Sains

UI dan University of Sydney Perluas Kolaborasi Riset dan Talenta Global

Ringkasan

  • Universitas Indonesia menandatangani perjanjian kerjasama strategis dengan The University of Sydney untuk membangun ekosistem riset dan pertukaran talenta berskala internasional.

Universitas Indonesia (UI) resmi memperkuat jejaring globalnya melalui penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan The University of Sydney, Australia. Perjanjian ini ditandatangani oleh Rektor UI Heri Hermansyah dan Wakil Rektor (International) University of Sydney, Kathy Belov, di Kampus UI Depok, Jawa Barat, pada hari Rabu (18/12). Kedua pihak sepakat untuk memperluas cakupan kolaborasi yang sebelumnya terbatas pada program pertukaran mahasiswa, kini mencakup penelitian bersama, pengembangan kurikulum, hingga mobilitas staf akademik.

Kerjasama ini dinilai strategis mengingat posisi University of Sydney sebagai salah satu universitas terkemuka di Asia-Pasifik yang masuk peringkat 19 dunia versi QS World University Rankings 2024. UI sendiri menempati posisi 237 global dan menjadi universitas terbaik di Indonesia. Keseimbangan reputasi ini menciptakan fondasi yang seimbang untuk kolaborasi yang saling menguntungkan, bukan sekadar aliansi simbolis.

Latar belakang peningkatan kerjasama ini tak lepas dari tekanan globalisasi pendidikan tinggi. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mendorong perguruan tinggi negeri (PTN) memperluas jaringan internasional. UI sebagai PTN terbaik memiliki mandat ganda: menjaga kualitas nasional sekaligus menjadi gerbang akses global bagi sivitas akademika Indonesia.

Di sisi Australia, University of Sydney sedang mengimplementasikan strategi "Sydney in Asia" yang menempatkan kolaborasi dengan institusi Asia-Pasifik sebagai prioritas. Indonesia dengan demografi bonus 2030 dan ekosistem riset yang berkembang menjadi mitra alami. Data Australian Department of Education menunjukkan Indonesia merupakan negara asal ke-4 mahasiswa internasional di Australia per 2023, dengan lebih dari 20.000 pelajar. Angka ini memperkuat basis budaya dan akademik untuk kolaborasi institusional yang lebih dalam.

Dampak nyata bagi ekosistem riset Indonesia cukup signifikan. Saat ini, indeks sitasi peneliti Indonesia di jurnal internasional masih jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kolaborasi dengan University of Sydney yang memiliki fasilitas penelitian kelas dunia — terutama di bidang kedokteran, teknik, dan ilmu data — membuka akses bagi peneliti UI untuk publisasi bersama di jurnal bereputasi tinggi. Hal ini langsung mendorong pencapaian Key Performance Indicator (KPI) riset universitas dan ranking global.

Bidang kesehatan menjadi salah satu fokus utama. Fakultas Kedokteran UI dan Sydney Medical School sudah memiliki jejak kolaborasi penelitian penyakit tropis dan epidemiologi. Perluasan MoU ini diharapkan mempercepat pengembangan vaksin dan terapi untuk penyakit yang endemik di wilayah Asia-Pasifik. University of Sydney memiliki Charles Perkins Centre dan Westmead Institute for Medical Research yang menjadi referensi global — fasilitas yang sulit dibangun sendiri oleh universitas tunggal di negara berkembang.

Bagi mahasiswa, program double degree dan joint supervision PhD menjadi daya tarik utama. Skema ini memungkinkan mahasiswa UI memperoleh gelar ganda atau bimbingan promotor dari kedua universitas tanpa harus menghabiskan seluruh masa studi di Australia. Biaya pendidikan yang lebih terjangkau dibandingkan studi penuh di luar negeri menjadi pertimbangan realistis bagi keluarga menengah Indonesia. Data UI menunjukkan 65% mahasiswa program internasional berasal dari kalangan menengah ekonomi.

Rektor UI Heri Hermansyah menekankan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar tanda tangan MoU. "Kami menargetkan minimal 50 publikasi bersama bereputasi internasional dan 200 mahasiswa berpartisipasi program mobilitas dalam lima tahun ke depan," ujarnya saat acara penandatanganan. Target kuantitatif ini langka dijumpai di MoU antar universitas Indonesia yang seringkali bersifat seremonial tanpa metrik evaluasi jelas.

Wakil Rektor International University of Sydney, Kathy Belov, menambah perspektif kesetaraan. "Kami tidak mencari mitra junior. Kami mencari kolaborator yang membawa keunikan data, perspektif lokal, dan talenta yang melengkapi kekuatan kami," katanya. Pernyataan ini menggeser narasi dari "bantuan negara maju" menjadi "kemitraan pengetahuan" — perubahan paradigma yang penting untuk martabat akademik Indonesia.

Tantangan implementasi tetap ada. Perbedaan kalender akademik, sistem kredit, dan birokrasi visa sering jadi hambatan teknis. UI telah membentuk unit khusus di Direktorat Kerjasama Internasional untuk mengelola alur administrasi program ganda. University of Sydney juga menunjuk koordinator regional Asia-Pasifik yang berbasis di Singapura untuk mempercepat koordinasi lintas benua.

Ke depan, model kerjasama UI-Sydney bisa menjadi templat bagi PTN lain. Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan IPB University sedang mengeksplorasi skema serupa dengan mitra Eropa dan Asia Utara. Jika berhasil, Indonesia bisa membangun konsorsium riset nasional yang terhubung ke jaringan global — mengurangi ketergantungan pada dana dan fasilitas asing secara individu.

Pada tingkat makro, kolaborasi ini memperkuat diplomasi ilmu pengetahuan (science diplomacy) Indonesia-Australia. Di tengah geopolitik yang bergolak, saluran kepercayaan antar komunitas ilmuwan dua negara menjadi aset strategis. Talenta muda Indonesia yang terekspos standar global di Sydney hari ini, akan menjadi jembatan pengetahuan dan jaringan bisnis bagi Indonesia di era ekonomi pengetahuan.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi UI-Sydney menandai pergeseran dari diplomasi universitas bersifat seremonial ke kemitraan berbasis metrik kinerja nyata — target 50 publikasi bersama dan 200 mahasiswa mobilitas dalam 5 tahun. Model ini bisa jadi referensi PTN lain untuk menghindari "MoU mati" yang selama ini marak. Bagi talenta muda Indonesia, skema double degree dan joint PhD menurunkan ambang biaya akses pendidikan global kelas atas. Jangka panjang, aliansi ini memperkuat kapasitas riset kesehatan Indonesia menghadapi pandemi masa depan melalui akses fasilitas Charles Perkins Centre dan Westmead Institute. Secara geopolitik, science diplomacy lewat komunitas ilmuwan jadi saluran kepercayaan tahan lama di tengah dinamika bilateral Indonesia-Australia yang sering bergolak.

Sumber Asli
Tempo Nasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit