Internasional

HPI Kalbar dan Sarawak Tour Guide Association Teken Kemitraan Strategis untuk Diplomasi Wisata Borneo

Ringkasan

  • DPD HPI Kalbar dan SkTGA Sarawak gelar pertemuan perdana di Kuching untuk membangun kerjasama strategis diplomasi wisata lintas batas Borneo, fokus pada standar profesi, paket terintegrasi, dan advokasi kebijakan bilateral.

Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Kalimantan Barat dan Sarawak Tour Guide Association (SkTGA) secara resmi menggelar pertemuan bilateral perdana di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada akhir pekan lalu. Pertemuan ini menandai tonggak sejarah dalam formalisasi hubungan kerja sama profesi pramuwisata di Pulau Borneo, yang selama ini berjalan secara informal meskipun didukung kedekatan geografis dan kesamaan warisan budaya yang kaya. Kehadiran 26 pengurus dan anggota aktif SkTGA yang menyambut delegasi Kalbar dipimpin Ketua DPD HPI Kalbar Fahroollyadi menunjukkan komitmen serius kedua pihak untuk mengubah potensi menjadi aksi nyata.

Dalam konteks yang lebih luas, kolaborasi ini selaras dengan semangat Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang mengusung pilar konektivitas dan gerakan orang. Kalimantan Barat dan Sarawak berbagi perbatasan darat panjang dengan gerbang utama di Entikong-Tebedu, namun aliran wisatawan lintas batas belum optimal karena minimnya paket terintegrasi dan standar pelayanan yang tersinkronisasi. Pertemuan ini bertujuan mengisi kekosongan institusional tersebut dengan menciptakan kerangka kerja yang mengikat bagi pelaku industri di tingkat akar rumput.

Selama dua jam diskusi intensif, agenda strategis meliputi harmonisasi standar kompetensi dan sertifikasi pramuwisata, perlindungan hukum profesi, kode etik kepemanduan, hingga penanganan tantangan spesifik seperti musiman rendah dan kesejahteraan pemandu. Kedua organisasi juga melakukan *benchmarking* saling terkait tata kelola organisasi dan program pengembangan SDM yang telah berjalan. Fahroollyadi menegaskan bahwa kedekatan geografis bukan hanya soal jarak, tetapi modal untuk membangun ekosistem wisata Borneo yang *seamless*, di mana pramuwisata menjadi *frontliner* utama dalam menciptakan pengalaman berkualitas bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Langkah konkret yang dijajaki mencakup program pertukaran informasi real-time mengenai kondisi destinasi, pelatihan bersama (*joint training*) untuk menyamakan standar interpretasi budaya dan alam, serta pengembangan paket wisata lintas batas terintegrasi. Misalnya, paket gabungan *city tour* Pontianak-Kuching, wisata budaya Dayak-Iban, hingga *ecotourism* di Taman Nasional Gunung Palung dan Bako. Inisiatif ini diproyeksikan mampu menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat perbatasan, mulai dari penginapan *homestay*, kuliner, hingga kerajinan tangan, sekaligus memperkuat daya saing destinasi Borneo di peta wisata global.

Diplomasi wisata *people-to-people* ini memiliki bobot strategis melebihi sekadar promosi destinasi. Pramuwisata bertindak sebagai duta budaya non-resmi yang mampu memecah stereotip dan membangun kepercayaan antar bangsa. Dengan adanya forum komunikasi berkelanjutan yang disepakati, isu-isu teknis seperti pengakuan mutual sertifikasi (*mutual recognition arrangement*), kebijakan visa bebas kunjungan khusus wisatawan perbatasan, dan konektivitas transportasi darat/udara dapat diadvokasikan secara terstruktur ke kedua pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Kreatif Ekonomi serta *Ministry of Tourism, Arts and Culture Sarawak*.

Tantangan di depan memang tidak ringan. Perbedaan regulasi ketenagakerjaan, standar kurikulum pendidikan pariwisata, serta infrastruktur digital promosi yang terfragmentasi menjadi *homework* berat. Namun, kehadiran asosiasi profesional sebagai *intermediary* memungkinkan *bottom-up approach* yang lebih responsif dibandingkan kebijakan *top-down* murni. Model kerjasama HPI Kalbar-SkTGA ini berpotensi menjadi *pilot project* yang dapat direplikasi di wilayah perbatasan lain seperti Nunukan-Tawau (Kalimantan Utara-Sabah) atau Batam-Tanjung Pinang-Bintan menuju Singapura.

Apresiasi timbal balik yang disampaikan Fahroollyadi kepada pengurus SkTGA mencerminkan diplomasi kelembagaan yang matang. Bukan hanya *MoU* kering, tetapi komitmen untuk membangun *trust capital* jangka panjang. Keberhasilan inisiatif ini akan diuji pada eksekusi program kerja tahunan yang akan disusun bersama, termasuk jadwal pelatihan bertahap dan partisipasi bersama di pameran pariwisata internasional seperti ITB Berlin atau WTM London di bawah bendera "Visit Borneo".

Secara keseluruhan, pertemuan perdana ini menginisiasi era baru diplomasi pariwisata Indonesia-Malaysia di Borneo yang berlandaskan profesionalisme, keberlanjutan, dan keadilan ekonomi bagi pelaku industri skala kecil. Jika dikelola dengan konsisten, sinergi HPI Kalbar dan SkTGA akan menjadi katalisator transformasi wisata perbatasan dari sekadar transit singkat menjadi destinasi *multi-destination* yang kompetitif di era pasca-pandemi.

Mengapa Ini Penting

Inisiatif ini menciptakan kerangka institusional *bottom-up* yang krusial untuk mengatasi fragmentasi regulasi dan standar profesi di wilayah perbatasan, area yang sering terabaikan kebijakan pusat. Bagi industri teknologi pariwisata, harmonisasi data pramuwisata dan paket wisata lintas batas membuka peluang pengembangan platform *booking* terintegrasi dan sistem verifikasi kredensial digital *cross-border*. Keberhasihan model HPI Kalbar-SkTGA akan menjadi *benchmark* untuk kerjasama serupa di ASEAN, mempercepat realisasi konektivitas orang sebagai pilar BIMP-EAGA dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di kawasan perbatasan yang historisnya marginal.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit