Pemerintah Kota Jakarta Barat mulai menata Hutan Kota Srengseng untuk dijadikan sebagai lokasi percontohan pemilahan sampah sekaligus sarana edukasi lingkungan hidup. Langkah ini diambil menyusul peninjauan langsung yang dilakukan Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah pada hari Rabu kemarin.
Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Sudin Tamhut) Jakarta Barat mendapat arahan khusus untuk merealisasikan rencana tersebut. Kepala Sudin Tamhut Jakbar, Dirja Kusuma, menyebut bahwa penataan akan menyentuh sejumlah aspek, termasuk perbaikan lokasi pembuatan kompos agar lebih tertata rapi dan fungsional bagi pengunjung.
Hutan Kota Srengseng berada di kawasan Kalam H Kelik, RT 08/RW 08, Srengseng, Kembangan. Kawasan seluas 15,3 hektare ini merupakan salah satu ruang terbuka hijau (RTH) strategis di DKI Jakarta yang menyuguhkan oase sejuk di tengah padatnya ibu kota.
Masalah sampah masih menjadi tantangan kronis bagi Jakarta. Berdasarkan data historis, ibu kota menghasilkan volume sampah harian yang sangat masif, dan dominasi limbah organik kerap terbuang sia-sia karena tidak dipilah. Kehadiran model pemilahan sampah di ruang publik seperti Hutan Kota Srengseng menjadi langkah mitigasi yang sangat relevan untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sejak dari hulu. Integrasi kompos dan sumur resapan juga sejalan dengan upaya penanggulangan banjir rob dan genangan di wilayah Jakarta Barat yang padat permukiman.
Selain penataan fisik, Pemerintah Kota Jakbar juga menekankan keterlibatan warga melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Hutan Kota Srengseng. Masyarakat diajak menanam sereh yang nantinya dapat dipanen dan diolah menjadi minuman segar. Pendekatan ini tidak hanya mendukung daur ulang organik, tetapi juga membuka peluang ekonomi mikro berbasis komunitas lokal.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga perkotaan, inisiatif ini menunjukkan bahwa taman kota tak sekadar ruang rekreasi pasif. Konsep pengelolaan limbah terintegrasi di RTH berpotensi menjadi cetak biru bagi taman-taman lain di berbagai daerah yang kerap kewalahan mengelola sampah pengunjung. Mengubah perilaku masyarakat melalui edukasi langsung di ruang terbuka terbukti lebih efektif daripada sekadar sosialisasi tertutup. Jika kesadaran pilah sampah tumbuh dari ruang rekreasi keluarga, efek dominonya akan terasa hingga ke tingkat rumah tangga.
Di sisi lain, Hutan Kota Srengseng sudah memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan taman kota konvensional. Di dalamnya terdapat amphitheater atau panggung terbuka yang digunakan untuk pertunjukan seni dan budaya masyarakat Betawi. Rencananya, Wakil Gubernur DKI Jakarta akan meninjau langsung destinasi ini untuk melihat penerapan konsep yang bisa direplikasi.
Kawasan ini juga dikelola dengan prinsip konservasi yang cukup baik. Terdapat lebih dari 10.000 pohon dengan 60 spesies berbeda yang menciptakan udara segar serta mendukung keberlangsungan habitat, termasuk populasi lebah trigona penghasil madu lokal. Kebersihan yang terjaga melalui sistem pemilahan sampah akan meminimalisir polusi visual dan bau, sehingga ekosistem mikro di dalam hutan kota tersebut tetap stabil bagi satwa penyerbuk.
"Bu Wali meminta kawasan Hutan Kota Srengseng bisa menjadi percontohan gerakan pemilahan sampah, bisa juga menjadi sarana edukasi buat masyarakat. Tapi, Bu Wali minta agar lokasi pembuatan komposting dibenahi biar lebih tertata," ucap Dirja saat dikonfirmasi di Jakarta.
Dirja menambahkan, pihaknya juga diminta untuk membuat sumur resapan komposting. Fasilitas ini akan memperkuat sistem resapan air sekaligus mengolah sampah organik secara langsung di lokasi. Pengelola juga telah menyediakan jalur joging serta papan informasi pada setiap pohon untuk edukasi flora dan fauna bagi anak-anak.
Ke depan, kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan masyarakat melalui KTH diproyeksikan mampu mengubah wajah Hutan Kota Srengseng. Jika berjalan optimal, konsep ini tidak menutup kemungkinan diadopsi di RTH lain di Jakarta maupun luar pulau Jawa.
Tren penataan ruang hijau berbasis komunitas dan ramah lingkungan memang tengah naik daun di Asia Tenggara. Sinergi antara pelestarian alam, pengelolaan sampah, dan pemberdayaan ekonomi warga adalah kunci tata kota masa depan yang berkelanjutan.