Selandia Baru mencatat infeksi pertama virus flu burung mematikan H5N1 pada burung asli negara itu, Jumat (17/7), setelah sepekan menemukan kasus serupa pada burung migran. Seekor elang rawa atau kahu (Circus approximans) di wilayah Wairarapa, Pulau Utara, dinyatakan positif terpapar virus tersebut oleh Menteri Keamanan Hayati Andrew Hoggard.
Penemuan ini muncul hanya dua hari setelah otoritas setempat mengonfirmasi kasus H5N1 perdana di negeri itu, yang menimpa sebuah skua cokelat di dekat Wellington pada Rabu (15/7). Keberadaan virus pada predator puncak seperti elang rawa memperlihatkan bahwa patogen tersebut sudah masuk ke rantai makanan lokal dan tidak lagi terbatas pada spesies pendatang.
Hoggard menyatakan bahwa temuan pada burung endemik tersebut memang mengecewakan, tetapi sudah diperkirakan menyusul konfirmasi kasus pertama pekan ini. Elang rawa kerap terbang ke pesisir, terutama saat musim dingin, untuk berburu mangsa. Mereka dapat tertular lewat kegiatan berburu, memakan, atau memakan bangkai burung yang sudah terinfeksi.
Selandia Baru termasuk salah satu wilayah terakhir di dunia yang bebas dari H5N1 di satwa liar sebelum tahun ini. Negara tersebut selama bertahun-tahun menerapkan karantina ketat dan pengawasan biosekuriti kelas dunia guna melindungi keanekaragaman hayati uniknya. Masuknya virus ke burung asli menandai perubahan status risiko yang signifikan bagi konservasi di kepulauan tersebut.
Pekan pertama Juli, Australia juga melaporkan kasus H5N1 pada seekor burung laut lokal. Sebelumnya, seluruh temuan di benua itu hanya melibatkan burung migran yang melintas. Pola penyebaran di Pasifik Selatan ini menunjukkan bahwa virus semakin mapan di belahan bumi selatan dan mulai menjangkau spesies nonmigran.
Bagi Indonesia, berita ini memiliki relevansi tinggi karena negara kita termasuk produsen unggas terbesar di Asia dan memiliki keragaman satwa liar yang tinggi. Meskipun H5N1 subtype 2.1 telah lama bersirkulasi di dalam negeri sejak 2003, strain baru clade 2.3.4.4b yang menyerang Selandia Baru dan Australia belum terdeteksi secara luas di peternakan lokal. Hal itu membuat kewaspadaan perbatasan dan pengawasan satwa liar di Indonesia tetap krusial.
Dampak potensial terhadap sektor peternakan dalam negeri cukup besar. Jika strain dari Pasifik Selatan masuk ke Asia Tenggara lewat jalur migrasi burung, biaya pencegahan dan risiko pemusnahan ternak bisa meningkat tajam. Peternak rakyat yang minim proteksi biosekuriti akan menjadi kelompok paling rentan terhadap guncangan wabah.
Otoritas Selandia Baru menegaskan bahwa belum ada deteksi H5N1 pada unggas domestik hingga saat ini. Pernyataan tersebut penting untuk menenangkan pasar pangan lokal sekaligus membedakan risiko antara satwa liar dan industri ayam atau telur. Pengendalian di tahap satwa liar diharapkan mencegah lonjakan ke sektor pangan.
Upaya mitigasi sudah berjalan. Pejabat kesehatan setempat memulai program vaksinasi untuk 300 ekor burung induk inti dari lima spesies paling terancam punah, termasuk takahe tanpa sayap dan kakapo. Langkah ini merupakan bentuk perlindungan ekstrem terhadap warisan hayati nasional yang tidak dimiliki banyak negara.
“Sementara mengecewakan menemukan burung asli dengan flu burung H5, hal itu tidak tidak terduga menyusul konfirmasi kasus pertama kita pekan ini,” ucap Hoggard dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa elang rawa dapat terpapar melalui aktivitas perburuan alaminya di pesisir selatan.
Ke depan, Selandia Baru diproyeksikan memperluas pengawasan ke seluruh kawasan pesisir dan habitat rawa di Pulau Utara serta Selatan. Penelusuran kontak antarsatwa dan pemantauan kematian mendadak pada burung pemangsa akan menjadi prioritas. Negara lain di Oceania kemungkinan besar akan mengetatkan protokol karantina satwa untuk merespons tren serupa.
Tren penyebaran H5N1 di belahan bumi selatan diperkirakan berlanjut seiring perubahan iklim yang mengubah rute migrasi burung. Indonesia perlu memetakan ulang jalur lintas migrasi di Sumatra dan Sulawesi sebagai langkah antisipasi dini. Kolaborasi laboratorium veteriner regional menjadi kunci sebelum strain eksotik mencapai peternakan domestik.