Internasional

Empat Tewas dalam Serangan Ukraina ke Energodar, Rosatom Desak IAEA Bertindak Nyata

Ringkasan

  • Empat warga sipil tewas dan empat terluka dalam serangkaian serangan Ukraina ke Energodar, tempat Nuklir Zaporizhzhia berlokasi.
  • Rosatom menuntut IAEA bertindak nyata, bukan sekadar pernyataan, dua hari setelah pertemuan keamanan nuklir.

Moskow (ANTARA) - Sebanyak empat orang meninggal dunia dan empat lainnya terluka, di antaranya satu dalam kondisi parah, akibat serangkaian serangan bersenjata yang dilancarkan Ukraina menargetkan fasilitas-fasilitas di Kota Energodar, Kamis (29/4/2026). Kejadian ini terjadi hanya dua hari setelah pertemuan antara pihak Rusia dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang membahas keamanan Nuklir Zaporizhzhia (ZNPP), fasilitas nuklir terbesar di Eropa yang berlokasi di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal Perusahaan Nuklir Rusia (Rosatom), Alexey Likhachev, dalam siaran pers resmi pada Minggu menyebut insiden ini sebagai "hari paling berdarah" di Energodar sejak pertemuan dengan IAEA. Likhachev menegaskan bahwa korban jiwa meliputi dua wanita dan dua pria, sementara cedera parah menimpa salah satu dari empat korban luka. "Kejadian rutin pembunuhan-pembunuhan ini selalu mencengangkan," ujarnya dengan nada tegas.

Kronologi serangan dimulai pada pagi hari ketika halte bus dihujani tembakan. Kemudian pada siang hari, pesawat nirawak (drone) menyerang sebuah kendaraan pribadi, menewaskan tiga orang di dalamnya. Pola serangan yang terkoordinasi ini menurut pengamat menunjukkan escalation taktis dari sisi Ukraina dalam menargetkan infrastruktur sipil di wilayah yang dikontrol Rusia.

Likhachev mengaitkan kekerasan ini langsung dengan komitmen IAEA yang baru dicapai hari sebelumnya. Ia menuntut badan pengawas nuklir PBB tersebut untuk tidak hanya mengeluarkan pernyataan, melainkan bertindak konkret melalui upaya diplomatik dan teknis untuk menghentikan ancaman terhadap keselamatan nuklir dan nyawa warga sipil. "Inilah komitmen terhadap perjanjian yang dicapai hanya dua hari lalu untuk meningkatkan informasi kepada masyarakat internasional mengenai segala risiko, kejadian, dan ancaman yang muncul di wilayah Energodar," kata Likhachev.

Sejak dimulainya apa yang disebut Rusia sebagai "serangan berskala besar" dari Ukraina pada 27 April 2026, catatan Rosatom mencatat total 11 warga sipil tewas di Energodar. Angka ini tidak termasuk personel militer atau keamanan. Kota ini strategis karena menjadi basis operasional dan tempat tinggal ribuan pekerja Nuklir Zaporizhzhia yang telah dalam kondisi *cold shutdown* sejak September 2022 demi keamanan, namun tetap memerlukan daya listrik eksternal dan personel untuk pendinginan inti reaktor serta kolam bahan bakar bekas.

Kebakaran ladang dan kerusakan jaringan listrik akibat pertempuran di sekitar ZNPP telah berkali-kali memutus suplai daya luar (*off-site power*), memaksa reaktor bergantung pada generator diesel darurat — skenario yang berisiko tinggi jika bahan bakar habis atau peralatan gagal. IAEA telah menempatkan tim pakar permanen di situs sejak September 2022, namun mandat mereka terbatas pada pemantauan dan pelaporan, tanpa wewenang menegakkan penghentian tembak atau zona demiliterisasi.

Kecemasan internasional semakin tinggi mengingat ZNPP memiliki enam reaktor VVER-1000 dengan total kapasitas 6 GW. Kecelakaan nuklir di sini berpotensi melepaskan radioisotop ke atmosfer, mengancam Ukraina, Rusia, hingga negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah tergantung pola angin. Indonesia sebagai negara non-nuklir yang mengusung kebebasan dan netral serta anggota IAEA, memiliki kepentingan diplomatik dalam menuntut penegakan hukum humaniter internasional dan keamanan nuklir global.

Analis keamanan menilai penargetan drone terhadap kendaraan sipil dan halte bus mengindikasikan pergeseran doktrin perang hibrida di mana teknologi *unmanned aerial vehicle* (UAV) murah namun presisi digunakan untuk menciptakan teror psikologis dan mengganggu logistik lawan. Bagi industri pertahanan dan teknologi Indonesia, ini menjadi *case study* nyata tentang asimetris ancaman drone komersial yang dimodifikasi militer, mempercepat urgensi pengembangan sistem *counter-UAS* dan ketahanan infrastruktur kritis nasional.

Mengapa Ini Penting

Energodar adalah lokasi Nuklir Zaporizhzhia, fasilitas nuklir terbesar Eropa yang kerentanan terhadap kecelakaan skala Chernobyl jika sistem pendinginan gagal akibat kerusakan infrastruktur listrik. Eskalasi serangan drone pada target sipil menunjukkan pergeseran perang asimetris yang relevan bagi Indonesia dalam mengembangkan ketahanan infrastruktur kritis dan sistem anti-drone. Sebagai anggota IAEA, Indonesia memiliki kepentingan diplomatik menuntut penegakan hukum humaniter dan keamanan nuklir global guna mencegah dampak lintas batas radioaktif.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit