Kendali yang muat di telapak tangan kini mampu mengarahkan pesawat tak berawak menghancurkan tank lawan dengan biaya separuh persen dari harga senjata konvensional. Realitas ini tak lagi bersifat spekulatif — lapangan tempur di Ukraina dan Gaza telah membuktikannya secara dramatis. Drone komersial yang dimodifikasi, loitering munitions, hingga sistem fiber-optik kebal jamming kini menentukan taktik medan tempur.
Pakar strategi dari S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Thomas Lim, menyebut militer di seluruh dunia mencari "peluru perak" — solusi teknologis tunggal yang menjawab ancaman berkembang. Namun ia menegaskan kunci keunggulan justru terletak pada percepatan proses akuisisi dan kemampuan beradaptasi lebih cepat dari lawan, bukan pada satu platform senjata saja.
Inggris merespons dengan mengeluarkan Rencana Investasi Pertahanan yang menetapkan dana £5 miliar (sekitar Rp 100 triliun) selama empat tahun untuk membangun kemampuan drone di ketiga matra angkatan bersenjata. Kementerian Pertahanan Inggris mengakui perang di Ukraina dan Iran menunjukkan drone murah menghancurkan target bernilai tinggi, dengan siklus inovasi berlangsung dalam minggu, bukan tahun. Program pembangunan kapal perang konvensional dibatalkan, digantikan pengembangan kapal "hybrid" yang dirancang mengoperasikan armada drone.
Korea Selatan tak ketinggalan. Kementerian Pertahanan Seoul mengumumkan rencana pengadaan 20.000 drone militer untuk menghadapi ancaman Korea Utara. Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menyebut drone sebagai "game changer" dan paket pengadaan mencakup drone pengintai jangkau pendek serta loitering munitions untuk serangan presisi. Keputusan ini langsung terinspirasi dari pelajaran medan tempur Ukraina dan Timur Tengah.
Di Ukraina, drone quadcopter modifikasi digunakan menjatuhkan granat ke lubang tank Rusia, sedangkan "dragon drone" menyemprotkan thermite — campuran aluminium dan oksida besi yang menghasilkan suhu 2.200 derajat Celsius — ke area hutan tempat unit Rusia bersembunyi. Serangan 18 Juni 2024 menembak pabrik minyak dan tanker jauh di wilayah Rusia, menembus pertahanan udara yang diklaim canggih. Laut pun jadi arena: drone laut Ukraina dilaporkan berhasil menembakkan jet tempur Rusia.
Rusia merespons dengan memperluas basis manufaktur drone domestik dan mengembangkan drone fiber-optik yang dikendalikan melalui kabel fisik, kebal terhadap jamming elektronik. Jurnalis David Kirichenko mencatat drone jenis ini mulai digunakan massal akhir 2024 untuk memutus jalur pasokan Ukraina. Escalasi teknologi ini menciptakan perlombaan senjata miniatur di medan tempur.
Hamas menunjukkan bagaimana aktorr non-negara mengadopsi doktrin drone Ukraina. Serangan 7 Oktober 2023 menggunakan drone komersial termodifikasi untuk menyerang menara komunikasi dan pos pengawasan Israel, melumpuhkan sistem bernilai jutaan dolar. Video menunjukkan drone komersial mengangkut bahan peledak menembak tank Merkava 4 Israel. Verifikasi Al Jazeera Sanad mengonfirmasi militer Israel juga mengadopsi taktik serupa.
Dr Ian Li Huiyuan dari RSIS menilai drone menyediakan alternatif viabel bagi negara dengan anggaran terbatas yang tidak mampu menguasai jet tempur atau rudal canggih. "Negara tersebut sadar akan keterbatasan, tapi setidaknya punya sesuatu dibanding tidak punya apa-apa," ujarnya. Iran memanfaatkan strategi ini untuk menutup kesenjangan teknologi dengan AS dan Israel yang memiliki kemampuan high-end tak terjangkau secara like-for-like.
Namun para pakir sepakat: drone tak akan sendirian menentukan hasil perang. Keunggulan taktis harus didukung doktrin, logistik, dan sistem C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) yang terintegrasi. Drone fiber-optik Rusia misalnya membatasi jangkauan operator, menciptakan trade-off baru antara kekebalan jamming dan fleksibilitas manuver.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menimbulkan pertanyaan strategis. TNI telah mengoperasikan drone pengintai seperti Wulung dan Elang Hitam, serta mengembangkan loitering munitions melalui PT Dirgantara Indonesia dan kolaborasi dengan produsen Turki. Namun skala pengadaan dan doktrin penggunaan masih jauh di bawah negara-negara yang kini menggenjot armada drone puluhan ribu unit. Kementerian Pertahanan perlu mengevaluasi apakah rencana Modernisasi Alutsista 2025-2029 sudah cukup responsif terhadap pergulatan paradigma ini.
Lebih lanjut, ancaman asimetris dari aktorr non-negara menggunakan drone komersial termodifikasi — seperti yang ditunjukkan Hamas — relevan bagi keamanan maritim dan perbatasan Indonesia. Kapal patroli dan instalasi vital rentan terhadap swarm drone murah. Investasi pada sistem counter-UAS (anti-drone), termasuk directed energy weapons dan electronic warfare, harus diseimbangkan dengan pengadaan drone ofensif.
Perlombaan drone global baru di awal. Negara yang mampu memproduksi massal, beradaptasi cepat, dan mengintegrasikan drone ke doktrin operasi joint force akan memegang keunggulan. Bukan peluru perak tunggal yang dicari, tapi ekosistem inovasi yang berkelanjutan — di mana Indonesia harus memutuskan posisi apakah sebagai pembeli, mitra produksi, atau pengembang teknologi souveren.