Internasional

Gempa Colombia Tewaskan 265 Orang, Presiden Baru Umumkan Dana Rekonstruksi Darurat

Ringkasan

  • Presiden Colombia Abelardo De La Espriella mengumumkan dana darurat untuk membangun kembali rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur usai gempa magnitudo 7,4 yang menewaskan 265 orang dan menghilangkan jejak hampir 500 warga di barat negara itu.

Gempa bumi magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Colombia pada Senin (11/8) pagi waktu setempat telah menewaskan 265 nyawa dan melukai 3.770 orang, berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan pemerintah. Lebih dari 9.550 rumah hancur total, sementara hampir 500 warga masih dilaporkan hilang jejaknya hingga Rabu (13/8). Kedua kota terbesar yang terdampak parah adalah Cali, kota ketiga terbesar Colombia, dan Pereira, pusat wilayah kopi di pegunungan Andes.

Presiden Abelardo De La Espriella, yang baru dilantik tiga hari sebelum bencana itu, mengakui tragedi ini sebagai "bencana dengan proporsi luar biasa" dalam pidato kenegaraan pada Rabu. Ia mengumumkan status darurat ekonomi untuk mempercepat penanganan kerusakan, meski belum merinci langkah konkret yang akan diambil. Dana darurat itu diperuntukkan untuk membangun kembali rumah sakit, sekolah, rumah warga, dan infrastruktur vital yang roboh.

Waktu emas 72 jam untuk mencari korban hidup kini telah berakhir, menurut peringatan Wali Kota Cali, Alejandro Eder. Tim penyelamat kini berfokus pada tujuh bangunan di Cali yang diduga masih menyimpan korban di bawah reruntuhan. Di kompleks Torres del Limonar, pasukan militer, pemadam kebakaran, dan relawan membentuk barisan manusia mengangkut puing secara manual untuk mengurangi getaran agar sensor bisa mendeteksi gerakan di bawah tumpukan beton.

Kisak-kisak keluarga menunggu kabar di depan ruang mayat di Palmira, 30 kilometer di timur laut Cali. Santiago Lloreda, 31 tahun, kehilangan ibu dan putrinya Salma berusia 13 bulan yang harus diidentifikasi melalui sampel DNA karena belum memiliki sidik jari. "Putriku adalah mimpi yang jadi nyata," ujarnya sambil menahan air mata. "Ibuku adalah tiang keluarga kami, dia menyerahkan hidupnya untuk merawat cucunya."

Ricardo, yang menolak menyebutkan nama belakang, terbang dari Miami untuk mengurus jenazah saudaranya. Keponakannya saat ini dirawat karena patah tengkorak, rahang, kaki, dan paru-paru robek. "Dia hidup. Kita yakin dia akan sembuh," kata pria itu sambil memuji solidaritas tetangga dan tenaga medis yang bekerja tanpa henti.

Bencana ini menjadi ujian pertama bagi De La Espriella, yang memenangkan pemilu dengan margin tipis atas calon pemerintah kiri sebelumnya. Platform kampanyenya berfokus pada pengeluaran publik dan keamanan yang lebih keras — termasuk pemotongan dana untuk unit manajemen risiko negara yang kini berperan sentral dalam tanggap darurat. "Gempa ini akan menjadi tes pertama bagi presiden baru," kata Tiziano Breda, analis senior ACLED untuk Amerika Latin dan Karibia.

Menteri Luar Negeri Omar Bula membantah kabar bahwa Colombia menolak bantuan internasional. Kantornya mengkoordinasikan pengiriman bantuan yang mulai tiba dari Peru, Meksiko, dan El Salvador. Tim pencari dan penyelamat Topos Azteca dari Meksiko bahkan tiba langsung dari Venezuela, yang baru mengalami gempa ganda mematikan akhir Juni lalu.

Sektor kopi, tulang punggung ekonomi Colombia sebagai produsen ketiga terbesar dunia, mengalami gangguan logistik. Pelabuhan Buenaventura di Pasifik sementara dihentikan untuk inspeksi longsoran di jalan utama, namun ekspor berlanjut melalui pelabuhan di sisi Karibia. Ratusan ribu keluarga petani kopi bergantung pada kelancaran rantai pasok ini.

Beberapa wali kota telah menerapkan jam malam untuk mencegah perampokan di tengah kekacauan. Indira Meneses, perawat 49 tahun di Pereira, bercerita depan rumahnya runtuh dan mengurung dia bersama dua anak serta ibu lanjut usianya. Tetangga membantu mengeluarkan mereka, tapi trauma tetap menghantui. "Lima tetangga saya meninggal di bawah reruntuhan," kata dia. "Kami menunggu bantuan pemerintah untuk bangun kembali, tapi hingga sekarang belum ada yang datang."

Analis melihat bencana ini sebagai momen kritis bagi legitimasi pemerintahan baru. De La Espriella harus menyeimbangkan janji kampanye efisiensi anggaran dengan kebutuhan darurat yang masif. Unit manajemen risiko yang dibiayanya dikurangi justru menjadi ujung tombak penyelamatan — sebuah ironi yang tidak luput dari perhatian publik dan lawan politik.

Masyarakat sipil menunjukkan solidaritas luar biasa. Barisan relawan di Cali, koordinasi lintas batas dari tim Meksiko, dan dukungan dari negara tetangga menunjukkan ketahanan sosial Colombia. Namun tantangan rekonstruksi jangka panjang — perumahan, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur jalan — akan menguji kapasitas fiskal dan manajerial negara ini untuk tahun-tahun mendatang.

Indonesia, yang juga berada di Cincin Api Pasifik dan rentan gempa bumi, bisa memetik pelajaran dari respons Colombia. Koordinasi militer-sipil, pemanfaatan teknologi sensor untuk deteksi korban, dan protokol identifikasi DNA untuk korban tanpa identitas adalah praktik yang relevan untuk diterapkan di sistem mitigasi bencana nasional. Bantuan lintas negara yang cepat dari tetangga juga mengingatkan pentingnya kerjasama regional ASEAN dalam manajemen bencana.

Mengapa Ini Penting

Gempa Colombia mengingatkan Indonesia bahwa bencana tidak memilih momen politik — presiden baru yang baru dilantik tiga hari justru harus memimpin tanggap darurat skala besar. Pelajaran krusial: unit manajemen risiko tidak boleh jadi korban efisiensi anggaran, karena justru unit itu yang jadi garis depan saat bencana. Indonesia juga perlu memperkuat protokol identifikasi korban via DNA dan kerjasama lintas batas dengan negara tetangga ASEAN agar bantuan tiba lebih cepat saat bencana besar terjadi.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
13 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit