Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan komitaman pemerintah mempercepat pembangunan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela melalui groundbreaking yang digelar di Tanimbar, Maluku, Kamis. Proyek bernilai 20,95 miliar dolar AS — setara Rp342 triliun — ini menjadi investasi energi terbesar di Indonesia Timur dan menandai langkah nyata menuju kemandirian energi nasional.
Dalam sambutannya, Bahlil mengungkapkan rincian produksi yang ditargetkan: 9,5 juta ton LNG per tahun, 35 ribu barel kondensat per hari, serta 150 juta kaki kubik gas alam per hari. Angka-angka ini bukan sekadar proyeksi statistik, melainkan fondasi untuk mengubah lanskap pasokan energi domestik yang selama ini bergantung pada impor dan produksi dari wilayah barat Indonesia.
Latar belakang proyek ini tak terlepas dari urgensi mengurangi ketergantungan energi fosil berkarbon tinggi. Blok Masela yang dioperasikan INPEX Masela Ltd melalui anak perusahaan INPEX Corporation, berada di Laut Arafura sekitar 750 kilometer selatan Ambon. Kedalaman air 400–800 meter dan jarak 12 mil dari pulau terdekat menuntut teknologi rekayasa canggih — tantangan yang dijawab dengan adopsi Carbon Capture and Storage (CCS) senilai 1 miliar dolar AS.
Teknologi CCS ini bukan sekadar pelengkap. Ia memposisikan Masela sebagai proyek gas pertama di Indonesia yang mengintegrasikan penangkapan karbon sejak desain awal, selaras dengan komitmen net zero emission 2060. Bahlil menegaskan 60 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan domestik — mencakup pembangkit listrik, industri pupuk, dan petrokimia — sementara 40 persen sisanya diekspor untuk memperkuat neraca pembayaran.
Dampak ekonomi melampaui sektor energi. Selama masa konstruksi yang dijadwalkan dimulai 2027, proyek ini akan menyerap 12 ribu tenaga kerja. Angka ini signifikan bagi Maluku dan sekitarnya yang selama ini mengalami keterbatasan lapangan kerja formal. Pemerintah juga menargetkan efek deret (multiplier effect) melalui pengembangan kawasan industri turunan, pelabuhan, dan infrastruktur pendukung di Indonesia Timur.
Keterkaitan dengan Australia menambah dimensi geopolitik. Sisi selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia–Australia, namun Bahlil menegaskan seluruh blok berada di wilayah kedaulatan Indonesia. Kejelasan hukum ini krusial mengingat sejarah negosiasi batas maritim yang pernah memanas. Kehadiran INPEX, raksasa energi Jepang, juga memperkuat hubungan bilateral dalam rantai pasokan energi Asia-Pasifik.
Sisi lain yang patut diperhatikan adalah transformasi struktural perekonomian Maluku. Selama ini, provinsi ini dikenal sebagai produsen rempah-rempah dan hasil perikanan. Masela mendorong Maluku menjadi hub energi nasional — peran yang selama ini didominasi oleh Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Pergeseran ini membutuhkan pembangunan kapasitas SDM lokal, bukan hanya tenaga kerja konstruksi tapi juga insinyur, teknisi, dan manajer operasional jangka panjang.
Bahlil mengakui tantangan jadwal. Groundbreaking hari ini hanyalah awal; konstruksi fisik baru dimulai 2027 dengan target operasi komersial awal 2030-an. Keterlambatan lahan, izin lingkungan, dan logistik di wilayah terpencil tetap menjadi risiko nyata. Pemerintah telah menyiapkan tim percepatan (task force) lintas kementerian untuk memastikan tidak ada hambatan birokrasi yang mengulang kasus proyek PSN lain yang macet bertahun-tahun.
Dari perspektif keuangan negara, investasi 21 miliar dolar AS ini masuk kategori Foreign Direct Investment (FDI) besar yang tidak mengganggu APBN. Skema kontraktor karya (KKKS) memastikan berbagi hasil (production sharing) menguntungkan negara. Namun, transparansi manajemen pendapatan dan alokasi dana bagi hasil (DBH) ke daerah perlu diawasi agar manfaat benar-benar terasa masyarakat Tanimbar dan Maluku secara luas.
Masyarakat adat dan lingkungan juga jadi fokus. Aktivitas seismic, bor, dan pembangunan fasilitas onshore di pulau-pulau kecil berisiko mengganggu ekosistem laut dan kehidupan nelayan tradisional. INPEX wajib memenuhi standar AMDAL ketat dan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang substansial — bukan sekadar bantuan sekali kirim tapi pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan Masela akan jadi tolok ukur (benchmark) bagi proyek gas besar lain seperti Abadi Phase 2, Blok Gengkuh, dan pengembangan ladang gas di Cepu serta Sumatra Selatan. Jika Masela sukses tepat waktu dan budget, Indonesia punya bukti nyata mampu mengeksekusi proyek energi skala raksasa dengan standar lingkungan global — modal diplomasi energi yang kuat di forum internasional.