Bagi banyak pengguna ponsel pintar, fitur pembatas durasi layar (screen time) seringkali menjadi solusi yang tidak efektif. Meski sudah diatur untuk membatasi penggunaan media sosial selama 30 menit per hari, banyak pengguna yang dengan mudah mengabaikan notifikasi tersebut dan terus terjebak dalam aktivitas scroll yang tidak ada habisnya. Menyadari tantangan disiplin diri ini, sebuah inovasi unik bernama Brick hadir untuk memberikan solusi berbasis fisik.
Brick adalah perangkat mungil seukuran kotak korek api yang memanfaatkan teknologi NFC untuk mengontrol akses aplikasi pada ponsel. Berbeda dengan aplikasi perangkat lunak yang mudah dilewati, Brick memaksa pengguna untuk melakukan tindakan fisik. Pengguna harus menempelkan ponsel mereka ke perangkat Brick untuk membuka kunci aplikasi yang sebelumnya telah dibatasi. Langkah fisik ini menciptakan hambatan atau 'friction' yang efektif untuk mencegah perilaku impulsif.
Co-founder Brick, Zach Nasgowitz, mengungkapkan bahwa produk ini lahir dari kebutuhan nyata karena ponsel mulai mengganggu kualitas hidup penggunanya. Setelah mencari berbagai solusi namun tidak menemukan yang tepat, tim mereka memutuskan untuk membangun perangkat yang secara fisik membatasi interaksi digital. Pendekatan ini terbukti lebih efektif karena memaksa pengguna untuk sengaja beranjak dari posisi mereka jika ingin mengakses konten tertentu.
Pengalaman pengguna menunjukkan bahwa Brick sangat membantu dalam memperbaiki kebersihan tidur. Banyak orang terjebak dalam kebiasaan buruk bermain ponsel sebelum tidur atau segera setelah bangun, yang berdampak pada kualitas istirahat. Dengan mengatur mode tidur pada aplikasi pendamping, ponsel akan otomatis memblokir aplikasi non-esensial pada jam tertentu. Pengguna tidak akan bisa mengakses aplikasi tersebut kecuali mereka harus bangun dari tempat tidur dan menempelkan ponsel ke perangkat Brick yang diletakkan di ruangan lain.
Meskipun harga perangkat ini mencapai 59 dolar AS, efektivitasnya dalam mengubah gaya hidup digital menjadikannya investasi yang layak bagi mereka yang kesulitan mengendalikan diri. Bagi pengguna yang lebih teknis, konsep ini sebenarnya bisa direplikasi secara mandiri menggunakan tag NFC biasa dan fitur pintasan otomatis (shortcuts) di ponsel. Namun, bagi pengguna awam, perangkat fisik ini menawarkan kenyamanan dan dedikasi yang lebih terukur.
Co-founder lainnya, TJ Driver, menegaskan bahwa solusi berbasis perangkat lunak murni seperti fitur Screen Time bawaan ponsel terlalu mudah untuk diakali. Kunci keberhasilan dalam mengurangi kecanduan digital adalah dengan menambahkan hambatan fisik yang nyata. Dengan Brick, batas antara dunia digital dan aktivitas fisik kembali ditegakkan, membantu pengguna untuk lebih sadar dalam menggunakan teknologi dan memprioritaskan kesehatan mental mereka.