Internasional

Infantino Hadapi Kaburuhan Skandal, Datang ke Turnamen U-14 di Karibia

Ringkasan

  • Presiden FIFA Gianni Infantino hadir di turnamen U-14 di Karibia meski diminta tidak datang oleh wakilnya sendiri, sementara krisis tata kelola akibat rencana jual keuntungan World Cup menciptakan ketegangan dalam organisasi.

Presiden FIFA Gianni Infantino tetap hadir pada acara bola mudanya di Karibia meskipun diminta untuk tidak datang oleh salah seorang wakil presidennya. Ini terjadi di tengah krisis tata kelola yang melanda organisasi sepak bola dunia akibat rencana jual keuntungan World Cup kepada investor swasta.

Infantino membagikan foto-foto di akun Instagramnya pada Sabtu, menunjukkan pertemuan dengan pejabat politik dan sepak bola dari Republik Dominika di pinggir turnamen Caribbean Football Union (CFU) untuk usia di bawah 14 tahun di resor Punta Cana.

Sebelumnya, Victor Montagliani, presiden CONCACAF asal Kanada, meminta Infantino agar tidak mengikuti acara tersebut agar tidak mengalihkan perhatian dari kompetisi teknis pemuda. Dalam suratnya yang dilihat oleh Associated Press, Montagliani menyampaikan keprihatinannya agar kegiatan teknis turnamen tidak terganggu oleh kontroversi.

FIFA enggan memberikan komentar terkait permintaan Montagliani, meski menegaskan dukungan langsung terhadap organisasi regional seperti CFU melalui dana hingga USD 5 juta per siklus empat tahun World Cup.

Tension intern dalam FIFA semakin membesar setelah tudingan penipuan terhadap rencana spin-off komersial bernilai miliaran dolar. Infantino dikaitkan dengan rencana mendirikan entitas bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), di mana 20 persen kepemilikannya dimiliki oleh kelompok investor termasuk Joshua Kushner, saudara kandung Jared Kushner.

Kritik terhadap rencana tersebut mencapai puncaknya ketika Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, menyatakan kekecewaannya secara terbuka. Lamour kemudian dipecat minggu lalu.

Infantino menarik rencana jualan tersebut pada 1 Agustus setelah menghadapi penolakan luas dari para pemimpin sepak bola dan penggemar di seluruh dunia.

Sejak pengungkapan rencana FFE oleh The Times pada 28 Juli lalu, Infantino tidak pernah memberikan wawancara tekan sekaligus. Di Punta Cana, ia menghindari pertanyaan dari reporter Sky News.

Saat ditanya soal dugaan pengkhianatan terhadap sepak bola dan apakah ia harus mengundurkan diri, Infantino menjawab dengan ceria dan bercanda tentang kedua orang yang goyang kepalanya.

Infantino sedang bersiap untuk meraih kemenangan dalam pemilihan kembali pada Maret 2026 di Rabat, Maroko. FIFA telah menetapkan batas akhir 18 November untuk pendaftaran calon presiden baru.

Beberapa federasi sepak bola Karibia dianggap potensial mendukung Infantino dan memisahkan diri dari kepemimpinan CONCACAF. Sementara itu, CONMEBOL dari Amerika Selatan telah mendukung kuat Infantino sebagai jalannya menuju penyelenggaraan laga tambahan dalam World Cup 2030 yang ingin diperluas hingga 64 tim.

Krisis ini menyoroti dinamika politik yang rumit di dalam FIFA, terutama antara FIG dan UEFA serta AFC. Tiga wakil presiden termasuk Aleksander Ceferin dan Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa menuntut akhir dari gaya eksekutif Infantino yang sudah bertahan sejak 2015.

Dari sudut pandang Indonesia, krisis ini memberi pelajaran penting tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi besar. Sepak bola nasional Indonesia sendiripe tidak luntur dari isu korupsi dan konflik kepentuaan, meski tidak sebesar skala internasional.

Namun, keterlibatan pemuda melalui turnamen seperti ini justru menjadi asa utama perkembangan sepak bola global. Jika krisis tata kelola terus berlanjut, dampacnya bisa menghambat dukungan teknis dan keuangan kepada negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Infantino tetap fokus pada kampanye kemenangan meski menghadapi kritik terbuka dari internalnya sendiri. Ia mengandalkan dukungan dari federasi-federasi kecil dan regional untuk melawan oposisi dari blok besar seperti UEFA dan AFC.

Mengapa Ini Penting

Krisis tata kelola di FIFA ini memberi pelajaran bagi Indonesia tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi besar. Jika kondisi serupa terjadi di PSSI, dukungan teknis dan keuangan dari dunia internasional—yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan sepak bola nasional—bisa terancam. Sementara itu, fokus pada perkembangan pemuda melalui turnamen semestarnya menjadi simbol harapan, namun krisis internal justru mengalihkan sorotan dari visi utama organisasi.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
23 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit