Korps Garda Revolusi Islami (IRGC) Iran mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan militer berskala besar menargetkan aset strategis Amerika Serikat di Teluk Persia, menandakan eskalasi signifikan dalam konfrontasi yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan melalui media Sepah News pada hari Minggu, IRGC mengonfirmasi eksekusi fase ketiga balasan terhadap apa yang mereka sebut agresi terbaru AS, dengan sasaran utama berupa pusat dukungan logistik dan platform pengisian bahan bakar kapal induk AS di Pelabuhan Duqm, Oman.
Menurut keterangan Angkatan Udara IRGC, operasi yang digambarkan sebagai "serangan berat dan mengejutkan" tersebut dilancarkan menggunakan rudal presisi dan drone kamikaze yang menembus sistem pertahanan udara lawan. Pelabuhan Duqm, yang terletak di pantai selatan Oman menghadap Laut Arab, telah lama menjadi hub logistik vital bagi Angkatan Laut AS Flotilla Kelima dan mitra sekutunya, termasuk sebagai titik pengisian bahan bakar dan perbaikan untuk grup pertempuran kapal induk kelas Nimitz yang beroperasi di wilayah tersebut. Serangan ini secara efektif melumpuhkan kapasitas proyeksi kekuatan maritim AS di barat Teluk Persia.
Serangan di Oman tidak berdiri sendirian. IRGC juga mengklaim keberhasilan fase kedua balasan yang dilaksanakan beberapa jam sebelumnya, yakni serangan rudal balistik menargetkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar — basis udara AS terbesar di Timur Tengah. Menurut pernyataan Departemen Hubungan Masyarakat IRGC, rudal-rudal tersebut berhasil menghantam markas pusat perbaikan dan perawatan pesawat tempur serta fasilitas kendali operasi, menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur yang mendukung keuperasian udara AS di wilayah ini. Al Udeid merupakan rumah bagi lebih dari 10.000 personel militer AS dan menjadi pusat komando Operasi Inherent Resolve serta hub intel CENTCOM.
Konteks eskalasi ini bermula dari penutupan kembali Selat Hormuz oleh Angkatan Laut IRGC beberapa hari lalu, sebuah tindakan retorsif atas sanksi minyak ketat dan interopsiasi kapal tanker Iran oleh Barat. Respons AS berupa serangan presisi ke markas militer Iran di pesisir selatan, yang menewaskan sejumlah komandan IRGC, memicu siklus balas dendam yang kini meluas ke wilayah Oman dan Qatar — dua negara netral yang selama ini berusaha memainkan peran mediasi. Oman, yang memiliki hubungan diplomatik baik dengan Teheran dan Washington, kini terpaksa menghadapi realitas wilayahnya menjadi medan perang proksi.
Analis militer memperhatikan pergantian doktrin IRGC dari "perang asimetris" menuju "serangan presisi jarak jauh" yang menargetkan jaringan logistik lawan, bukan hanya kentangan lunak. Penggunaan rudal hipersonik tipe Fattah dan Kheibar Shekan dalam serangan Al Udeid, jika terbukti, menandakan kemampuan Iran menembus sistem pertahanan THAAD dan Patriot yang dipasangkan AS di Qatar. Hal ini mengubah kalkulasi keamanan seluruh negara Teluk yang bergantung pada payung nuklir dan konvensional AS.
Reaksi internasional cepat berdatangan. Kementerian Luar Negeri Oman mengeluarkan pernyataan keras menolak penggunaan wilayahnya sebagai arena konflik, sambil memanggil duta AS dan Iran untuk penjelasan. Qatar, yang baru-baru ini memfasilitasi negosiasi gaza, mengekspresikan kekhawatiran mendalam atas keamanan personel AS dan warga negara mereka di Al Udeid. Pakistan, melalui Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, menyerukan deeskalasi segera dan menawarkan peran mediasi, mengingat Islamabad memiliki saluran komunikasi terbuka dengan kedua belah pihak.
Di dalam negeri Iran, narasi perang dikemas sebagai jihad suci. Pernyataan IRGC sengaja dikaitkan dengan prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei — meskipun pemimpin tertinggi Iran masih hidup, merujuk pada simulasi atau figur simbolik — yang dihadiri "puluhan juta rakyat" sebagai bukti kesatuan nasional. Kutipan ayat Al-Quran "Kemenangan hanyalah milik Allah semata" digunakan untuk melegitimasi tindakan militer di mata basis pendukung keras rezim, sekaligus mengirim sinyal psikologis ke lawan bahwa Iran siap mengorbankan segalanya.
Implikasi jangka panjang sangat mengkhawatirkan. Jika siklus balas dendam ini berlanjut, Selat Hormuz — di mana 20% pasokan minyak dunia lewat — berisiko tertutup total, memicu krisis energi global. Harga minyak Brent telah melonjak 12% dalam 48 jam terakhir. Bagi Indonesia, sebagai negara impor neto minyak dan gas, eskalasi ini berdampak langsung pada inflasi impor, defisit neraca perdagangan, dan tekanan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu menyiapkan skenario darurat diversifikasi pasokan energi dan lindung nilai tukar.