Fenomena El Nino yang sedang melanda Singapura diproyeksikan akan bertahan hingga bulan Oktober tahun ini, membawa suhu lebih tinggi dan curah hujan yang berkurang. Badan Meteorologi Singapura (MSS) menegaskan pola iklim ini tidak langsung menimbulkan penyakit, namun menciptakan kondisi yang mempermudah penularan beberapa jenis infeksi. Para ahli kesehatan mulai mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat dan tenaga medis siap menghadapi gelombang kasus potensial.
Suhu udara yang melonjak mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Replikasi virus di dalam tubuh nyamuk juga berlangsung lebih cepat. "Secara umum, yang diharapkan adalah peningkatan infeksi vektorborne, termasuk dengue dan chikungunya," ujar Dr Nicholas Chew, spesialis penyakit menular di Farrer Park Hospital. Ia menambahkan bahwa kualitas udara pun ikut memburuk karena akumulasi debu, polutan, dan serbuk sari yang mengganggu penderita asma, bronkitis, hingga meningkatkan risiko kardiovaskular melalui partikel PM2.5.
Kelompok rentan teridentifikasi jelas: anak-anak kecil, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruang, serta penderita penyakit jantung dan paru yang sudah ada. Di Indonesia, pola serupa sering terulang setiap kali El Nino datang. Musim kemarau panjang memicu kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan kabut asap, sementara genangan air di area padat penduduk jadi tempat berkembang biak nyamuk. Lonjakan kasus DBD pada 2015 dan 2019 menjadi bukti nyata korelasi iklim dan epidemiologi di nusantara.
Di sisi lain, virus respiratory syncytial virus (RSV) muncul sebagai ancaman tersendiri bagi bayi. Badan Penyakit Menular (CDA) Singapura mencatat RSV sebagai penyebab virus utama hospitalisasi anak di bawah satu tahun dengan infeksi saluran napas bawah akut. Data 2025 menunjukkan RSV konsisten berada di posisi teratas virus pediatrik yang terdeteksi di klinik kesehatan primer. Dr Ooi Pei Ling, dokter anak dan reumatolog anak di International Child and Adolescent Clinic, menjelaskan gejala awal RSV mirip pilek ringan, namun bisa merambat ke saluran napas bawah menyebabkan bronkiolitis atau pneumonia.
Paradoksnya, virus RSV sendiri kurang tahan lama di udara panas kering. Namun, Dr Ooi menyoroti perilaku masyarakat yang lari ke ruangan berpendingin saat cuaca terik. "Ketika suhu sangat panas, semua orang berkumpul di dalam ruangan... dan karena kerumunan itu, virus terus diteruskan dari satu orang ke orang lain," katanya. Bayi lahir prematur atau dengan kondisi jantung, paru, dan kekebalan lemah paling berisiko tinggi. Orang tua diminta menjaga higiene tangan, menghindari kontak dekat dengan bayi saat sakit, dan mempertimbangkan vaksinasi RSV untuk ibu hamil usia kehamilan 32 hingga 36 minggu.
Vaksinasi maternal memungkinkan antibodi melintasi plasenta melindungi bayi hingga enam bulan pertama kehidupan. Jika vaksin ibu tidak dilakukan, bayi bisa menerima suntikan menerima suntikan antibodi preventif. Dr Chew menyarankan warga dengan kondisi kronis rutin kontrol dan memastikan stok obat cukup. Ia juga mengingatkan membersihkan AC dan penyaring udara sebelum digunakan intensif, karena perangkat itu bisa menampung bakteri dan jamur.
Singapura sudah pernah menghadapi El Nino beberapa kali, memberi keuntungan berupa data historis untuk anticipasi. Dr Chew menekankan pentingnya komunikasi erat antara ilmuwan cuaca, tenaga kesehatan, dan pemerintah agar langkah mitigasi tepat sasaran. "Kita harus nyaman karena fenomena ini tidak baru. Kita bisa menggunakan informasi penyakit dan infeksi masa lalu untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi kali ini," tuturnya.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Singapura relevan sebagai sistem peringatan dini. BMKG sudah merilis prakiraan iklim musiman yang mengindikasikan pengaruh El Nino pada pola hujan nasional. Kementerian Kesehatan sebaiknya memperkuat surveilans DBD dan ISPA di wilayah rawan, memastikan ketersediaan vaksin RSV saat teregulasi, serta mengedukasi masyarakat soal membersihkan erat tempat berkembang biak nyamuk dan menjaga ventilasi rumah. Kolaborasi lintas sektor — meteorologi, kesehatan, lingkungan, hingga desa — menjadi kunci mengurangi beban morbiditas saat musim kering berlanjut.
Proyeksi ke depan menuntut kewaspadaan berkelanjutan, bukan respons reaktif. Pemantauan mingguan indeks kebisingan vektor, kualitas udara, dan tren kunjungan ISPA di puskesmas harus dijadikan dashboard kebijakan. Masyarakat juga berperan aktif: menguras bak air rutin, memakai nyamuk saat tidur siang, dan segera ke fasilitas kesehatan saat bayi menunjukkan tanda-tanda bahaya seperti napas cepat, dinding dada tarik ke dalam, atau malas makan. El Nino memang tak bisa dicegah, dampak kesehatannya bisa diminimalkan dengan persiapan yang matang dan berbasis bukti.