Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara resmi menawarkan kolaborasi strategis dalam elektrifikasi alat berat kepada Belarus. Tawaran ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan Forum Bisnis Indonesia-Belarus dan Business Matching di Jakarta, sebagai upaya mempererat hubungan ekonomi antar kedua negara.
Belarus dikenal dunia sebagai produsen alat berat skala besar yang memiliki reputasi mumpuni. Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa ketersediaan baterai penyimpanan energi (battery storage) yang dapat diintegrasikan ke dalam lini produksi alat berat asal Belarus tersebut.
Menurut Airlangga, terdapat perbedaan spesifikasi teknis antara alat berat yang diproduksi Belarus dengan kapasitas yang umum digunakan di Indonesia. Alat berat dari Belarus rata-rata memiliki bobot mencapai 200 ton, sementara rata-rata kapasitas alat berat yang beroperasi di Indonesia saat ini berada di kisaran 100 ton. Perbedaan ini menjadi peluang untuk melakukan penyesuaian teknologi bersama.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi nikel yang sedang digenjot oleh pemerintah Indonesia. Dengan mendorong penggunaan tenaga listrik pada alat-alat pertambangan, Indonesia berharap dapat menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti solar dan bensin, sekaligus menekan jejak karbon di sektor industri.
Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan bilateral antara Belarus dan Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, terutama dalam sektor bisnis dan manufaktur. Beberapa dokumen kerja sama telah ditandatangani untuk memperkuat fondasi ekonomi kedua negara.
Selain sektor elektrifikasi, kedua negara juga telah menyepakati peta jalan (roadmap) pengembangan kerja sama ekonomi untuk periode 2026-2030. Sinergi ini diharapkan mampu membuka peluang investasi baru, memperluas akses pasar, dan memperdalam transfer teknologi antara pelaku industri Indonesia dan Belarus di masa depan.