu berpusat pada pertanian dan peternakan kini hancur lebur. Ketakutan akan serangan susulan dan ketiadaan tempat berlindung membuat malam-malam bagi anak-anak dan cucunya menjadi mimpi buruk yang panjang.
Fenomena penggusuran paksa ini memicu kekhawatiran global terkait hak asasi manusia dan pemindahan penduduk secara paksa. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan telah menyoroti potensi pembersihan etnis di balik kebijakan pembongkaran yang terjadi secara beruntun di Tepi Barat. Situasi ini menunjukkan eskalasi ketegangan yang kian nyata di lapangan.
Bagi masyarakat Indonesia, isu ini memiliki resonansi emosional dan politis yang kuat. Sebagai negara yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, berita mengenai nasib warga di Masafer Yatta sering kali memicu simpati mendalam. Pengalaman ini pun menjadi pengingat akan pentingnya kedaulatan tanah dan hak atas tempat tinggal sebagai hak dasar manusia yang universal.
Secara sosiologis, keteguhan warga Khirbet al-Tabban mencerminkan resistensi akar rumput terhadap tekanan struktural yang besar. Di banyak negara, termasuk Indonesia, isu sengketa lahan sering kali berakhir dengan relokasi, namun dalam konteks Tepi Barat, relokasi berarti kehilangan identitas nasional dan ruang hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menatap masa depan, tantangan terbesar bagi warga desa adalah menghadapi musim dingin yang akan datang. Tenda-tenda sementara dinilai tidak akan cukup kuat menahan angin kencang dan suhu dingin. Tanpa adanya bantuan logistik yang konsisten, keberlangsungan hidup penduduk di sana berada dalam ancaman nyata setiap harinya.
Younis menekankan bahwa tujuan akhir dari kebijakan pembongkaran ini adalah mengubah realitas demografis di lapangan. Namun, selama penduduk masih memiliki tekad untuk kembali membangun, upaya pengosongan wilayah tersebut akan terus menghadapi hambatan moral dan fisik dari masyarakat setempat.
Tragedi di Khirbet al-Tabban kini menjadi simbol perlawanan warga Palestina dalam mempertahankan tanah mereka di tengah gempuran kebijakan yang tidak berpihak. Meski rumah mereka rata dengan tanah, semangat untuk menetap tetap menyala di antara puing-puing yang tersisa, menjadi potret nyata ketabahan manusia di tengah konflik yang tak berkesudahan.