Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik pedas terhadap keterlibatan negaranya dalam aliansi pertahanan NATO. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Kamis (2/7), Trump menyebut hubungan antara Amerika Serikat dan NATO saat ini sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan berat sebelah. Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan KTT NATO yang dijadwalkan berlangsung di Ankara, Turki.
Dalam pernyataan tersebut, Trump secara spesifik menyoroti bahwa aliansi tersebut tidak memberikan dukungan timbal balik yang setara kepada Washington. Ia menegaskan bahwa hubungan yang terjalin saat ini bukanlah hubungan yang resiprokal, di mana Amerika Serikat memikul beban terlalu berat dibandingkan dengan negara anggota lainnya. Sentimen ini bukanlah hal baru, mengingat Trump telah berulang kali mengekspresikan ketidaksenangannya terhadap kontribusi negara-negara Eropa dalam aliansi tersebut.
Ketegangan ini semakin meningkat seiring dengan kritik Trump terhadap respons sekutu Eropa terkait konflik di Iran. Trump merasa kecewa setelah beberapa negara anggota NATO membatasi penggunaan pangkalan militer mereka bagi pasukan Amerika Serikat. Hal ini memperkuat keinginan Trump agar negara-negara di Eropa mulai mengambil peran kepemimpinan dalam sistem pertahanan mereka sendiri, daripada terus-menerus bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat.
Sebagai bukti argumennya, Trump melampirkan grafik yang menunjukkan perbandingan pengeluaran pertahanan antarnegara anggota. Data tersebut memperlihatkan disparitas yang mencolok, di mana Amerika Serikat mengalokasikan anggaran jauh lebih besar dibandingkan dengan mayoritas negara NATO lainnya. Trump telah lama menekan para pemimpin NATO untuk meningkatkan komitmen finansial mereka demi menjaga stabilitas kawasan.
Tekanan yang diberikan Trump sebelumnya telah membuahkan hasil dalam pertemuan tahun lalu, di mana para pemimpin NATO menyepakati komitmen untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga mencapai 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2035. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menyeimbangkan beban finansial di dalam aliansi yang telah berdiri sejak tahun 1949 tersebut.
KTT NATO yang akan datang di Ankara pada 7-8 Juli mendatang diperkirakan akan menjadi ajang krusial bagi 32 negara anggota. Pertemuan ini akan menguji soliditas aliansi di tengah tekanan internal terkait pendanaan dan pergeseran kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sejarah NATO sebagai kekuatan pertahanan yang dipimpin AS untuk menjaga stabilitas Eropa kini dihadapkan pada tantangan baru terkait relevansi dan beban tanggung jawab di masa depan.