Pemerintah Iran secara resmi mengecam pernyataan bersama yang dirilis oleh Amerika Serikat dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebagai tindakan yang bersifat intervensionis, tidak bertanggung jawab, dan provokatif. Ketegangan ini memuncak pasca pertemuan tingkat menteri yang diselenggarakan di Bahrain pada 25 Juni lalu. Teheran menuduh Washington dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk menggunakan diplomasi sebagai instrumen untuk menekan Iran setelah konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran baru-baru ini.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat lalu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa komunike tersebut telah mendistorsi realitas regional. Iran menilai pernyataan itu merupakan pengulangan dari posisi Amerika Serikat dan Israel terkait program nuklir Iran, pengembangan kemampuan rudal, serta dukungan Teheran terhadap sekutu-sekutunya di kawasan. Iran berpendapat bahwa narasi yang dibangun dalam pertemuan tersebut tidak mencerminkan situasi geopolitik yang sebenarnya di lapangan.
Pertemuan di Manama yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani melibatkan berbagai perwakilan negara Teluk, termasuk Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Meskipun para menteri menyambut baik nota kesepahaman antara Washington dan Teheran, mereka memberikan syarat ketat terkait kerja sama ekonomi di masa depan dengan Iran.
Dalam poin-poin kesepakatannya, forum tersebut menyatakan bahwa perdagangan dan investasi dengan Iran bersifat kondisional dan dapat dibatalkan sewaktu-waktu. Mereka juga menegaskan kembali komitmen bersama untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Selain itu, pernyataan tersebut menyinggung isu kebebasan navigasi di Selat Hormuz, di mana mereka menolak segala bentuk upaya kontrol sepihak yang dapat mengganggu arus pelayaran internasional.
Terkait kondisi di Lebanon, pernyataan tersebut menyoroti peran kelompok bersenjata non-negara, yang merujuk pada kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Para menteri mendesak agar dilakukan perlucutan senjata penuh terhadap kelompok-kelompok tersebut guna memulihkan kedaulatan penuh negara Lebanon. Mereka juga mendukung negosiasi bilateral antara Israel dan Lebanon yang difasilitasi oleh Amerika Serikat demi mencapai perdamaian jangka panjang.
Sebagai respons, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa AS dan Israel telah menciptakan tuduhan palsu terkait program nuklir damai mereka. Teheran mendesak negara-negara GCC untuk lebih memilih jalur dialog regional yang konstruktif dengan Iran daripada mengikuti agenda yang didikte oleh kekuatan luar. Iran tetap berpendapat bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui kerja sama internal tanpa campur tangan asing yang provokatif.