Lapangan hijau kembali menjadi panggung bagi pesan kemanusiaan yang melintasi batas politik. Dua figur sepak bola, yakni pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan dan bintang sayap Timnas Spanyol Lamine Yamal, menunjukkan dukungan terbuka kepada warga Palestina. Aksi mereka tidak hanya mendapat sorotan global, tetapi juga memantik kemarahan dari pihak Israel.
Hossam Hassan, yang dikenal dengan penampilan plontosnya, melakukan aksi tersebut usai timnya tersingkir oleh Argentina dalam laga dramatis Piala Dunia 2026. Di tengah kekalahan, Hassan terlihat membawa bendera Palestina di atas lapangan. Sementara itu, Lamine Yamal, pemain berusia 18 tahun yang merupakan bintang fenomenal FC Barcelona, mengibarkan bendera yang sama saat menaiki bus terbuka pada perayaan kemenangan La Liga Spanyol pada 11 Mei.
Dukungan Hassan bukan sekadar aksi spontan di lapangan. Menjelang pertandingan melawan Argentina di Amerika Serikat, pria asal Mesir itu secara tegas menyuarakan pembelaannya terhadap penderitaan warga Palestina dalam konferensi pers larut malam. Ia menekankan bahwa ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat Gaza mencerminkan hilangnya kemanusiaan, terlepas dari latar belakang agama maupun kebangsaan seseorang.
Yamal, yang ayahnya berasal dari Maroko, melakukan aksinya di tengah parade kemenangan Barcelona yang menarik sekitar 750.000 pendukung. Pemain termuda di Piala Dunia tersebut lalu mengunggah foto dirinya melambaikan bendera Palestina di akun Instagram pribadinya. Dengan basis pengikut lebih dari 42 juta orang, aksi digital Yamal langsung membetot perhatian publik internasional.
Konteks di balik aksi kedua tokoh ini erat kaitannya dengan eskalasi konflik di Jalur Gaza yang terus berlangsung. Hassan mendesak mereka yang memiliki wewenang untuk membayangkan diri atau anak-anak mereka hidup sehari saja tanpa tempat berlindung di bawah terik matahari atau hujan dingin. Situasi tersebut ia sebut sebagai noda pada hati nurani seluruh dunia.
Di Spanyol, aksi Yamal mendapat perisai politik dari pemerintahannya. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez membela bintang La Roja itu setelah Menteri Pertahanan Israel menuduhnya menghasut kebencian. Spanyol memang dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang paling vokal mengecam agresi Israel. Negara tersebut secara resmi mengakui kedaulatan Palestina pada Mei 2024 dan menarik duta besarnya untuk Israel secara permanen pada Maret di tengah konflik regional.
Reaksi defensif dari Israel menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di tingkat diplomatik. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut Yamal memilih untuk menghasut kebencian dan menumbuhkan permusuhan saat tentara Israel memerangi Hamas. Katz bahkan meminta FC Barcelona menjauhkan diri dari tindakan pemainnya dan menegaskan tidak ada tempat untuk hasutan atau dukungan terhadap terorisme.
Kemarahan serupa juga dilayangkan terkait aksi Hassan. Media Israel seperti The Times of Israel dan Israel Hayom mencatat kegeraman publik atas terus-menerusnya ungkapan solidaritas pelatih Mesir tersebut. Bagi warga Indonesia, dinamika ini mencerminkan betapa kuatnya resonansi isu Palestina di dunia internasional, di mana figur olahraga kini berani mengambil sikap di luar zona netralitas tradisional.
"Jika ada siapa pun di dunia ini yang tidak merasakan penderitaan rakyat Palestina, mereka telah kehilangan bagian penting dari kemanusiaan mereka," tegas Hassan dalam pernyataannya. Sementara itu, Sánchez menilai dukungan Yamal sebagai alasan lain untuk bangga kepadanya. "Lamine hanya mengungkapkan solidaritas dengan Palestina yang dirasakan oleh jutaan warga Spanyol," ujar sang perdana menteri merujuk pada sentimen publik negaranya.
Di sisi lain, Katz melalui akun Twitter pribadinya menyerang langsung aksi pemain muda tersebut. "Yamal telah memilih untuk menghasut kebencian terhadap Israel dan menumbuhkan permusuhan sementara tentara kita sedang memerangi organisasi teroris Hamas," tulis Katz. Pernyataan ini memicu perdebatan tentang batas antara kebebasan berekspresi atlet dan posisi politik resmi klub maupun federasi.
Pengamat memprediksi tren atlet menggunakan platform mereka untuk menyuarakan isu kemanusiaan akan terus meningkat. Media Arab berbahasa Inggris, Asharq Al-Awsat, mencatat adanya perdebatan di kalangan masyarakat mengenai apakah politik dan olahraga harus tetap terpisah. Namun, para pengamat menekankan bahwa posisi tersebut tidak berarti mengabaikan tindakan militer Israel di Gaza.
Ke depan, federasi sepak bola dunia seperti FIFA mungkin akan menghadapi tekanan lebih besar untuk mengambil sikap terkait konflik geopolitik. Mengingat jangkauan pengaruh pemain seperti Yamal yang menjangkau jutaan anak muda, aksi simbolis di atas lapangan tidak lagi bisa dianggap remeh. Olahraga telah bertransformasi menjadi medium diplomasi publik yang sangat berpengaruh di era digital.