Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja positif pada penutupan perdagangan Kamis sore. Indeks ditutup menguat sebesar 49,44 poin atau 0,87 persen ke level 5.744,56. Penguatan ini juga tercermin pada indeks LQ45 yang naik 8,74 poin atau 1,57 persen ke posisi 565,49, menunjukkan minat beli yang kuat pada saham-saham unggulan.
Sentimen positif ini dipicu oleh optimisme pasar global terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Para pelaku pasar kini mencermati proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar. Kemajuan dalam pembicaraan diplomatik ini dinilai menjadi katalis utama bagi stabilitas pasar keuangan regional Asia yang mayoritas bergerak di zona hijau.
Salah satu indikator pemulihan kondisi geopolitik terlihat dari harga minyak dunia yang cenderung melandai mendekati level sebelum konflik. Pemulihan arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz memberikan keyakinan kepada investor bahwa gangguan pasokan energi global dapat dihindari. Kondisi ini secara langsung meredakan kekhawatiran inflasi yang sempat membayangi pasar modal.
Dari sisi kebijakan moneter, investor saat ini tengah memantau arah kebijakan The Fed terkait suku bunga acuan. Meskipun terdapat diskusi mengenai potensi kenaikan suku bunga di masa depan, pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menyebutkan bahwa ekspektasi inflasi telah mereda dalam sebulan terakhir, memberikan angin segar bagi pasar. Hal ini mengindikasikan adanya ruang bagi otoritas moneter untuk lebih berhati-hati dalam penyesuaian kebijakan.
Di dalam negeri, penurunan harga minyak global memberikan dampak positif bagi kesehatan fiskal nasional. Berkurangnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) diharapkan dapat memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran. Selain itu, penurunan biaya energi akan berdampak langsung pada sektor transportasi, logistik, dan manufaktur, yang pada akhirnya dapat menekan laju inflasi domestik.
Efisiensi biaya di berbagai sektor strategis ini memberikan fleksibilitas tambahan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan. Dengan tekanan inflasi yang lebih terkendali, pasar berharap BI dapat mempertahankan atau bahkan menyesuaikan suku bunga untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global.