New York menjadi saksi sejarah ketika tim nasional Haiti kembali berlaga di panggung Piala Dunia setelah penantian panjang selama 52 tahun. Bagi Murielle Lodvil, seorang diaspora Haiti berusia 52 tahun, momen ini bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa, melainkan sebuah perayaan identitas yang telah dinantikannya sepanjang hidup. Di kawasan Little Haiti, New York, suasana kedai dan restoran sempat hening sebelum meledak dalam sorak-sorai saat tim kebanggaan mereka mencetak gol ke gawang Maroko.
Meskipun Haiti harus menelan kekalahan dalam laga tersebut dan tersingkir dari fase grup setelah sebelumnya ditekuk oleh Brasil dan Skotlandia, semangat para pendukung tidak lantas padam. Bagi Murielle dan adiknya, Barbara Albert, kesempatan untuk menyaksikan tim nasional mereka berlaga di ajang sebesar Piala Dunia adalah sebuah pencapaian emosional yang melampaui statistik di papan skor. Mereka merasa bangga melihat representasi Haiti di panggung global.
Antusiasme ini terlihat nyata di UBS Arena, Elmont, New York, yang menjadi rumah bagi komunitas Haiti terbesar kedua di Amerika Serikat. Data US Census Bureau tahun 2024 mencatat terdapat sekitar 113.000 penduduk berdarah Haiti di wilayah tersebut. Ribuan pendukung yang memadati stadion dengan atribut lengkap, mulai dari jersey hingga bendera kebanggaan, menciptakan lautan warna merah dan biru yang mendominasi atmosfer pertandingan.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, terselip realitas pahit yang dihadapi komunitas Haiti di Amerika Serikat. Maude Schwartz, seorang pemilik studio Pilates yang telah menetap di AS sejak 1990, mengungkapkan bahwa tidak semua anggota keluarga bisa merasakan euforia ini secara langsung. Ia menceritakan bahwa keponakannya berulang kali gagal mendapatkan visa untuk berkunjung ke Amerika Serikat, sebuah hambatan yang mencerminkan tantangan imigrasi yang lebih luas bagi warga Haiti.
Situasi ini diperparah oleh kebijakan imigrasi dan pembatasan perjalanan yang sempat diterapkan, yang membatasi mobilitas warga Haiti untuk dapat berkumpul bersama keluarga mereka di Amerika Serikat. Kendala birokrasi dan ketidakpastian status hukum menjadi bayang-bayang yang terus mengikuti kehidupan sehari-hari diaspora, bahkan di tengah momen perayaan budaya seperti Piala Dunia.
Bagi komunitas Haiti, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, melainkan simbol eksistensi dan perjuangan di tanah rantau. Kehadiran mereka di stadion adalah bentuk perlawanan terhadap isolasi, sekaligus harapan agar suara dan kehadiran mereka diakui secara lebih luas oleh dunia internasional, meski hambatan sistemik masih terus menantang kehidupan mereka di Amerika Serikat.