Jepang menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam pertahanan planetar global setelah misi Hayabusa2 berhasil melakukan flyby presisi terhadap asteroid Torifune pada 5 Juli 2024. Pesawat antariksa yang dikembangkan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) berhasil mendekati asteroid berdiameter sekitar 500 meter tersebut hingga jarak 800 meter saja — performa yang dinilai setara dengan "memukul koin 1-yen di Hokkaido dari Okinawa" menurut Yuya Mimasa, kepala tim misi. Keberhasilan ini bukan sekadar demonstrasi kemampuan navigasi otonom di jarak 100 juta kilometer dari Bumi, melainkan bukti nyata bahwa Jepang memiliki teknologi untuk mengubah orbit asteroid yang berpotensi mengancam planet kita.
Direktur Institute of Space and Astronomical Science JAXA, Masaki Fujimoto, menegaskan pada konferensi pers 6 Juli bahwa misi ini mendemonstrasikan kemampuan Jepang untuk mengubah orbit asteroid yang mengarah ke Bumi. Pernyataan ini mengacu pada teknik kinetic impactor — menabrak asteroid dengan kecepatan tinggi untuk menggeser jalurnya — yang sebelumnya telah dibuktikan efektif oleh misi DART NASA pada September 2022 saat berhasil mengubah orbit Dimorphos, bulan asteroid Didymos. Bedanya, Hayabusa2 tidak melakukan impactor melainkan flyby observasi presisi yang menguji kemampuan rendezvous dan karakterisasi target — langkah krusial sebelum aksi defleksi nyata.
Hayabusa2, yang berarti "Elang Peregrine 2", memiliki pedigree luar biasa. Peluncurannya pada Desember 2014 dari Tanegashima Space Center menandai awal misi pengambilan sampel asteroid Ryugu yang berakhir sukses dengan kembalinya kapsul sampel ke Bumi pada Desember 2020. Namun misi tidak berakhir di sana. JAXA memanfaatkan sisa bahan bakar dan kesehatan spacecraft yang prima untuk misi perluasan: Hayabusa2 Extended Mission. Setelah flyby Torifune, spacecraft ini dijadwalkan menuju asteroid 1998 KY26 pada Juli 2031 — perjalanan yang akan menguji kemampuan navigasi jangka sangat panjang dan operasi di lingkungan radiasi matahari yang ekstrem.
Penting untuk memahami konteks strategis di balik demonstrasi teknologi ini. Asteroid near-Earth object (NEO) berukuran 140 meter ke atas — kategori yang mencakup Torifune — memiliki energi impak setara ratusan megaton TNT, cukup menghancurkan kota besar dan menyebabkan efek iklim global. NASA mengestimasi sekitar 25.000 NEO ukuran ini ada di tata surya, namun baru 40% terdeteksi. Misi seperti Hayabusa2 Extended Mission dan NEO Surveyor NASA (peluncuran 2027) saling melengkapi: yang satu fokus pada deteksi dini, yang lain pada validasi teknologi intervensi. Jepang melalui JAXA kini terbukti mampu berkontribusi pada pilar kedua.
Kolaborasi internasional menjadi kunci. JAXA dan NASA telah lama berbagi data observasi asteroid melalui International Asteroid Warning Network (IAWN) dan Space Mission Planning Advisory Group (SMPAG). Data flyby Torifune — termasuk komposisi permukaan, rotasi, dan properti termal — akan dibagikan ke komunitas global untuk memperkaya database model defleksi. Fujimoto menyebut ini sebagai "goodwill science" — sains yang membangun kepercayaan dan kapabilitas kolektif. Dalam konteks geopolitik ruang angkasa yang semakin kompetitif, pendekatan kolaboratif Jepang menawarkan model alternatif yang mengutamakan keamanan kolektif di atas dominasi militer.
Dari perspektif teknologi, flyby 800 meter ini menguji sistem navigasi optik otonom (ONC) dan sistem propulsi ion μ10 yang telah diperbaiki. Kemampuan spacecraft mengeksekusi manuver presisi dengan latensi sinyal 11 menit per arah (22 menit round-trip) membuktikan matangnya kecerdasan buatan onboard dan daya tahan sistem di ruang angkasa dalam. Teknologi ini langsung aplikabel pada misi defleksi masa depan di mana keputusan detik-detik harus diambil tanpa intervensi bumi. Jepang juga mengembangkan teknologi impactor terpisah melalui misi DESTINY+ ke asteroid Phaethon (peluncuran 2028), yang akan melengkapi portofolio pertahanan planetar mereka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan secara ganda. Pertama, sebagai negara kepulauan dengan kerentanan terhadap tsunami, pemahaman ancaman impak asteroid di samudra — yang dapat memicu gelombang raksasa — memiliki urgensi khusus. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Aeronautika dan Ruang Angkasa telah mulai mengembangkan program observasi NEO. Kedua, kemitraan dengan JAXA dalam program Kibo-ABC dan misi satelit mikro telah membuka jalur transfer pengetahuan. Keberhasilan Hayabusa2 memperkuat proposisi nilai kolaborasi ruang angkasa dengan Jepang bagi bangsa-bangsa berkembang.
Masa depan pertahanan planetar akan ditentukan oleh integrasi tiga pilar: deteksi dini (NEO Surveyor, Rubin Observatory), karakterisasi target (Hayabusa2, OSIRIS-APEX, Hera), dan validasi defleksi (DART, misi impactor Cina yang direncanakan 2027). Jepang melalui Hayabusa2 Extended Mission telah membuktikan keunggulan di pilar kedua. Langkah selanjutnya yang logis adalah demonstrasi impactor skala penuh — mungkin melalui kolaborasi trilateral Jepang-AS-Eropa — untuk melengkapi rantai pertahanan. Sejarah ruang angkasa menunjukkan kemajuan terbesar terjadi ketika persaingan ilmiah beralih menjadi kolaborasi keamanan kolektif. Hayabusa2 menunjukan jalan tersebut.