Sains

Wabah Cyclospora Melanda AS, Ratusan Ribu Terinfeksi, Ini Dampak bagi Indonesia

Ringkasan

  • Amerika Serikat dilanda wabah cyclospora yang semakin meluas, dengan lebih dari 1.600 kasus terkonfirmasi dan ratusan laporan tambahan.
  • Penyakit ini menyebar melalui sayuran segar dan buah-buahan, mengancam kesehatan publik di AS dan berpotensi berdampak pada rantai pasok pangan global, termasuk Indonesia.

Amerika Serikat dilanda wabah cyclospora yang semakin meluas. Sejak 1 Mei, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mengkonfirmasi 1.645 kasus domestik dan menelusuri lebih dari 5.100 laporan tambahan. Pejabat kesehatan memperkirakan jumlah infeksi akan terus meningkat hingga Agustus.

Cyclospora adalah parasit mikroskopis yang menyebabkan penyakit usus cyclosporiasis. Organisme ini masuk ke usus dan dapat menimbulkan gejala selama berminggu-minggu jika tidak diobati. Berbeda dengan banyak penyakit menular melalui makanan, cyclospora jarang menyebar langsung antarmanusia. Setelah keluar dari tubuh melalui tinja, parasit memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu di lingkungan sebelum dapat menginfeksi orang lain.

Infeksi ini lebih jarang dibandingkan penyakit akibat bakteri seperti salmonella atau E. coli, tetapi wabah di AS menjadi lebih sering dalam satu dekade terakhir. Para ahli menduga peningkatan ini terkait dengan pengujian yang lebih baik dan kondisi lingkungan, terutama cuaca hangat yang membantu parasit bertahan hidup.

Buah-buahan dan sayuran segar menjadi sumber utama penularan dalam wabah sebelumnya. Makanan yang sering disebut termasuk selada, campuran salad dalam kemasan, ketumbar, basil, raspberry, kacang polong, coleslaw, nampan sayuran, dan campuran buah segar. Di Michigan, selada diidentifikasi sebagai kemungkinan sumber, meskipun belum ada produk, petani, atau pemasok yang dikonfirmasi sebagai penyebab.

FDA sedang mewawancarai orang yang terinfeksi tentang makanan yang mereka konsumsi sebelum sakit, lalu melacak bahan tersebut kembali melalui distributor dan pemasok, terkadang hingga ke lahan tempat sayuran itu ditanam. Taco Bell, sebagai bagian dari upaya pencegahan, dilaporkan telah menghapus selada, ketumbar, pico de gallo, dan guacamole dari menu di beberapa lokasi.

Gejala infeksi cyclospora biasanya muncul sekitar seminggu setelah terpapar, tetapi bisa muncul dua hari atau dua minggu kemudian. Gejala paling umum adalah diare berair yang sering, tetapi juga bisa disertai kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, kram perut, kembung, gas, mual, dan kelelahan ekstrem. Beberapa penderita juga mengalami muntah, nyeri tubuh, sakit kepala, demam ringan, atau gejala mirip flu. Di daerah endemik, sebagian orang bahkan tidak menunjukkan gejala.

Pihak CDC menekankan pentingnya kebersihan makanan yang baik. Meskipun mencuci sayuran tidak selalu menghilangkan parasit, para ahli menyarankan untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan buah dan sayuran, membilas semua bahan di bawah air mengalir, bahkan yang berlabel “pre‑washed”, menggunakan sikat bersih untuk buah dan sayuran berdaging keras, serta mendinginkan potongan buah dan sayuran dalam waktu dua jam.

Wabah ini berdampak pada industri pangan AS. Taco Bell adalah salah satu perusahaan yang mengambil tindakan pencegahan dengan menghapus beberapa bahan dari menu. Jika sumber kontaminasi tidak segera ditemukan, kerugian ekonomi bisa meluas, mulai dari petani hingga restoran dan distributor.

Bagi Indonesia, berita ini menjadi peringatan serius. Sistem keamanan pangan di negara-negara tropis sering menghadapi tantangan dalam hal sanitasi air irigasi dan praktik penanganan pasca-panen. Beberapa studi menunjukkan bahwa cyclospora juga terdeteksi di sayuran impor dari AS, sehingga kasus ini bisa berdampak pada persepsi konsumen dan kebijakan perdagangan.

Dianna Blau, pejabat cabang penyakit parasit di CDC, menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa parasit telah berevolusi menjadi lebih menular. “Ribuan kasus cyclospora dilaporkan setiap tahun di AS, dan masih belum jelas seberapa besar peningkatan kasus tahun ini,” katanya. Jumlah kasus saat ini sudah mencapai empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di Indonesia, pengawasan penyakit yang ditularkan melalui makanan masih terbatas. Kementerian Kesehatan telah meningkatkan pemantauan di beberapa provinsi, tetapi kapasitas laboratorium untuk mendeteksi cyclospora masih rendah. Peningkatan kerja sama regional dan investasi pada infrastruktur pengujian bisa membantu mencegah skenario serupa di Asia Tenggara.

Wabah AS ini menyoroti pentingnya rantai pasok pangan yang transparan dan praktik sanitasi yang ketat. Bagi konsumen Indonesia, ini berarti perlu lebih berhati-hati saat memilih sayuran dan buah-buahan segar, serta memastikan bahwa makanan tersebut dicuci dengan benar. Bagi pengambil kebijakan, ini adalah ajakan untuk memperkuat standar keamanan pangan dan sistem respons cepat terhadap wabah penyakit.

Mengapa Ini Penting

Meskipun cyclospora jarang ditemukan di Indonesia, wabah di AS menunjukkan betapa cepatnya kontaminasi makanan dapat menyebar melalui rantai pasok global. Hal ini menggarisbawahi kerentanan sistem pangan Indonesia yang bergantung pada impor sayuran dan buah-buahan, terutama dari Amerika. Data ini mendorong kebutuhan mendesak untuk meningkatkan standar sanitasi pertanian, memperkuat pengawasan penyakit, dan mendidik konsumen tentang praktik penanganan makanan yang aman, sehingga melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga kepercayaan terhadap industri pangan lokal.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit